Grid.ID - Sekolah Kartini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Indonesia. Lembaga pendidikan khusus perempuan ini tidak hanya lahir dari gagasan Raden Ajeng Kartini, tetapi juga mendapat dukungan dari tokoh-tokoh Politik Etis Belanda seperti Conrad Theodor van Deventer dan Jacques Henrij Abendanon.
Awal Berdirinya Sekolah Kartini
Sekolah Kartini pertama kali didirikan pada 15 September 1913 di Semarang, atau sekitar sembilan tahun setelah wafatnya Kartini. Pendirian sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Kartini, yang dibentuk untuk mewujudkan cita-cita Kartini dalam meningkatkan derajat perempuan melalui pendidikan.
Seiring perkembangannya, Sekolah Kartini tidak hanya hadir di Semarang, tetapi juga membuka cabang di berbagai kota di Pulau Jawa, seperti Madiun, Jakarta, Bogor, Malang, Cirebon, dan Pekalongan.
Latar Belakang: Ketimpangan Pendidikan Perempuan
Pada masa hidup Kartini, akses pendidikan bagi perempuan pribumi di wilayah Hindia Belanda sangat terbatas. Budaya patriarki yang kuat membuat perempuan hanya dipandang sebagai “konco wingking” yang berperan di ranah domestik.
Melihat kondisi tersebut, Kartini memiliki visi besar agar perempuan mendapatkan hak pendidikan yang setara seperti perempuan di Eropa. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pergaulannya dengan teman-teman dari Belanda, yang ia jalin melalui surat-menyurat selama masa pingitan.
Perintisan Sekolah oleh Kartini
Cita-cita tersebut mulai diwujudkan Kartini pada 1903 dengan mendirikan sekolah sederhana bagi perempuan di Jepara, dekat kediamannya.
Di sekolah ini, Kartini mengajarkan keterampilan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta pengetahuan praktis lainnya.
Setelah menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Kartini melanjutkan upayanya dengan membuka sekolah serupa di Rembang. Namun, perjuangannya terhenti setelah ia wafat pada September 1904, beberapa hari usai melahirkan anak pertamanya.
Peran Abendanon dan Van Deventer
Sepeninggal Kartini, gagasan-gagasannya tidak ikut hilang. Jacques Henrij Abendanon bersama istrinya mengumpulkan surat-surat Kartini yang kemudian diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht pada 1911. Buku ini mendapat sambutan luas di Belanda dan membuka mata banyak pihak tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi.
Pemikiran Kartini juga sejalan dengan semangat Politik Etis yang diusung oleh Conrad Theodor van Deventer. Kebijakan ini menekankan tanggung jawab moral Belanda untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di tanah jajahan, termasuk melalui pendidikan.
Dari sinilah lahir Yayasan Kartini pada 22 Februari 1912, yang dipimpin oleh Van Deventer. Yayasan ini bekerja sama dengan pemerintah kolonial untuk mendirikan sekolah khusus perempuan.
Perkembangan Sekolah Kartini
Pada awalnya, Sekolah Kartini di Semarang belum memiliki gedung sendiri dan masih menggunakan rumah tinggal di kawasan Jomblang. Baru pada 21 Desember 1914, sekolah ini memiliki bangunan permanen berkat dukungan pemerintah setempat.
Memasuki 1915, perkembangan Sekolah Kartini terbilang pesat. Jumlah siswa meningkat, fasilitas bertambah, dan cabang sekolah mulai bermunculan di berbagai kota di Pulau Jawa.
Warisan Pendidikan untuk Perempuan
Hadirnya Sekolah Kartini menjadi bukti nyata bahwa gagasan Raden Ajeng Kartini tidak berhenti pada zamannya. Dukungan dari tokoh-tokoh seperti Conrad Theodor van Deventer dan Jacques Henrij Abendanon berhasil melanjutkan perjuangan tersebut menjadi gerakan nyata di bidang pendidikan.
Sekolah Kartini pun menjadi simbol penting dalam perjalanan emansipasi perempuan Indonesia, sekaligus fondasi awal bagi kesetaraan akses pendidikan yang terus berkembang hingga saat ini. (*)
Artikel Asli



