Saeed Khatibzadeh, Wakil Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa Teheran menolak gencatan senjata sementara dan mendorong penghentian konflik secara menyeluruh di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Khatibzadeh kepada wartawan di sela Antalya Diplomacy Forum, Jumat (17/4/2026). Ia menekankan bahwa setiap kesepakatan gencatan senjata harus mencakup seluruh wilayah konflik.
“Setiap gencatan senjata harus mencakup semua zona konflik, dari Lebanon hingga Laut Merah. Itu adalah garis merah bagi Iran,” ujarnya seperti dikutip kantor berita Anadolu.
Ia menegaskan, Iran tidak akan menerima gencatan senjata yang bersifat sementara. “Kami tidak menerima gencatan senjata sementara. Siklus konflik ini harus berakhir di sini untuk selamanya,” kata Khatibzadeh.
Menurutnya, upaya mediasi yang dilakukan Pakistan diarahkan untuk mencapai penghentian konflik secara permanen. Asim Munir Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan sendiri, diketahui berada di Teheran sejak, Rabu (16/4/2026), untuk melakukan pembicaraan dengan sejumlah pejabat Iran.
Dalam kunjungannya, Munir bertemu Masoud Pezeshkian Presiden Iran, Mohammad Bagher Qalibaf Ketua Parlemen, serta Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri. Ia juga berdiskusi dengan pejabat militer senior Iran sebagai bagian dari upaya mediasi untuk mengakhiri konflik.
Terkait Selat Hormuz, Khatibzadeh menyebut jalur perairan tersebut selama ini tetap terbuka dan dapat diakses, meskipun berada di wilayah teritorial Iran.
Ia justru menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai pihak yang memicu instabilitas di kawasan, yang berdampak pada perdagangan global dan perekonomian dunia.
Khatibzadeh menegaskan Iran tetap berkomitmen menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, namun membuka kemungkinan adanya pengaturan baru terkait keamanan, keselamatan pelayaran, dan aspek lingkungan di tengah situasi saat ini.
Ia menambahkan, penyelesaian konflik secara permanen serta perubahan sikap dari AS yang selama ini dianggap mengambil posisi maksimalis akan memastikan Selat Hormuz tetap menjadi jalur stabil bagi perdagangan global.
Sebelumnya, Pakistan juga memfasilitasi perundingan setelah berhasil menengahi gencatan senjata selama 14 hari antara Washington dan Teheran pada 8 April, menyusul ofensif militer AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari.
Forum Diplomasi Antalya sendiri dihadiri para pemimpin dunia dan pejabat tinggi dari berbagai negara yang berlangsung pada 17–19 April di Türkiye, dengan fokus pada tantangan global dan ketegangan kawasan. (bil/iss)




