Menteri Lingkungan Hidup Hanif Klaim 65 Persen Masyarakat Denpasar dan Badung Sudah Memilah Sampah

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, DENPASAR – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengklaim 65% masyarakat Denpasar dan Badung sudah memilah sampah organik dan anorganik. 

Menurutnya capaian ini merupakan manifestasi hasil kerja dari seluruh komponen yang ada di Bali mulai dari Gubernur, Bupati, Walikota, Pangdam, Kapolda, Lurah hingga Desa Adat.

"Lebih dari 60% masyarakat Bali di Denpasar dan Badung sudah memilah sampah. Langkah ini tidak gampang. Semangat ini harus kita jaga dengan baik karena pemilahan sudah mencapai 65% bahkan mendekati 70%," jelas Hanif, Jumat (17/4/2026).

Hanif meminta Pemprov Bali untuk memberikan sanksi Tindak Pidana Ringan (Tipiring) bagi warga yang belum memilah. Menurutnya tidak adil bagi masyarakat yang sudah memilah sampah dengan baik jika kebijakan pemilahan sampah berbasis sumber ini tidak dilindungi dengan memberikan teguran dan paksaan kepada masyarakat yang tidak memilah atau bahkan membuang sampah sembarangan.

"Maka saya kira Pemerintah Provinsi Bali wajib mengenakan tipiring kepada masyarakat yang tidak memilah sampah,” kata Hanif.

Walaupun kedepannya akan dibangun Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), Menurut Hanif sampah yang dihasilkan oleh masyarakat harus tetap dipilah untuk memastikan input sampah yang digunakan benar-benar berkualitas.

“Waste to Energy memerlukan sampah berkualitas, maksudnya sampah yang terpilah dan dapat mereduksi nilai kalornya dan kapasitas mesinnya. Jadi sampah itu benar-benar jenis tertentu,” jelasnya.

Walaupun dalam praktiknya, PSEL mampu mengolah sampah campuran namun kualitas dan dampak pengolahan sangat dipengaruhi oleh kondisi sampah yang masuk ke dalam sistem. Sampah yang sudah dipilah dari sumber (seperti pemisahan sampah organik, anorganik dan residu) memiliki nilai kalor yang lebih stabil dan kandungan air yang lebih rendah. 

Kondisi ini membuat proses pembakaran di PSEL menjadi lebih efisien, menghasilkan energi listrik yang lebih optimal serta dapat menekan potensi emisi berbahaya.

Sebaliknya, jika sampah tidak dipilah dan tercampur seluruhnya, maka kandungan air yang tinggi dari sampah organik dapat menurunkan kualitas pembakaran. Hal ini berpotensi mengurangi efisiensi produksi listrik, meningkatkan beban operasional serta memerlukan pengolahan emisi yang lebih kompleks. 

Implikasi paling luas terlihat pada aspek pembiayaan. Efisiensi operasional yang lebih baik pada pengelolaan sampah terpilah berpotensi menekan kebutuhan subsidi maupun tipping fee yang bersumber dari APBN/APBD.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kondisi Geopolitik Global Belum Reda, Masyarakat Diminta Gunakan Energi Bijak
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Daulat Tempe dan Ujian Martabat Bangsa
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Antusias Sambut Rencana Insentif Penangkapan Ikan Sapu-sapu di Jaktim
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Eddy Soeparno Puji Langkah Prabowo Evaluasi MBG Jadi Lebih Tepat Sasaran
• 18 menit laludetik.com
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Cari Diskon saat Belanja Menurut Ilmu Psikologi
• 4 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.