Pemimpin yang Menghidupi: Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pada suatu hari di sebuah sekolah yang sedang menghadapi banyak persoalan, seorang kepala sekolah baru datang dengan semangat perubahan. Sekolah itu dikenal keras: aturan ditegakkan dengan hukuman, kesalahan dibalas dengan teguran keras, dan hubungan antara guru serta siswa terasa kaku dan penuh jarak. Banyak yang patuh, tetapi sedikit yang benar-benar tumbuh. Di balik ketertiban yang tampak, tersembunyi kegelisahan dan ketakutan.

Suatu pagi, seorang siswa tertangkap melanggar aturan berat. Guru-guru menunggu keputusan kepala sekolah baru itu. Sebagian berharap hukuman tegas sebagai contoh, sebagian lain diam karena sudah terbiasa dengan pola lama. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Kepala sekolah itu tidak langsung menjatuhkan sanksi. Ia memanggil siswa tersebut, duduk berhadapan, dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati dengan semangat cura personalis. Ia bertanya, bukan menghakimi. Ia mendengar, bukan sekadar memberi nasihat.

Percakapan itu berlangsung lama. Di sana terungkap bahwa pelanggaran yang dilakukan bukan sekadar kenakalan, melainkan juga cerminan dari masalah yang lebih dalam: tekanan keluarga, rasa tidak diperhatikan, dan kebutuhan akan pengakuan. Kepala sekolah itu tetap memberikan konsekuensi, tetapi bukan dalam bentuk hukuman yang mempermalukan. Ia mengajak siswa itu bertanggung jawab, sekaligus memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Perlahan, perubahan mulai terasa. Guru-guru melihat pendekatan yang berbeda: tegas, tapi manusiawi. Siswa-siswa mulai berani terbuka. Disiplin tetap ada, tetapi tidak lagi menakutkan. Lingkungan sekolah berubah menjadi lebih hidup, lebih hangat, dan lebih bermakna. Dari situlah para guru mulai memahami bahwa pemimpin baru mereka sedang menghidupi sebuah falsafah lama yang sering didengar, tetapi jarang benar-benar dipraktikkan: Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti.

Falsafah ini mengandung makna yang sangat dalam. “Suro diro joyo jayadiningrat” melambangkan kekuatan, keberanian, dan potensi besar yang dimiliki manusia—termasuk pemimpin. Namun bagian kedua—“lebur dening pangastuti”—menjadi penyeimbang sekaligus pengingat bahwa segala bentuk kekuatan yang keras, termasuk amarah dan angkara murka, pada akhirnya hanya bisa dilunakkan oleh kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Inilah inti kepemimpinan yang sering terlupakan: bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan menekan, tetapi pada kemampuan merangkul.

Dalam banyak konteks, pemimpin sering terjebak dalam paradigma lama: bahwa untuk dihormati, ia harus ditakuti; untuk ditaati, ia harus keras. Padahal, ketakutan hanya melahirkan kepatuhan semu. Orang mungkin mengikuti perintah, tetapi tanpa hati. Mereka bekerja sekadar untuk menghindari hukuman, bukan untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan seperti ini rapuh—ia berdiri di atas tekanan, bukan kepercayaan.

Sebaliknya, falsafah “Lebur Dening Pangastuti” mengajarkan bahwa pendekatan yang lembut justru memiliki daya ubah yang lebih kuat. Kelembutan di sini bukan berarti kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan. Pemimpin yang mampu bersikap lembut adalah mereka yang telah menaklukkan egonya sendiri. Ia tidak mudah terpancing emosi, tidak reaktif terhadap kesalahan, dan tidak merasa perlu menunjukkan kekuasaan secara berlebihan. Ia tahu kapan harus tegas, tetapi juga tahu bagaimana menyampaikan ketegasan itu tanpa melukai.

Dalam dunia pendidikan, nilai ini menjadi sangat relevan. Guru dan pemimpin sekolah bukan hanya pengelola sistem, melainkan juga pembentuk manusia. Anak didik tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga pemahaman. Mereka tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari bagaimana mereka diperlakukan. Ketika seorang pemimpin mengedepankan kasih sayang dan kebijaksanaan, ia sedang menciptakan ruang aman bagi pertumbuhan. Di sanalah karakter dibentuk, bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran.

Lebih jauh lagi, falsafah ini mengajak pemimpin untuk melihat konflik dari sudut pandang yang lebih dalam. Tidak semua kesalahan harus dilawan dengan konfrontasi. Tidak semua pelanggaran harus dibalas dengan hukuman keras. Kadang, yang dibutuhkan adalah empati—kemampuan untuk memahami latar belakang seseorang sebelum mengambil keputusan. Pemimpin yang bijaksana tidak hanya menyelesaikan masalah di permukaan, tetapi juga berusaha menyentuh akar persoalan.

Namun demikian, penting untuk menegaskan bahwa kelembutan bukanlah permisivitas. Pemimpin tetap harus memiliki batas yang jelas, nilai yang kuat, dan keberanian untuk mengambil keputusan sulit. Kelembutan tanpa prinsip akan berubah menjadi kelemahan, sementara ketegasan tanpa kasih akan berubah menjadi kekerasan. Di sinilah seni kepemimpinan diuji: bagaimana memadukan keduanya dalam harmoni.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan keras, falsafah Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti menjadi semakin relevan. Banyak organisasi runtuh bukan karena kurangnya kekuatan, melainkan karena hilangnya kebijaksanaan. Banyak konflik berkepanjangan bukan karena tidak ada solusi, melainkan karena pendekatan yang digunakan terlalu keras dan tidak manusiawi. Dunia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kuat dalam tindakan, tetapi juga lembut dalam hati.

Kembali pada kisah kepala sekolah tadi, perubahan yang ia bawa bukanlah hasil dari kebijakan besar atau strategi yang rumit. Perubahan itu lahir dari cara ia memperlakukan manusia. Ia memahami bahwa setiap individu memiliki nilai dan potensi. Ia memilih untuk membangun, bukan menghancurkan. Ia memimpin bukan dengan rasa takut, melainkan dengan rasa percaya.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah tentang seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan seberapa dalam pengaruh yang ditinggalkan. Kekuatan yang memaksa mungkin bisa mengubah perilaku sesaat, tetapi hanya kasih sayang dan kebijaksanaan yang mampu mengubah hati. Dan ketika hati telah berubah, perubahan itu akan bertahan lebih lama, bahkan melampaui kehadiran seorang pemimpin itu sendiri.

Itulah makna terdalam dari falsafah tersebut: bahwa segala bentuk kekerasan, kesombongan, dan kejahatan pada akhirnya akan luluh oleh pangastuti—oleh kelembutan yang tulus, oleh kasih yang tanpa pamrih, dan oleh kebijaksanaan yang lahir dari hati yang jernih. Seorang pemimpin yang mampu menghidupi nilai ini tidak hanya akan berhasil memimpin, tetapi juga akan meninggalkan jejak kemanusiaan yang abadi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Campak di Cirebon Meningkat, Dua Balita Dilaporkan Meninggal
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BUMD DKI Didorong Perkuat Pilar Ekonomi
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kunjungan Rusia Berbuah Pasokan Energi dan Rencana Investasi Infrastruktur
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Prabowo Teken Perpres Pengelolaan Kesehatan, Sinkronisasi Layanan dari Pusat hingga Desa
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Heboh Kasus Pelecehan Seksual di FHUI hingga Unpad, Abdul Fickar Bilang Begini
• 19 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.