Xiaomi Coret Mimpi Bikin Mobil Listrik Rp 200 Jutaan

viva.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

China, VIVA - Xiaomi memastikan tidak akan masuk ke segmen mobil listrik murah, setidaknya dalam beberapa tahun ke depan. Keputusan ini menegaskan arah strategi perusahaan yang lebih memilih bermain di kelas menengah hingga atas ketimbang terlibat dalam perang harga di segmen entry-level.

CEO Lei Jun menyebut, batas bawah harga yang tidak akan disentuh Xiaomi berada di kisaran 100.000 yuan atau sekitar Rp 220 jutaan. Angka tersebut selama ini menjadi “arena panas” bagi banyak produsen mobil listrik di China yang mengandalkan volume penjualan.

Baca Juga :
Ngecas 5 Menit Jalan 600 Km, BYD Atto 3 Ini Bikin SPBU Bisa Cemburu
Pertarungan 3 Merek Mobil China di Indonesia Semakin Memanas

Seperti dilansir VIVA dari Carnewschina, Sabtu 18 April 2026, alasan utamanya bukan tanpa dasar. Xiaomi menilai pengembangan kendaraan listrik modern—terutama yang mengandalkan sistem pintar—membutuhkan biaya tinggi. Komponen seperti software, chip, hingga fitur berkendara otonom kini justru menjadi kontributor utama biaya produksi, bukan lagi sekadar baterai atau motor listrik.

Pendekatan ini terlihat jelas pada pengembangan Xiaomi SU7. Model sedan listrik tersebut terus mengalami penyempurnaan, dengan lebih dari 100 peningkatan pada versi terbarunya. Namun konsekuensinya, biaya produksi ikut terdongkrak hingga sekitar 20.000 yuan.

Menariknya, kenaikan harga jual tidak mengikuti lonjakan biaya tersebut. Xiaomi hanya menaikkan harga sekitar 4.000 yuan, sehingga harga dasar SU7 kini berada di level 219.900 yuan atau sekitar Rp 480 jutaan.

Strategi ini menunjukkan Xiaomi berupaya menjaga keseimbangan antara peningkatan kualitas produk dan daya beli konsumen. Alih-alih mengejar harga murah, perusahaan memilih menawarkan nilai lebih lewat teknologi dan pengalaman berkendara.

Respons pasar pun terbilang positif. Model SU7 terbaru mampu mencatatkan 15.000 pesanan dalam waktu kurang dari satu jam sejak diperkenalkan. Angka ini mengindikasikan bahwa konsumen masih memiliki minat kuat terhadap kendaraan listrik dengan spesifikasi tinggi, meski harganya tidak lagi tergolong terjangkau.

Di sisi lain, kondisi pasar mobil listrik di China justru menunjukkan tekanan di segmen harga bawah. Model-model seperti Wuling Hongguang Mini EV dan BYD Seagull yang sebelumnya mendominasi, mulai mengalami penurunan penjualan cukup tajam.

Salah satu pemicunya adalah berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik, yang selama ini menjadi pendorong utama pertumbuhan di segmen entry-level. Dampaknya, pasar menjadi lebih sensitif terhadap harga dan margin produsen semakin tertekan.

Baca Juga :
Segini Harga Terbaru BYD Atto 1 dan Pajak Tahunannya
Hyundai Tak Tergoda Tren Mobil Murah
Apple Satu-satunya yang Hijau, Smartphone Korea dan China Merah

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cerita Angen, Wali Asuh yang Jadi Orang Tua bagi Siswa di SRT 7 Probolinggo
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Komnas HAM Duga Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Tak Hanya 4 Orang
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Beri Arahan di Retret Ketua DPRD se-Indonesia: Saya Ingin Bicara dari Hati ke Hati
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Aliyah Mustika Ilham Peringatkan Modus Penipuan Berkedok Sumbangan Masjid, Warga Makassar Harus Hati-hati
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Iran Nyatakan Selat Hormuz Terbuka Setelah Gencatan Senjata Lebanon-Israel
• 17 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.