Komnas HAM Soroti Penembakan di Papua

rctiplus.com
2 jam lalu
Cover Berita
Komnas HAM Soroti Penembakan di PapuaNasional | okezone | Sabtu, 18 April 2026 - 16:44Dengarkan Berita

JAKARTA - Komnas HAM menyoroti penembakan di Papua yang menewaskan anak dan perempuan. Dalam peristiwa ini dilaporkan 12 warga sipil meninggal dunia termasuk kelompok rentan yaitu anak dan perempuan dengan kondisi luka tembak, belasan warga sipil lainnya mengalami luka-luka serius.

“Komnas HAM mengecam operasi penindakan TPNPB-OPM yang menyebabkan korban jiwa warga sipil. Operasi penindakan yang dapat dikategorikan operasi militer maupun operasi militer selain perang yang menimbulkan korban jiwa warga sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun,” kata Ketua Komnas HAM Anis Hidayah dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026).

Dia menyebutkan, segala bentuk serangan terhadap warga sipil dalam situasi perang maupun selain perang yang dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara merupakan pelanggaran HAM dan Hukum Humaniter Internasional yang menyebabkan pelanggaran atas hak hidup dan hak atas rasa aman. Kedua hak ini merupakan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Baca Juga:Tok! Komisi III DPR Sepakat Buat Panja Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

Komnas HAM menyampaikan keprihatinan dan duka yang mendalam atas kematian sejumlah warga sipil termasuk kelompok rentan yakni perempuan dan anak-anak. Dalam perspektif HAM warga sipil terutama kelompok rentan harus mendapat perhatian dan perlindungan maksimal dari semua pihak terutama negara.

“Komnas HAM meminta semua pihak menahan diri, terutama aparat keamanan dan TPNPB – OPM agar tidak menimbulkan ketakutan, stigmatisasi serta menjadikan warga sipil sebagai sasaran dalam konflik bersenjata dan menekankan setiap pendekatan penegakan hukum dan keamanan oleh aparat keamanan dilakukan secara profesional dan terukur dengan tetap menghormati nilai-nilai dan prinsip HAM,” ujar dia.

Komnas HAM meminta pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk megambil langkah- langkah perlindungan maksimal dan pemulihan bagi korban jiwa maupun luka-luka yaitu pemulihan kesehatan dan psikologis serta memastikan warga sipil lainnya tidak mengungsi karena alasan keamanan.

“Komnas HAM mendesak Panglima TNI untuk melakukan evaluasi terhadap operasi penindakan TPNPB-OPM yang dilakukan Satgas Habema dan proses penegakan hukum yang profesional, transparan dan tuntas demi tegaknya rasa keadilan bagi korban dan keluarganya,” tuturnya.

Baca Juga:Bantu Warga Urus Sertifikat, 40 Kantor Pertahanan di Jatim Tetap Beroperasi saat Lebaran

Terpisah, Koops TNI Habema buka suara pasca terjadinya 2 peristiwa berbeda di Kampung Kembru dan Kampung Jigiunggi, Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Selasa (14/4). TNI menegaskan kedua peristiwa tersebut tidak saling berkaitan.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Infanteri Wirya Arthadiguna menyampaikan pada 14 April lalu terjadi 2 peristiwa di Kabupaten Puncak. Peristiwa pertama terjadi di Kampung Kembru. Kemudian peristiwa kedua terjadi di Kampung Jigiunggi.

“Kejadian pertama terjadi pada 14 April 2026 di Kampung Kembru, Papua, di mana berdasarkan laporan masyarakat terdapat keberadaan kelompok bersenjata OPM di wilayah tersebut,” ungkap Wirya.

 

Atas informasi itu, prajurit TNI melaksanakan patroli dan pengecekan. Laporan yang dia terima menyebutkan bahwa saat tim tiba di lokasi kejadian, mereka langsung diberondong tembakan yang diletuskan oleh OPM. Kontak tembak pun terjadi. Prajurit TNI membalas tembakan OPM menggunakan tembakan balasan hingga kontak tembak selesai.

“Dalam peristiwa ini, empat orang dari kelompok bersenjata OPM dinyatakan meninggal dunia,” imbuhnya.

Baca Juga:Arus Mudik Jalur Pantura Semakin Padat Sore Ini, 3 Motor Alami Kecelakaan

Di sana, petugas mengamankan sejumlah barang bukti yang terdiri atas 1 pucuk senapan angin, amunisi kaliber 5,56 milimeter dan 7,62 militer, 1 selongsong peluru, busur dan anak panah, serta berbagai senjata tajam seperti parang, kapak, pedang, dan pisau. Barang bukti itu menjadi menegaskan keberadaan kelompok OPM di Kampung Kembru.

“Selain itu ditemukan pula perlengkapan komunikasi berupa beberapa unit telepon genggam dan handy talky (HT), bendera OPM, serta dokumen identitas dan perlengkapan pribadi lainnya,” katanya.

Peristiwa kedua, penjelasannya, terjadi di Kampung Jigiunggi. Saat itu, aparat TNI mendapat laporan dari kepala kampung bernama Venius Walia ihwal meninggalnya seorang anak akibat luka tembak. Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan oleh prajurit TNI. Dia memastikan, memang ada korban sebagaimana laporan yang telah diterima.

“Namun demikian, hingga saat ini masih dilakukan pendalaman dan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian,” jelas dia.

Baca Juga:Rampai Nusantara Apresiasi Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS

Dia menyampaikan bahwa tidak ada aktivitas prajurit TNI di Kampung Jigiunggi saat peristiwa penembakan terhadap korban terjadi. Kontak tembak di Kampung Kembru berbeda dengan peristiwa di Kampung Jigiunggi. Meski terjadi di hari yang sama, 2 kampung itu berada di lokasi yang berbeda.

“TNI berkomitmen untuk bertindak profesional, transparan, dan akuntabel dalam setiap pelaksanaan tugas,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polri Tangkap Pemilik Rekening Penampung Transaksi Narkoba Erwin The Doctor
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Di Depan Cendekiawan, Ketua DPD RI Soroti Kecanggihan AI Lampaui Profesor
• 20 jam laludetik.com
thumb
Cara Daftar Lowongan Kerja Manajer Kopdes Merah Putih, Ada 30.000 Posisi
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
SIGEULIS Bikin Listrik Lebaran Aman! Gangguan Listrik Turun 43,7%
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KPK Kejar Aset-aset di Kasus RPTKA Kemnaker untuk Pulihkan Keuangan Negara
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.