Industri Manufaktur Ekspansi tapi Tak Serap Tenaga Kerja

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia pada kuartal I/2026 menunjukkan laju ekspansif (>50%). Kendati demikian, capaian tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan serapan tenaga kerja yang justru masih berada di zona kontraksi (<50%).

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Prompt Manufacturing Index (PMI) kuartal I/2026 tercatat berada di level 52,03%, meningkat dari capaian periode sebelumnya yang sebesar 51,86%. Hanya saja, komponen jumlah tenaga kerja malah merosot ke level 48,76%, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 48,80%.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai anomali antara ekspansi manufaktur dan kontraksi tenaga kerja ini menjadi sinyal kuat bahwa pemulihan produksi saat ini belum bersifat padat karya.

"Pabrik memang masih menambah output, tetapi tambahan output itu banyak ditopang oleh pemakaian kapasitas yang sudah ada, pengelolaan persediaan, dan efisiensi proses kerja, bukan oleh ekspansi penyerapan tenaga kerja baru," jelas Josua kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).

Dia memerincikan, jika menilik berdasarkan komponen pembentuknya maka PMI kuartal pertama tahun ini ditopang oleh peningkatan tajam pada volume produksi (54,07%), volume persediaan barang jadi (54,43%), dan volume total pesanan (53,20%).

Kondisi tersebut, lanjutnya, sejalan dengan temuan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) pada lapangan usaha industri pengolahan. Dalam survei BI tersebut, kegiatan usaha tercatat naik, tetapi banyak perusahaan yang memilih mengoptimalkan proses kerja dan belum menggantikan pegawai yang telah memasuki masa pensiun.

Baca Juga

  • PMI Manufaktur RI Maret 2026 Merosot ke 50,1 Imbas Perang Timur Tengah
  • PMI Manufaktur Melambat, Pengusaha Soroti Tekanan Ekspor dan Biaya Produksi
  • Ekspansi Melambat, 67% Perusahaan Setop Rekrut Karyawan Baru

Keengganan pelaku industri untuk agresif menambah karyawan juga dinilai sangat rasional apabila disandingkan dengan tantangan global saat ini. Josua mengutip rilis PMI Manufaktur S&P Global pada Maret 2026 yang mengindikasikan tekanan harga bahan baku dan ancaman gangguan rantai pasok akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

"Dalam situasi seperti itu, perusahaan cenderung memilih menahan rekrutmen dan memperketat biaya, meski secara triwulanan aktivitas produksi masih berada di zona ekspansi," jelasnya.

Senada, Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memandang fenomena pemulihan tanpa penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur ini sangat dipengaruhi oleh perubahan struktur industri dan langkah kehati-hatian perusahaan pasca-badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam 2 tahun terakhir.

Yusuf memaparkan bahwa kenaikan produksi saat ini lebih banyak ditopang oleh sektor-sektor yang tidak bersifat padat karya atau memiliki siklus musiman. Misalnya, lonjakan produksi industri makanan dan minuman yang murni terdorong oleh momentum Lebaran, serta industri alas kaki dan percetakan yang sebelumnya telah melakukan penyesuaian efisiensi untuk mengerek produktivitas.

"Jadi ketika permintaan naik sedikit, pabrik cukup mengoptimalkan kapasitas yang ada, seperti melalui lembur atau shifting, tanpa perlu melakukan rekrutmen," ungkap Yusuf kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).

Lebih jauh, perusahaan-perusahaan yang telah merampingkan postur tenaga kerjanya sejak 2024 masih bersikap wait and see. Menurut Yusuf, ketika pesanan mulai kembali masuk, respons pelaku usaha cenderung memaksimalkan produktivitas pekerja yang ada daripada membuka lowongan kerja baru ketika pesanan bertambah.

Langkah ini dianggap sebagai pilihan bisnis yang paling rasional di tengah ketidakpastian global saat ini, yang mana pelaku usaha belum sepenuhnya yakin bahwa tren kenaikan permintaan akan berlangsung konsisten.

Di sisi lain, Yusuf juga menyoroti adanya pergeseran komposisi industri di dalam negeri. Sektor-sektor yang secara tradisional menjadi lumbung penyerap tenaga kerja massal, seperti industri tekstil, saat ini kondisinya masih lesu. Sementara itu, pertumbuhan justru dipimpin oleh sektor-sektor dengan rasio penggunaan tenaga kerja yang jauh lebih kecil.

"Pemulihan output tidak otomatis berarti pemulihan lapangan kerja. Jadi, headline PMI terlihat sehat, tapi kandungan penciptaan kerjanya tipis," tutup Yusuf.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fabio Lefundes Waspadai Postur Pemain PSM
• 8 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Pedagang Tanjungpinang Keluhkan Lonjakan Harga Plastik Kemasan
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Gunung Semeru Kembali Menggeliat, 7 Kali Erupsi Hari Ini
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Prediksi PSBS Vs Persija di BRI Super League: Kapal Lawan Nyaris Karam
• 5 jam lalubola.com
thumb
Mahasiswa Antikorupsi Soroti Anomali Anggaran Mobil Dinas Samarinda
• 6 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.