REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Brian Yuliarto untuk memperkuat sinergi pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan olahraga di perguruan tinggi.
Penandatanganan yang berlangsung di Jakarta, Jumat (17/4/2026), menjadi langkah strategis memperkuat ekosistem olahraga nasional melalui pengembangan student athlete dan optimalisasi fasilitas olahraga kampus.
Baca Juga
Menpora Erick Thohir dan Gubernur Malut Perkuat Sinergi, Bidik Kebangkitan Prestasi Olahraga Daerah
Menkum Supratman Puji Menpora Erick yang Deregulasi 191 Permenpora Menjadi 4
Menpora Jajaki Kerja Sama dengan Qatar, Dorong Ekosistem Olahraga dan Sport Tourism Kelas Dunia
Erick menegaskan, kolaborasi lintas kementerian menjadi kunci dalam membangun kebangkitan olahraga Indonesia, terutama melalui pembinaan atlet yang berasal dari lingkungan perguruan tinggi.
“Sinergi antarkementerian menjadi kunci agar pelayanan publik semakin baik dan capaian pembangunan olahraga semakin maksimal,” ujar Erick.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut dia, kerja sama ini membuka ruang lebih besar bagi mahasiswa-atlet untuk menyeimbangkan pendidikan dan pengembangan prestasi olahraga. Bahkan, peluang pendidikan bagi student athlete disebut dapat diperluas hingga ke luar negeri.
“Saya sangat mengapresiasi inisiasi kerja sama ini. Kami sepakat membangun keolahragaan, termasuk menjaga talenta atlet melalui fasilitas pendidikan tinggi,” katanya.
Selain pengembangan atlet, MoU ini juga mencakup optimalisasi pemanfaatan fasilitas olahraga di lingkungan perguruan tinggi. Erick menilai infrastruktur olahraga kampus dapat menjadi bagian penting dalam sistem pembinaan atlet nasional.
Sementara itu, Brian Yuliarto menegaskan kampus memiliki peran strategis dalam melahirkan talenta olahraga, salah satunya melalui kompetisi seperti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional.
“Kita ingin mahasiswa memiliki kebiasaan berolahraga, hidup sehat, dan dari sana lahir atlet-atlet potensial,” ujar Brian.
Ia juga menilai perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam pengelolaan sarana olahraga, sehingga fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan lebih optimal oleh sivitas akademika maupun atlet mahasiswa.
“Betul sekali kampus sangat mungkin melakukan pengelolaan sarana olahraga, karena memiliki ekosistem pengguna yang kuat,” katanya.
Kerja sama ini diharapkan menjadi pijakan baru dalam memperkuat konektivitas antara pendidikan tinggi dan pembinaan olahraga nasional, sekaligus memperluas ruang lahirnya atlet berprestasi dari lingkungan kampus.