LPEI mencatat penyaluran kredit ke sektor industri telah mencapai Rp13,7 triliun.
IDXChannel - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mencatat penyaluran kredit ke sektor industri telah mencapai Rp13,7 triliun.
Pembiayaan tersebut mengalir ke berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga pertambangan. Dari total tersebut, sekitar 25 persen terserap oleh pabrik-pabrik di Jawa Timur.
Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman mengatakan, realisasi kredit LPEI melalui skema tersebut mencapai Rp7,68 triliun sepanjang 2025, dengan mayoritas debitur berasal dari sektor makanan dan minuman.
“Untuk Jawa Timur, saat ini terdapat 61 perusahaan yang memanfaatkan fasilitas PKE. Sekitar seperempat dari total penyaluran PKE mengalir ke wilayah ini, dengan nilai mencapai kurang lebih Rp9 triliun dan tujuan ekspor ke lebih dari 30 negara,” ujar Sulaeman dalam media briefing di pabrik Kokola, Gresik, Jumat (17/4/2026).
Dia menegaskan, penyaluran pembiayaan tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan devisa, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian. Setiap pembiayaan yang disalurkan dinilai mampu mendorong pengembangan usaha hingga tiga kali lipat dari nilai awal.
“Dari satu rupiah pembiayaan, dampak pengembangannya bisa mencapai tiga kali lipat. Ini menunjukkan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan konsumsi rumah tangga,” tutur dia.
Sepanjang 2025, penyaluran PKE Trade Finance tercatat berkontribusi terhadap penciptaan dan penghematan devisa sebesar Rp21,12 triliun. Program ini menjangkau 18 sektor industri dan komoditas.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak menekankan pentingnya peran industri manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Sektor ini, termasuk makanan dan minuman hingga tekstil dengan kontribusi sebesar 31,32 persen terhadap perekonomian Jawa Timur.
Dari sisi ekspor, sektor makanan dan minuman menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai USD2,64 miliar pada 2025, atau berkontribusi 8,7 persen terhadap total ekspor. Kinerja tersebut juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 13,85 persen secara tahunan.
“Ekspor makanan olahan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, bahkan Indonesia,” ujar Emil.
PT Mitra Saruta Indonesia yang bergerak di sektor tekstil telah menjadi debitur LPEI dengan nilai pembiayaan di atas Rp100 miliar. Mitra Saruta mencatatkan pertumbuhan pendapatan dua digit secara konsisten, terutama melalui ekspor ke pasar seperti Jepang.
Selain itu, PT Mega Global Food Industri, produsen biskuit dengan merek Kokola, juga memperoleh pembiayaan LPEI sejak empat tahun terakhir. Perusahaan ini telah menerima kredit hingga Rp50 miliar untuk mendukung ekspansi ekspor, yang kini menjangkau lebih dari 50 negara.
(DESI ANGRIANI)




