Jakarta, CNBC Indonesia - China memainkan langkah hati-hati dalam menghadapi konflik yang terjadi antara blok Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Di balik upaya diplomasi yang terlihat aktif dengan Teheran, Beijing juga tengah mempersiapkan pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bulan depan, sebuah agenda yang ikut membentuk sikap China dalam perang tersebut.
Para analis menilai pendekatan China terhadap perang Iran tidak bisa dilepaskan dari kepentingan strategis yang lebih luas, terutama sebagai importir minyak mentah terbesar dunia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Separuh kebutuhan energinya berasal dari kawasan tersebut, sehingga stabilitas menjadi kepentingan utama Beijing.
Langkah China yang terukur ini bahkan diakui oleh Washington. Trump disebut memberikan kredit kepada Beijing karena membantu mendorong Iran untuk hadir dalam pembicaraan damai yang digelar di Pakistan akhir pekan lalu.
- Ramai-Ramai Negara Arab Rugi Bandar, Boncos Rp 986 T
- Eropa di Ujung Tanduk, "Kiamat" Penerbangan di Depan Mata
- Raksasa Nuklir NATO Kumpulkan 40 Negara Bahas Hormuz, AS Tak Diajak
"Anda telah mendengar Presiden Trump berulang kali menyebut bagaimana pihak China berbicara dengan Iran," kata Eric Olander, pemimpin redaksi China-Global South Project, dilansir Reuters, Jumat (17/4/2026). "Hal itu menempatkan mereka di ruang negosiasi, bahkan jika bukan di meja utama."
Di sisi lain, sumber yang mengetahui pemikiran pemerintah China menyebut bahwa Beijing juga memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan lain, termasuk isu perdagangan dan Taiwan, menjelang pertemuan Xi-Trump.
Trump dinilai sebagai sosok yang "transaksional dan mudah dipengaruhi pujian," sehingga China disebut ingin "memberinya sambutan karpet merah dan menjaga stabilitas strategis".
Sementara itu, di tengah meningkatnya tekanan, termasuk blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, China meningkatkan aktivitas diplomatiknya. Namun, Beijing juga sengaja menahan diri untuk tidak melontarkan kritik keras terhadap langkah militer Washington, demi menjaga kelancaran pertemuan dengan Trump yang sempat tertunda akibat konflik ini.
Xi juga angkat bicara pada Selasa dengan menyampaikan rencana perdamaian empat poin. Rencana tersebut menekankan pentingnya koeksistensi damai, kedaulatan negara, supremasi hukum internasional, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan.
Namun, ketika Trump memperingatkan bahwa "seluruh negara bisa dihancurkan dalam satu malam", China tetap berhati-hati. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning hanya menyatakan bahwa Beijing "sangat prihatin" dan mendesak semua pihak untuk memainkan "peran konstruktif dalam meredakan situasi."
Upaya diplomasi China juga terlihat dari intensitas komunikasi pejabatnya. Menteri Luar Negeri Wang Yi tercatat telah melakukan hampir 30 panggilan dan pertemuan dengan mitra internasional untuk mendorong gencatan senjata. Sementara utusan khusus Zhai Jun melakukan tur ke lima ibu kota negara Teluk dan Arab.
Dalam salah satu perjalanannya, Zhai bahkan harus menempuh jalur darat untuk menghindari wilayah udara yang diperebutkan. Ia mengaku sempat mendengar sirene serangan udara selama perjalanan tersebut.
Xi sendiri menyampaikan rencana damai itu saat bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, sebuah langkah yang juga menunjukkan upaya China mempererat hubungan dengan pihak lain di kawasan, termasuk rival Iran, sembari tetap mendorong Teheran menuju dialog.
Meski terlihat aktif, sejumlah analis menilai ruang pengaruh China tetap terbatas. Beijing memang berperan dalam mendorong Iran ke meja perundingan, tetapi tidak memiliki kehadiran militer di Timur Tengah yang dapat memperkuat tekanan diplomatiknya.
Profesor hubungan internasional Universitas Renmin, Cui Shoujun, mengatakan bahwa "rasa urgensi dan mode intervensi pada tingkat taktis China sedang berubah" seiring konflik yang berlarut sejak dimulai pada 28 Februari.
Namun, menurut Drew Thompson dari S. Rajaratnam School of International Studies, posisi China tetap menguntungkan.
"Hasil ideal Beijing adalah mempertahankan hubungan tanpa syarat dengan negara anti-Barat seperti Iran, tetapi juga menjaga peluang untuk mencapai semacam modus vivendi dengan AS," ujarnya.
Di sisi lain, ada pandangan skeptis terhadap peran China. Patricia Kim dari Brookings Institution menilai diplomasi Beijing lebih bersifat simbolis.
"Meskipun Iran ingin menonjolkan hubungan mereka dengan China dan meminta Beijing menjadi penjamin gencatan senjata, China menunjukkan nol minat untuk mengambil peran tersebut," katanya.
"China tampaknya cukup puas berada di pinggir lapangan sementara Amerika Serikat menanggung tekanan utama," imbuhnya.
Pertemuan Xi dan Trump sendiri diperkirakan akan fokus pada isu-isu praktis. China disebut bisa menyetujui pembelian pesawat Boeing dalam jumlah besar, yang berpotensi menjadi transaksi terbesar dalam sejarah, serta meningkatkan impor produk pertanian dari AS.
Namun, para analis menilai pembahasan tidak akan menyentuh isu-isu besar seperti tata kelola kecerdasan buatan, akses pasar, atau kelebihan kapasitas industri.
"Tidak ada peluang sama sekali bagi China untuk mencapai kesepakatan besar dengan Amerika Serikat," kata Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies.
(luc/luc) Add as a preferred
source on Google




