Regenerasi Skuad Timnas untuk Piala Dunia 2030

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Kegagalan Timnas Indonesia untuk melaju ke Piala Dunia 2026 menjadi bahan evaluasi bagi Federasi yakni, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk terus berbenah memperbaiki kualitas Timnas Indonesia.

Salah satu faktor yang perlu diperbaiki yakni, regenerasi pemain mulai dari akar rumput hingga usia 17 atau junior sebagai fondasi untuk regenerasi.

Meskipun saat ini bisa dibilang kualitas kedalaman skuad Timnas Indonesia sangat lengkap dengan beberapa pemain diaspora yang bertanding di level Eropa.

Pengamat sepak bola nasional, Hadi Ahay Gunawan akrab disapa Bung Ahay menyebut jika saat ini kualitas skuad Timnas Indonesia siap untuk bersaing di babak kualifikasi Piala Dunia 2030.

"Kita punya pemain dengan kualitas bisa dibilang pemain bintang seperti Jay Idzes, Ole Romeny bisa lah kita bersaing di babak kualifikasi Piala Dunia 2030 nanti. Kita mungkin bisa bersaing kembali dengan negara di level seperti Arab Saudi, dan Australia, saya yakin kita bisa lebih unggul saat ini," ujar Ahay dalam diskusi Water Break PSSI Pers, "96 Tahun PSSI: Fondasi Piala Dunia 2030" di GBK Arena, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga

  • Singapore Airlines Siarkan Langsung Piala Dunia 2026 di Pesawat
  • Persiapan Piala Dunia 2030, Erick Thohir: Perlu Ada Sinergi Kompetisi dengan Timnas
  • Profil dan Sejarah Timnas Cape Verde: Negara Kepulauan Kecil Debutan di Piala Dunia 2026

Dirinya mengatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki level yang lebih jauh dibanding dengan peringkatnya di FIFA.

"Jika berkaca dari ronde keempat kualifikasi kemarin, saat saya mewawancarai tim lain, itu justru mereka mewaspadai Indonesia. Dengan hadirnya pemain diaspora tentunya membawa kultur disiplin serta kualitas permainan yang lebih kompleks, artinya kita bisa berkembang jauh, harusnya dengan kualitas seperti itu kita berada di peringkat 70 sampai 80 dunia," kata Ahay.

Namun, Ahay juga mengingatkan, bahwa federasi dalam hal ini PSSI untuk tidak terleha-leha dan harus ada target yang pasti untuk Piala Dunia 2030.

"Kita ga bisa leha-leha lagi, sudah harus ada target untuk 2030. Belum tentu juga pemain yang saat ini membela timnas performa bagus, masih dalam performa yang sama di 2030 nanti, seperti Thom Haye, Pelupessy, dan lain-lain. Oleh karenanya, PSSI juga perlu memperhatikan soal regenerasi," tegas Ahay.

Jurnalis senior, Kesit Handoyo juga menyampaikan hal yang serupa, dirinya berpendapat bahwa saat ini Indonesia telah menemukan sosok pelatih yang tepat dan skuad yang baik.

"Dengan skuad atau pemain yang ada saat ini kita mampu bersaing di Piala Dunia selanjutnya, PSSI harus lebih bisa memaksimalkan lagi, apalagi hadirnya John Herdman ini, seperti yang kita tahu kualitas dia di tim sebelumnya seperti apa, pastinya dia bisa mengoptimalkan skuad yang ada," pungkas Kesit.

Namun, Kesit juga menjelaskan bahwa Timnas masih memiliki PR terkait ketimpangan gaya bermain antara pemain yang bertanding di kompetisi nasional dengan yang berkarier di kompetisi luar.

"PR nya adalah pemain yang bermain di kompetisi kita, levelnya juga harus meningkat dengan pemain kita yang bermain di Eropa," ujar Kesit.

"PSSI dan Liga harus bisa membentuk pemain yang bertanding di kompetisi nasional supaya menghasilkan kualitas yang bagus. Yang lebih penting harus diperhatikan juga regenerasinya, karena kita gabisa terus bergantung ke pemain diaspora," lanjutnya.

Legenda Timnas Indonesia, Rochy Putiray dalam kesempatan yang sama juga menegaskan bahwa pemain lokal yang bertanding di liga nasional perlu meningkatkan kualitas kedisiplinan jika ingin terpilih dan bermain di Piala Dunia 2030.

