Ranjang-ranjang tertata rapi di dalam kamar asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur. Di dinding, jadwal pelajaran, aturan asrama, hingga daftar piket tersusun berderet, menjadi pengingat ritme kehidupan yang dijalani para siswa setiap hari.
Siang itu, Angen Widya berjalan perlahan menyusuri lorong asrama. Sambil sesekali menunjuk ke dalam kamar, ia menjelaskan bagaimana anak-anak tinggal, belajar, hingga menjalani keseharian mereka di tempat tersebut.
“Ini satu kamar empat orang,” ujarnya saat ditemui, Kamis (16/4).
Perlengkapan siswa tampak tertata sederhana. Bagi Bu Angen, kondisi itu justru jauh lebih baik dibandingkan sebagian rumah anak-anak yang pernah ia kunjungi.
“Kalau lihat dari rumah aslinya, kadang fasilitas di sini sudah jauh lebih baik,” katanya.
Di ruang-ruang sederhana itulah Angen menjalani perannya, bukan hanya sebagai wali asuh, tetapi juga sebagai orang tua kedua bagi anak-anak yang jauh dari rumah.
“Kalau di sini, kami bukan cuma mengawasi. Kami harus jadi orang tua, sekaligus teman buat mereka,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Angen itu.
Sebagai wali asuh, Bu Angen mendampingi tujuh anak di asrama. Perannya tak berhenti pada pengawasan, tetapi juga menyentuh keseharian anak-anak, mulai dari membangun kedisiplinan, menemani aktivitas, hingga menjadi tempat mereka bercerita.
"Kalau kita sif malam, kan ada tiga sif. Pagi jam enam sampai jam dua, jam dua sampai jam sepuluh, jam sepuluh malam sampai jam enam pagi. Kalau sif malam kita menginap, sekalian membangunkan shalat subuh," ujarnya.
Bagi Bu Angen, peran tersebut bukan hal yang mudah dijalani. Ia harus siap hadir kapan pun anak-anak membutuhkan, termasuk saat mereka merasa rindu rumah.
“Kadang ada yang bilang, ‘Bu, saya boleh peluk Ibu nggak? Saya kangen sama ibu di rumah.’ Ya sudah, kita peluk, kita temani,” ujarnya.
Momen seperti itu, kata dia, sering terjadi di awal masa tinggal anak di asrama. Namun seiring waktu, anak-anak mulai beradaptasi dan menemukan kenyamanan di lingkungan baru.
Selain menjadi tempat bersandar secara emosional, Bu Angen juga memastikan anak-anak menjalani kehidupan yang teratur. Seluruh aktivitas telah dijadwalkan, mulai dari ibadah, belajar, hingga waktu istirahat.
“Jadi semua sudah disediakan dari asrama, supaya terkontrol juga,” kata Bu Angen.
Di balik rutinitas itu, ia melihat perubahan pada anak-anak yang diasuhnya. Dari yang awalnya canggung, sering menangis, hingga perlahan menjadi lebih mandiri dan disiplin.
"Kalau sukanya, kita bisa melihat perkembangan anak itu dari pertama datang, sekarang itu sudah banyak berkembang. Itu yang bikin senang, lihat perkembangan mereka dari awal datang sampai sekarang,” ujarnya.
Namun, ada pengorbanan yang harus dijalani. Saat mendapat sif malam, Bu Angen harus menginap di asrama dan meninggalkan keluarganya di rumah.
“Kalau sif malam, ya harus ninggalin anak di rumah. Tapi ini sudah jadi tanggung jawab,” katanya.
Meski begitu, ia tetap menjalani perannya dengan penuh keterlibatan. Baginya, kedekatan dengan anak-anak bukan sekadar bagian dari pekerjaan, tetapi menjadi ikatan yang tumbuh dari keseharian bersama.
"Dukanya lagi kalau kadang kita ikut sedih juga kalau dengar anak yang lagi sedih gitu," tuturnya.
Di asrama itu, Bu Angen beserta wali asuh lainnya hadir sebagai sosok yang menemani langkah anak-anak, menjaga, mengarahkan, sekaligus menguatkan mereka, di tengah jarak dari keluarga yang mereka tinggalkan.





