【Berita Terlarang】 Menargetkan Kaum Muda? Kampanye Donasi Organ di Kampus Yunnan, Tiongkok  Picu Pertanyaan

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

Dalam beberapa tahun terakhir, dugaan rantai industri gelap pengambilan organ hidup di Tiongkok disebut telah meluas ke seluruh masyarakat. Pada saat yang sama, berbagai daerah gencar mengadakan kampanye promosi donasi organ untuk mendorong masyarakat ikut berpartisipasi. Baru-baru ini, sebuah kegiatan di kampus Yunnan yang melibatkan banyak mahasiswa memicu perhatian publik.

EtIndonesia. Pada 10–11 April, Lijiang Culture and Tourism College mengadakan kegiatan bertema “Donasi Organ, Kehidupan Berlanjut”. Acara ini diselenggarakan bersama oleh Pusat Pengelolaan Donasi Organ Manusia Tiongkok, lembaga terkait di Provinsi Yunnan, serta Palang Merah, dengan kehadiran sejumlah pejabat tinggi daerah.

Dari rekaman di lokasi, peserta didominasi oleh mahasiswa, dan banyaknya kaum muda yang terlibat menimbulkan perhatian serta perdebatan di masyarakat.

Sejumlah warganet menyatakan kekhawatiran, menilai bahwa para mahasiswa kurang memahami proses transplantasi organ dan risiko terkait. Ada pula yang mempertanyakan mekanisme distribusi manfaat serta operasional di balik transplantasi organ.

Analisis menyebutkan bahwa isu transplantasi organ di Tiongkok saat ini sangat sensitif, terutama di tengah kurangnya transparansi dalam rantai industrinya, sehingga kegiatan semacam ini lebih mudah memicu kecurigaan.

 “Masalah transplantasi organ manusia kini telah menimbulkan ketidakpuasan luas di masyarakat. Terutama setelah diberlakukannya regulasi transplantasi organ, jumlah operasi meningkat, bersamaan dengan banyaknya orang hilang, bahkan kematian atau kondisi mati otak yang tidak jelas penyebabnya. Di balik ini, masyarakat menyimpan kemarahan,” ujar Direktur Aliansi Pengacara HAM Luar Negeri, Wu Shaoping. 

Data menunjukkan bahwa sejak 2020, pemerintah Tiongkok mendorong program “promosi donasi organ masuk kampus”. Pada 2023, disahkan “Peraturan Donasi dan Transplantasi Organ Manusia”, setelah itu berbagai sekolah menggelar kegiatan serupa, bahkan melibatkan sumpah sukarela dari mahasiswa. Di saat yang sama, pengambilan sampel darah terhadap siswa di berbagai daerah juga memicu kekhawatiran di kalangan orang tua.

Pada 2024, pemerintah kembali merilis kebijakan untuk mendorong lebih banyak warga menandatangani persetujuan donasi organ.

Di sisi lain, fenomena hilangnya anak-anak dan remaja di Tiongkok dilaporkan semakin sering, yang oleh sebagian pihak dikaitkan dengan isu pengambilan organ.

Wu Shaoping mengatakan:  “Dalam beberapa tahun terakhir, seiring Tiongkok menjadi negara dengan jumlah transplantasi organ terbesar di dunia, jumlah orang hilang juga terus meningkat. Operasi transplantasi yang dilaporkan mencapai puluhan ribu setiap tahun, namun angka resmi sering diragukan.”

Beberapa statistik menunjukkan bahwa antara 2015 hingga 2023, jumlah transplantasi organ yang diumumkan secara resmi sering kali lebih tinggi dibanding jumlah donor sukarela, dengan selisih sekitar tiga kali lipat—hal ini memicu perhatian internasional.

Wu menambahkan:  “Pasien transplantasi biasanya adalah kalangan kaya atau elite. Hanya mereka yang mampu menjalani operasi seperti ini. Masyarakat biasa merasa marah karena dianggap menjadi ‘bank organ’ bagi kelompok berkuasa.”

Jumlah transplantasi organ di Tiongkok meningkat pesat sejak 1999. Pada 2006, tuduhan pengambilan organ dari praktisi Falun Gong terekspos secara internasional. Pemerintah sebelumnya menyatakan organ berasal dari narapidana hukuman mati, kemudian beralih ke klaim donor sukarela.

Investigasi oleh organisasi “World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong”  WOIPFG menyebutkan bahwa di bawah arahan pemerintah, transplantasi organ telah berkembang menjadi sistem nasional yang terorganisir.

 “Penyelidikan jangka panjang menunjukkan adanya upaya menutupi bencana HAM yang lebih dalam, termasuk dugaan pengambilan organ secara paksa,” ujar ketua organisasi tersebut, Wang Zhiyuan. 

Ia juga menyatakan bahwa praktik tersebut telah merusak batas moral dan sistem hukum, serta membentuk jaringan kejahatan yang meluas ke seluruh masyarakat.

Wang Zhiyuan mengatakan:  “Setiap tahun jutaan orang dilaporkan hilang, namun dalam sistem pengawasan ketat seperti sekarang, mereka tidak ditemukan. Jika dilihat dari usia dan proporsinya, sangat mungkin terkait dengan pengambilan organ, dan ini telah menjadi bencana sosial.”

Ia menambahkan bahwa dalam pandangan para pelaku, tubuh manusia dianggap sebagai sumber keuntungan besar, bahkan menjadi industri dengan profit tinggi.

Baru-baru ini, seorang dokter di Tiongkok mengungkap bahwa sebagian institusi medis mengaitkan upaya mendorong donasi organ dengan penilaian kinerja dokter, bahkan dimasukkan dalam sistem kenaikan jabatan—menimbulkan kontroversi etika.

Selain itu, di beberapa daerah, donasi organ dimasukkan dalam kategori “tindakan keberanian”, dengan imbalan berupa prioritas dalam pendidikan, promosi kerja, dan layanan medis.

Untuk mencari donor, di wilayah Jiaonan, Shandong, bahkan dilaporkan ada pengambilan sampel darah anak-anak di pedesaan untuk mengumpulkan data biologis.

Editor/Wawancara: Li Yun/ Pascaproduksi: Gao Yu


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengamat Ubedilah Soal Laporan Ujaran Kebencian ke Prabowo-Gibran: Memperburuk Demokrasi
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Perjuangan Ibu Hamil di Flores Timur NTT Lahirkan Tiga Bayi Kembar
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
3 Zodiak yang Dikenal Paling Suka Cemburu
• 22 jam lalubeautynesia.id
thumb
Main Children Of Heaven, Muhadkly Acho Curi Ilmu Sutradara dari Hanung Bramantyo
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Bupati Malang Lantik Anak Jadi Kadis, Hasto: Jangan Sampai Ada Praktik yang Tidak Adil
• 26 menit lalukompas.com
Berhasil disimpan.