Pemerintah DKI Jakarta memulai perang melawan ikan sapu-sapu dengan penangkapan besar-besaran pada Jumat (17/4/2026). Warga, pasukan oranye, personel Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahkan aparat TNI terlibat dalam operasi ini, memicu viralitas di internet.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berencana membentuk pasukan khusus penangkap sapu-sapu. Bila ikan sapu-sapu dibiarkan, ia yakin, kondisi ekosistem air di Jakarta akan semakin rawan. Apalagi, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta melaporkan, sapu-sapu telah mendominasi 60 persen perairan Jakarta (kompas.id, 17 April 2026).
Namun, ini baru awal dari perang panjang melawan ikan sapu-sapu yang merusak ekosistem, dan masih jauh dari harapan kita bisa memenangkannya dalam waktu singkat. Sementara operasi mulai dilakukan, ribuan telur menetas di dalam sarang yang tak terlihat.
"Tahun 2019 - 2022, saya pernah melakukan penelitian di DAS Ciliwung dari hulu ke hilir, sepanjang aliran sungai ini sudah dipenuhi ikan sapu-sapu. Banyak sekali lubang-lubang di tepi sungai yang jadi sarang ikan ini," kata Gema Wahyu Dewantoro, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Sabtu (18/4/2026).
Menurut Gema, satu induk betina ikan sapu-sapu di Ciliwung bisa menghasilkan sekitar 3.000 telur dalam satu musim, dan diduga bisa bertelur hingga tiga kali setahun. Artinya, ketika 41 ekor ditangkap, ribuan individu baru sedang lahir. Di habitat aslinya, ikan sapu-sapu dewasa bahkan bisa menghasilkan 18.000 telur.
Upaya mengatasi ikan sapu-sapu harus dilakukan seiring dengan pembersihan kualitas air sungai kita
“Ini bukan berarti penangkapan itu sia-sia,” kata Gema. “Namun, ini berarti penangkapan saja tidak cukup.”
Ikan sapu-sapu bukanlah makhluk jahat. Di habitat aslinya di Amazon, ia bagian dari ekosistem yang seimbang. Ia memakan alga, membersihkan dasar sungai, dan menjadi mangsa bagi predator seperti caiman, burung air, hingga ikan-ikan besar.
Masalah dimulai ketika ia berpindah tempat. Sejak 1970-an, perdagangan ikan hias global membawa jutaan sapu-sapu ke akuarium rumah tangga di seluruh dunia. Murah, tahan banting, dan “berguna” membersihkan kaca. Tapi ketika tubuhnya membesar dan tak lagi muat di akuarium, jalan pintas yang sering diambil adalah membuangnya ke sungai.
Di sungai-sungai baru itu, tidak ada predator alami. "Perairan kita tidak memiliki cukup predator yang bisa memangsa kulit ikan sapu-sapu yang keras ini," kata dia.
Sebaliknya, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan tinggi untuk beradaptasi dengan perairan yang kian tercemar, miskin oksigen, tapi kaya bahan organik. Bahkan, ikan sapu-sapu ini juga memangsa telur dan anakan ikan-ikan lain, sehingga menyebabkan mereka mendominasi perairan, terutama di kota-kota besar.
Ikan sapu-sapu telah menjadi indikator bagi perairan yang rusak dan tercemar. Semakin banyak ikan sapu-sapu dan minim ikan lokal lain, artinya sungai kita semakin sakit.
Dari Florida hingga Bangladesh, dari Afrika Selatan hingga Filipina, invasi ikan sapu-sapu ini berulang dengan pola yang sama. Di Selangor dan Kuala Lumpur, survei menemukan hingga 90 persen ikan di beberapa sungai adalah spesies asing. Di Danau Laguna de Bay, Filipina, sapu-sapu menggeser ikan konsumsi yang menjadi sumber protein jutaan orang.
