Senjakala Hegemoni: Membaca Retaknya Tatanan Barat dari Kacamata Fukuyam

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kita mungkin sedang hidup di salah satu fase paling menentukan dalam sejarah global modern. Bukan sekadar perubahan biasa, melainkan sebuah pergeseran besar, semacam “otopsi sejarah” yang berlangsung secara real-time. Jika dulu dunia terasa stabil di bawah dominasi Amerika Serikat, kini tanda-tanda keretakan itu semakin nyata.

Pemikir politik Francis Fukuyama, yang pernah terkenal dengan tesis The End of History, kini justru menyampaikan nada yang jauh lebih reflektif. Ia tidak lagi berbicara tentang kemenangan final demokrasi liberal, tetapi tentang sesuatu yang lebih mengkhawatirkan, yakni penurunan jangka panjang pengaruh Amerika Serikat dan retaknya tatanan global yang selama ini dianggap mapan.

Retaknya Fondasi Barat: Identitas, Demokrasi, dan Krisis Internal

Salah satu gejala paling mencolok dari perubahan ini justru datang dari dalam tubuh Barat sendiri. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi simbol stabilitas dan demokrasi, kini menghadapi perpecahan mendasar tentang identitasnya. Di satu sisi, muncul dorongan untuk mendefinisikan Barat melalui identitas keagamaan, khususnya Kristen. Di sisi lain, nilai-nilai liberal seperti pluralisme, toleransi, dan rasionalitas tetap dipertahankan sebagai fondasi utama.

Bagi Fukuyama, pergeseran menuju identitas eksklusif berbasis agama bukan hanya persoalan politik, tetapi juga kemunduran historis. Barat modern lahir dari kompromi panjang pasca konflik keagamaan yang melelahkan, yang kemudian melahirkan prinsip bahwa negara tidak boleh memaksakan keyakinan tertentu. Ketika prinsip ini mulai digoyang, yang terancam bukan hanya stabilitas politik, tetapi juga kohesi sosial.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika demokrasi tidak lagi berjalan seiring dengan liberalisme. Dalam praktiknya, tidak sedikit pemimpin yang terpilih secara demokratis, tetapi kemudian melemahkan hukum, menyerang media, dan membatasi kebebasan sipil. Demokrasi yang seharusnya menjadi alat representasi rakyat justru berubah menjadi legitimasi bagi konsentrasi kekuasaan.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting. Demokrasi tanpa pembatasan hukum bisa berubah menjadi tirani mayoritas. Ketika suara rakyat dijadikan satu-satunya legitimasi tanpa kontrol institusional, maka ruang bagi kebebasan individu dan kelompok minoritas semakin menyempit. Inilah yang oleh Fukuyama dilihat sebagai ancaman nyata dari dalam, bukan sekadar penyimpangan, tetapi potensi keruntuhan nilai-nilai liberal itu sendiri.

Nuklir, Multipolaritas, dan Akhir Universalisme

Di saat yang sama, perubahan besar juga terjadi pada lanskap global. Dunia tidak lagi berada dalam satu kutub kekuasaan. Kepercayaan terhadap dominasi Amerika mulai goyah, terutama dalam hal keamanan. Kepemilikan senjata nuklir kini dipandang sebagai jaminan bertahan hidup, bukan sekadar ancaman.

Negara seperti Korea Utara menunjukkan bagaimana nuklir berfungsi sebagai alat penangkal. Sebaliknya, pengalaman Ukraina memperlihatkan risiko besar ketika sebuah negara tidak memiliki perlindungan strategis yang memadai. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar, apakah Amerika masih mampu atau bahkan mau menjadi pelindung utama sekutunya.

Ketika kepercayaan terhadap perlindungan Amerika melemah, negara-negara lain mulai menata ulang strategi mereka. Jepang, Jerman, hingga negara-negara di Timur Tengah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Washington. Mereka membangun kekuatan sendiri, menjalin kerja sama baru, dan memperkuat posisi regionalnya.

Inilah yang menandai lahirnya dunia multipolar, sebuah dunia di mana kekuasaan tidak lagi terpusat dan hubungan antarnegara menjadi lebih pragmatis. Negara seperti Indonesia pun memiliki ruang yang lebih luas untuk menentukan arah kebijakannya sendiri. Namun perubahan ini juga membawa konsekuensi serius.

Diplomasi global menjadi semakin transaksional dan cenderung pendek pandang. Pendekatan berbasis institusi internasional mulai tergeser oleh kepentingan jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan kecil bisa berujung pada konflik besar yang sulit dikendalikan.

Lebih jauh lagi, kita menyaksikan pergeseran pemikiran yang cukup mendasar. Gagasan bahwa nilai-nilai Barat bersifat universal mulai ditinggalkan. Dunia bergerak ke arah yang lebih plural, di mana setiap negara merasa berhak menentukan sistem dan nilai yang dianutnya tanpa harus mengikuti standar tertentu.

Jika Amerika sendiri mulai menjauh dari peran moralnya, maka tatanan dunia yang selama ini berbasis aturan juga ikut melemah. Yang tersisa adalah dunia yang lebih cair, tetapi juga lebih rentan terhadap konflik.

Apa yang digambarkan Fukuyama pada akhirnya adalah sebuah masa transisi. Dunia bergerak dari tatanan yang relatif stabil menuju kondisi yang lebih kompleks dan tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, risiko terbesar adalah kembalinya logika lama, di mana kekuatan menjadi penentu utama. Namun di sisi lain, perubahan ini juga membuka peluang bagi negara lain untuk mengambil peran yang lebih besar.

Bagi Indonesia, ini adalah momentum penting. Bukan untuk sekadar menjadi penonton, tetapi untuk ikut menentukan arah perubahan. Tentu saja, hal itu hanya mungkin jika kita mampu membaca situasi global dengan jernih dan meresponsnya secara bijak.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mendalam. Ketika hegemoni memudar, apakah dunia akan menjadi lebih adil, atau justru semakin keras? Jawabannya tidak hanya ditentukan oleh negara besar, tetapi juga oleh bagaimana kita semua, termasuk Indonesia, memposisikan diri di tengah perubahan zaman ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Orang Sekeluarga Tewas di Grogol Petamburan Akibat Terjebak Asap
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Satu Keluarga Tewas Terjebak Asap Kebakaran di Grogol Petamburan, Rumah Digembok dari Dalam
• 14 jam laluliputan6.com
thumb
BNN Gandeng BRIN Percepat Riset Hadapi Ancaman Narkoba Jenis Baru
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Harga Bahan Bakar Bersubsidi Dipatok Aman Sampai Akhir 2026
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Polisi Tangkap Pelaku Penyalahgunaan BBM Bersubsidi di Situbondo, Sita Ratusan Liter Pertalite
• 12 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.