Standar Keselamatan Penerbangan Indonesia Diuji di Tengah Tekanan Global

disway.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID-- Kecelakaan helikopter sipil di Kalimantan Barat (Kalbar) yang menewaskan seluruh awak dan penumpang tidak sekadar menjadi insiden transportasi, tetapi juga menguji kredibilitas sistem keselamatan penerbangan Indonesia di tengah tekanan standar global yang semakin ketat.

Insiden melibatkan helikopter Airbus EC130 T2 milik operator PT Matthew Air Nusantara yang jatuh di wilayah Kabupaten Sanggau, Kalbar  pada Kamis (16/4/2026).

BACA JUGA:Bareskrim Bongkar TPPU Sindikat Narkoba 'The Doctor', Aliran Dana Tembus Rp124 Miliar

Delapan orang dinyatakan meninggal dunia setelah pesawat sempat mengirimkan sinyal darurat sebelum hilang kontak dan akhirnya ditemukan tim SAR.

Pelaksana Tugas Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Endah Purnama Sari, dalam keterangan tertulisnya yang diterima InfoPublik, Jumat (17/4/2026) memastikan proses evakuasi telah dilakukan dan investigasi tengah berjalan.

Namun, di balik penanganan tersebut, insiden ini kembali membuka celah lama: lemahnya pengawasan penerbangan non-komersial di wilayah terpencil.

BACA JUGA:Jadwal Bioskop Trans TV Lengkap Sinopsis Tayang Malam ini 18 April 2026, Nonton Film Action Jackie Chan!

Kronologi kejadian menunjukkan adanya jeda antara sinyal darurat, status kehilangan kontak, hingga notifikasi darurat (DETRESFA). "Dalam standar internasional, kecepatan respons menjadi faktor penentu keselamatan,"imbuh Endah.

Keterlambatan respons, meskipun dalam hitungan menit, dapat berdampak signifikan terhadap peluang penyelamatan—terutama di wilayah dengan medan ekstrem seperti hutan Kalimantan.

Situasi ini memunculkan pertanyaan terhadap integrasi sistem antara operator, navigasi udara, dan prosedur tanggap darurat nasional, khususnya pada penerbangan berbasis operasi industri di daerah terpencil.

BACA JUGA:1.647 Personel Gabungan Amankan Laga Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK

Insiden ini terjadi saat Indonesia tengah memperkuat kepatuhan terhadap standar keselamatan global yang ditetapkan International Civil Aviation Organization (ICAO), badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menjadi rujukan utama keselamatan penerbangan dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatat peningkatan skor kepatuhan audit keselamatan. 

"Namun, tantangan utama bukan lagi pada regulasi, melainkan pada konsistensi implementasi di lapangan, terutama pada operator kecil dan penerbangan khusus," jelas Endah Purnama Sari. 

Di mata komunitas internasional, insiden di sektor ini kerap menjadi indikator nyata apakah sistem keselamatan nasional berjalan menyeluruh atau masih bersifat parsial.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hawks bangkit untuk tegaskan dominasi atas RANS di musim reguler IBL
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Avtur Naik Tajam, Pariwisata Nasional Hadapi Tekanan Baru
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Buka LCC 4 Pilar MPR RI, Siti Fauziah Ajak Siswa Teladani Semangat Sai Bumi Ruwa Jurai
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Iran Umumkan Selat Hormuz Sepenuhnya Terbuka untuk Kapal Komersial
• 14 jam laludetik.com
thumb
10 Pelaku Penganiayaan Kades Pakel Lumajang Ditangkap, Mengaku Diperintah Seseorang Karena ini
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.