Ekspansi ikan sapu-sapu di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung lama, dan banyak ahli sudah memperingatkannya jauh-jauh hari. Penelitian yang dirangkum dalam buku ”Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung” (2020) oleh Dewi Elfidasari menunjukkan, sebelum invasi masif ikan sapu-sapu, Daerah Aliran Sungai Ciliwung dihuni lebih dari 180 jenis ikan. Pada 2005, jumlah itu tinggal sekitar 20 jenis, penurunan hingga 88 persen.
Sebagian penyebabnya adalah pencemaran dan sedimentasi. Tapi sapu-sapu adalah spesies yang paling diuntungkan dari kondisi rusak itu.
“Ikan sapu-sapu sudah termasuk mencemari perairan karena sifatnya merusak, tahan cemaran, dan reproduksinya tinggi, merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai atau danau,” kata Gema.
Lubang-lubang itu bukan sekadar tempat bertelur. Mereka menjadi titik lemah struktural. Dinding sungai yang rapuh semakin mudah tergerus, mempercepat erosi, dan dalam konteks kota seperti Jakarta, berkontribusi pada risiko banjir.
“Dia buat lubang di bantaran, panjangnya bisa beberapa meter dan zigzag,” kata Gema, mengingat penelitiannya di sepanjang DAS Ciliwung pada 2019–2022. “Tidak kelihatan dari luar, tapi dalamnya kompleks.”
Jika ada satu kunci untuk memahami mengapa sapu-sapu sulit dikendalikan, jawabannya ada pada angka reproduksi yang sangat tinggi. Selain itu, ikan sapu-sapu memiliki daya adaptasi yang sangat baik dalam lingkungan yang tercemar.
Lebih problematis, menurut Gema, belum ada data pasti kapan puncak musim bertelur ikan ini. “Selama ini baru dugaan. Awal musim hujan jadi musim bertelurnya, tapi belum ada data valid bulan ke bulan. Kalau kita mau membasminya, kita harus benar-benar paham siklus hidup dan reproduksinya,” kata Gema.
Tiga tahun lalu, ia mengusulkan pendekatan sederhana tapi strategis, yaitu mengendalikan reproduksi. Lakukan riset minimal satu tahun untuk memetakan kapan ikan-ikan ini matang gonad. Tangkap mereka tepat sebelum bertelur. “Jangan dikasih kesempatan melepaskan telurnya,” ujarnya.
Usulan itu tidak berjalan. Alasannya klasik, dianggap belum mendesak, dan tidak ada pendanaan. Kini, ketika populasinya meledak dan ada kesadaran pemerintah untuk mengendalikan, pendekatan yang sama justru menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal, namun dianggapnya belum memadai.
Gema mengusulkan strategi pengendalian sapu-sapu menjadi tiga tahap. Pertama, biologis. Beberapa ikan lokal seperti gabus dan betutu berpotensi memangsa anakan sapu-sapu dan bisa ditebar indukannya. Tapi ini hanya bisa bekerja jika kualitas air membaik, sehingga ikan-ikan lokal bisa kembali hidup dan bersaing.
"Jadi, upaya mengatasi ikan sapu-sapu harus dilakukan seiring dengan pembersihan kualitas air sungai kita," kata dia.
Kedua, cara manual melalui penangkapan. Ini yang sekarang dilakukan pemerintah. Aman, relatif murah, tapi harus konsisten dan berbasis data. “Tidak bisa jangka pendek apalagi hanya sporadis,” kata Gema. Tanpa memahami siklus reproduksi, penangkapan hanya seperti menyapu permukaan.
Ketiga, kimiawi, menggunakan racun ikan. Ini opsi paling berisiko. “Jangan sampai targetnya sapu-sapu, ikan lokal kena,” ujarnya. Pendekatan ini hampir selalu menjadi pilihan terakhir.
Dari ketiga langkah ini, satu kesimpulan muncul, tidak ada solusi instan. Di tengah upaya pengendalian ini, muncul ide memanfaatkan sapu-sapu sebagai sumber protein. Secara teknis, itu mungkin. Tapi risikonya tidak kecil. Di tanah asalnya, sekitar Amazon, sapu-sapu sebenarnya juga dikonsumsi, namun kondisi lingkungannya berbeda karena ikan ini tidak mengonsumsi banyak logam berat.
