Integrasi Teknologi dan Tenaga Kerja Jadi Arah Baru Industri Alih Daya

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kebutuhan dunia usaha terhadap sistem operasional yang lebih terintegrasi dan berbasis data kian meningkat. Pola kerja yang masih terpisah dan manual dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tuntutan efisiensi, transparansi, dan pengambilan keputusan yang cepat.

Dalam konteks tersebut, Shelter Indonesia memperkenalkan arah baru perusahaan melalui agenda Corporate Branding: Brand Positioning Launch. Langkah ini menjadi bagian dari upaya transformasi bisnis untuk merespons perubahan kebutuhan operasional di berbagai sektor.
 

Baca Juga :

Papan Digital Interaktif Bikin Siswa Semangat dan Ogah Bolos

Shelter Indonesia menyatakan tengah memperkuat posisinya sebagai penyedia solusi alih daya yang tidak hanya bertumpu pada tenaga kerja, tetapi juga mengintegrasikan sistem dan teknologi dalam operasionalnya. Perubahan ini didorong oleh kebutuhan perusahaan klien yang kini menuntut visibilitas lebih jelas, kendali lebih kuat, serta proses kerja yang dapat diukur secara lebih akurat.

Sebagai bagian dari transformasi tersebut, diperkenalkan Shelter+, sebuah platform yang dirancang sebagai ekosistem digital untuk mendukung operasional secara menyeluruh. Platform ini mengintegrasikan berbagai fungsi, mulai dari pemantauan keamanan melalui Shelter Guard, pengelolaan cleaning service melalui Shelter Cleaning, pelacakan aktivitas penjualan melalui Sellgo, hingga pengelolaan tenaga kerja fleksibel melalui Casual Work.

Melalui integrasi tersebut, aktivitas operasional yang sebelumnya tersebar di berbagai sistem diharapkan dapat menjadi lebih terhubung, terukur, dan berbasis data.

Chief Executive Officer (CEO) Shelter Indonesia Hari Wahyudin mengatakan, arah baru ini berangkat dari kebutuhan untuk membangun operasional yang lebih utuh dan terkendali.

“Arah Shelter Indonesia ke depan adalah menjadi mitra strategis operasional yang mengintegrasikan sumber daya manusia dan teknologi, agar operasional klien dapat berjalan lebih terukur, transparan, dan terkendali,” ujar Hari dalam keterangan yang diterima, dilansir Media Indonesia, Jumat, 17 April 2026.

Ia menambahkan, transformasi ini membawa perubahan posisi perusahaan dari sekadar penyedia tenaga kerja operasional menjadi ekosistem tenaga kerja terintegrasi yang menggabungkan sumber daya manusia dan teknologi.

Dari sisi pengembangan pasar, Chief Marketing Officer (CMO) Shelter Indonesia Nino Mayvi menilai kebutuhan klien juga mengalami pergeseran.

“Pasar hari ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga membutuhkan visibilitas, kontrol, dan transparansi. Karena itu, kami membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan klien modern,” kata Nino.

Ia menjelaskan, teknologi digunakan untuk menciptakan proses kerja yang lebih terbuka, dapat ditindaklanjuti, serta berbasis data. Dengan sistem terintegrasi, klien disebut tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi juga dapat memantau proses operasional secara lebih terstruktur.

Pandangan tersebut turut disampaikan Business Consultant Shelter Indonesia Gordon John Stevenson. Ia menilai langkah yang diambil perusahaan merupakan respons terhadap perubahan kebutuhan pasar.

“Apa yang sedang dibangun Shelter bukan sekadar digitalisasi. Ini adalah respons strategis terhadap kebutuhan pasar sekaligus penegasan yang jelas mengenai arah perusahaan ke depan,” ujar Gordon.

Menurutnya, integrasi berbagai elemen operasional dalam satu sistem menghadirkan tiga aspek utama bagi dunia usaha, yakni visibilitas, keterukuran, dan kendali. Ketiganya dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong efisiensi sekaligus daya saing.


Shelter Indonesia memperkenalkan arah baru perusahaan melalui agenda Corporate Branding: Brand Positioning Launch. Foto: Dok. Istimewa.

Melalui positioning baru bertajuk “A New Shape of Shelter Indonesia,” perusahaan menekankan bahwa layanan alih daya ke depan tidak lagi hanya bergantung pada tenaga kerja. Pengelolaan operasional secara terintegrasi, pemantauan real-time, serta sistem kerja berbasis data dinilai menjadi kebutuhan yang semakin penting.

Shelter Indonesia juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi tidak ditujukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan untuk mendukung kinerja. Sumber daya manusia tetap menjadi inti layanan, sementara teknologi berfungsi untuk meningkatkan akurasi, koordinasi, serta akuntabilitas dalam proses operasional.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan industri alih daya yang terus bergerak menuju model layanan yang lebih terintegrasi dan berbasis teknologi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UMKM Bursa Sajadah Dukung Ekosistem Ekonomi Haji di Makassar
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Allianz Hadirkan Proteksi Kesehatan Terbaru Untuk Bantu Masyarakat Hadapi Lonjakan Biaya
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Chelsea Perpanjang Kontrak Moises Caicedo Sampai 2033
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Heboh Napi Mengopi di Luar Rutan, Legislator: Harus Diselidiki Mendalam
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Harga BBM Oktan Tinggi Naik, Harga Pertamax dan Pertalite Tetap
• 8 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.