"Piala Dunia itu memang target semua pemain sepak bola, makanya Piala Dunia itu penting. Oleh karenanya, berkaca dari diaspora yang tidak diturunkan pelatih mereka, kita sebagai pemain lokal ya harus meningkatkan kedisiplinan jika memang ingin bermain dan berhasil di turnamen tertinggi," tutur Rochy.

Upaya yang Dilakukan PSSI dan Liga

Dalam diskusi tersebut, juga turut dihadiri oleh salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI, Hasnuryadi Sulaiman yang menyampaikan upaya yang telah dilakukan federasi untuk perbaikan kualitas Timnas guna menghadapi Piala Dunia 2030 mendatang.

Hasnur mengungkapkan saat ini PSSI mendukung penuh skuad Timnas yang ada, dan menyerahkan sepenuhnya ke kepala pelatih, John Herdman.

"Individu pemain saat ini punya kualitas yang baik, tentunya tinggal kita full support dari berbagai pihak. Harusnya dengan komposisi tim saat ini siapapun pelatihnya pasti mampu," ujar Hasnur.

"Kita serahkan sepenuhnya ke John Herdman untuk mengelola skuad, dan menentukan pemain, karena Coach John yang tahu bagaimana kualitas pemain yang bagus. Tapi kami PSSI tetap melakukan evaluasi dan mengingatkan untuk tidak memilih sekadar pemain bintang namun harus lebih kolektif," sambung Hasnur.

PSSI juga telah meyakinkan masyarakat, bahwa telah berperan dalam membentuk regenerasi bagi pemain timnas dengan meninjau perkembangan U-17, dan elite pro akademi.

"Kita melihat dari bakat U-17, banyak yang menjanjikan, prestasi kita di kelompok umur cukup baik, elite pro akademi juga menyumbang bakat-bakat bagus, PSSI tidak kekurangan bibit," tutur Hasnur.

Selain itu, PSSI juga mengungkapkan bahwa harus ada pembenahan dari sisi lisensi pelatih, dan perangkat pertandingan dengan melibatkan sinergi dari berbagai pihak khususnya penggemar atau supporter.

Selain itu, pembinaan pemain muda lokal di liga juga perlu ditingkatkan agar bisa memperoleh menit bermain yang cukup untuk bisa tampil di Piala Dunia 2030 nanti.

Di lain sisi, perwakilan I League, Asep Saputra menuturkan langkah yang dilakukan liga untuk memperbaiki kompetisi guna mendukung perkembangan timnas.

Asep menyebut pihaknya telah melakukan berbagai upaya membantu PSSI untuk perkembangan Timnas dengan meningkatkan nilai kompetitif dan pengembangan bakat di level junior.

"Kita coba perbaiki nilai kompetitif dengan sisi support science, support technology seperti VAR dan sebagainya untuk meningkatkan kualitas kompetisi yang nantinya juga akan berdampak ke pemain," jelas Asep.

Bahkan, dirinya menyebut jika nilai kompetitif super league dalam hal ini Liga Indonesia sempat mengungguli Arab Saudi dan Jepang di kawasan AFC.

"Kita juga bekerja sama dengan Ekkono Barcelona untuk perkembangan teknis dan komersial agar kompetisi tersusun lebih rapi, sekaligus pengembangan klub Licensing," lanjutnya.

Asep juga menyebut bahwa lewat klub Licensing mampu mengubah iklim kompetisi menjadi lebih sehat dengan good club dan good talent.

Terakhir, Asep juga menjelaskan bahwa liga telah berupaya untuk menambah waktu kompetisi di level akar rumput (junior) sekaligus memastikan akademi klub telah mematuhi standar kurikulum yang ditetapkan.

"Di level grassroots (junior) kita usahakan kompetisinya ditambah untuk memberikan menit bermain yang lebih banyak. Selain itu, kita juga menghimbau setiap akademi klub yang ada menerapkan standar kurikulum yang ditetapkan, meskipun PR nya sampai saat ini masih terdapat beberapa klub dengan fasilitas yang kurang memadai di sisi akademi mereka," tutup Asep.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warisan Rasa Asem-asem Kambing Nganjuk yang Tak Pernah Sepi
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Ketua Ombudsman Jadi Tersangka: Krisis Integritas Pengawas Publik
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Seni Budaya Bali Semarakkan Kemala Run 2026
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Heboh Napi Mengopi di Luar Rutan, Legislator: Harus Diselidiki Mendalam
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Febby Carol Buka Suara Terkait Kehamilan Lindi Fitriyana, Singgung Tanggung Jawab Virgoun
• 32 menit lalugrid.id
Berhasil disimpan.