Etty Riani, Guru Besar Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, menemukan bahwa daging sapu-sapu di Ciliwung mengandung logam berat di atas ambang aman. Kandungan kadmium rata-rata 0,2 ppm (batas 0,1 ppm), merkuri 0,7 ppm (batas 0,5 ppm), dan timbal 1,4 ppm (batas 0,3 ppm).
Artinya, dalam bahasa sederhana, kandungannya sudah melewati batas aman. “Boleh dimakan, tapi harus dibatasi,” kata Etty. Untuk orang dewasa berbobot 60 kilogram, batas aman dari sisi merkuri bahkan hanya sekitar 8,5 gram, jumlah ini sangat kecil.
Sekalipun ada banyak kabar bahwa sapu-sapu diam-diam dimanfaatkan untuk pangan olahan di Jakarta, namun menurut Etty, konsumsinya seharusnya dibatasi. Ia menyarankan penggunaan alternatif seperti pakan ternak, dengan catatan tetap harus dibatasi.
Gema bahkan lebih hati-hati, sebaiknya digunakan untuk hewan yang tidak masuk rantai konsumsi manusia, seperti ikan hias.
Di tengah kesadaran yang terlambat untuk mengatasinya di Jakarta, menurut Gema, ada satu detail yang sering luput, yaitu di Ciliwung kini ditemukan lebih dari satu jenis sapu-sapu dibandingkan 20 tahun lalu saat ikan ini baru mulai mencemari sungai ini.
Saat ini, sudah ada jenis sapu-sapu Pterygoplichthys pardalis, P. multiradiatus, P. disjunctivus, dan Hypostomus plecostomus. "Jadi ada 3 dari Pteryggoplichtys dan 1 dari Hypostomus. Artinya, invasi ini tidak berhenti di masa lalu. Ia masih berlangsung. Ada yang membuang lagi jenis baru,” kata Gema.
Menurut dia, selama perdagangan ikan hias tidak diatur ketat, selama edukasi tidak menjangkau penghobi akuarium, selama membuang ikan ke sungai dianggap hal sepele, maka setiap upaya pengendalian hanya akan mengejar masalah yang terus diperbarui. "Solusi terbaik mengatasi ikan invasif adalah pencegahan," kata dia.
Apa yang terjadi di sungai-sungai di Jakarta ini sebenarnya alarm bagi perairan lain di Indonesia. Di sungai-sungai lain di Jawa, bahkan juga danau-danau di Sumatera hingga Kalimantan, keberadaan ikan sapu-sapu juga mulai banyak ditemukan. Sekalipun tidak semasif di Jakarta, namun hanya soal waktu, ikan sapu-sapu bakal mendominasi.
Belajar dari Jakarta, yang baru memulai perang terhadap sapu-sapu dengan hasil yang belum bisa dipastikan, sapu-sapu bukan jenis masalah yang bisa diselesaikan dengan operasi sesaat. Upaya ini membutuhkan sistem riset yang didanai, data yang dikumpulkan, strategi yang dijalankan konsisten, dan kebijakan yang mencegah sumber masalah sejak dini.
Semua itu, sebenarnya, bukan hal baru. “Sejauh ini, belum ada negara yang sukses mengatasi ikan sapu-sapu secara tuntas,” kata Gema.
Kalimat itu terdengar seperti pesimisme. Tapi sebenarnya bukan. Itu pengakuan bahwa ini adalah pekerjaan jangka panjang seperti merawat sungai itu sendiri. Yang dipertaruhkan bukan sekadar satu spesies invasif, tapi kemampuan kita mengelola ekosistem yang sudah terlalu lama diabaikan.
Tak ada kata terlambat untuk membersihkan sungai kita dari sapu-sapu, namun langkah sporadis tidak akan cukup untuk memenangkan perang melawan spesies invansif. Dan selama kita masih mengandalkan momen viral untuk memulai, dan mengakhiri, perang ini, sapu-sapu akan selalu selangkah lebih dulu berkembang biak, diam-diam, di bawah permukaan.





