Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Surabaya
Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa strategi utama kementerian terbagi dalam dua pilar besar, yakni revitalisasi dan transformasi. Untuk mendukung langkah tersebut, porsi anggaran yang signifikan telah disiapkan, terutama untuk memperbaiki kualitas hidup di kawasan transmigrasi yang sudah ada.
“Tetapi pun demikian tetap ada insentif anggaran bajet kami lebih dari 35% itu adalah untuk revitalisasi. Jadi program besar transmigrasi itu ada dua. Satu revitalisasi, yang kedua adalah transformasi. Nah revitalisasi itu sendiri akan memakan bajet 35% untuk 154 kawasan transmigrasi,” ujar Iftitah usai menghadiri Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, Sabtu 18 April 2026.
Bentuk konkret dari revitalisasi ini difokuskan pada pemenuhan infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan vital masyarakat. Pembangunan ini mencakup berbagai aspek fisik yang selama ini menjadi penunjang utama produktivitas dan kesejahteraan warga di lokasi transmigrasi secara merata.
“Jadi bentuk nyatanya konkretnya adalah pembunuhan infrastruktur dasar. Seperti air kemudian listrik, kemudian juga jalan, dan sarana lainnya. Jembatan, kemudian perbaikan sekolah, toilet, dan sebagainya. Itu 35% yang akan dialokasikan untuk revitalisasi. Artinya insentif untuk seluruh kawasan transmigrasi akan merata. Hanya yang untuk transmigrasi patriot tadi adalah bentuknya transformasi,” jelas Mentrans.
Selain masalah infrastruktur, Mentrans Iftitah juga menyoroti potensi ekonomi yang beragam di setiap wilayah. Ia menekankan bahwa kawasan transmigrasi kini memiliki tematik yang luas dan tidak hanya terbatas pada sektor pertanian pangan, tetapi juga mencakup perkebunan, perikanan, hingga pariwisata.
“Saya juga harus dengan bangga menyampaikan bahwa kementerian transmigrasi itu punya tematik di tiap-tiap kawasan. Banyak yang baru menyadari bahwa ternyata potensi di kawasan transmigrasi tidak melulu hanya pertanian. Ada juga perkebunan, seperti sawit, misalkan. Kemudian ada juga, kalau pertanian pangan sudah pasti, seperti padi dan sebagainya. Tapi juga ada perikanan, kelautan, bahkan pertambangan dan pariwisata,” tuturnya.
Lebih lanjut, Mentrans mengungkapkan adanya potensi besar di sektor energi yang berada di dalam Hak Pengelolaan Lahan (HPL) transmigrasi. Ia mencatat adanya koordinasi strategis dengan SKK Migas untuk mengoptimalkan kekayaan alam tersebut bagi kemaslahatan masyarakat.
“Seperti di beberapa tempat, misalkan kemarin seharusnya saya juga nanti akan bertemu lagi dengan dari SKK Migas. SKK Migas meminta ada ditemukan sekitar 13 sumur baru untuk minyak di Kutai Kartanegara. Setelah sebelumnya ada 79 sumur yang berada di HPL transmigrasi yang telah diberdayakan. Juga ada beberapa tempat yang isinya juga batu bara. Ini juga yang nanti akan kami kembangkan untuk kepentingan dan kemasalahan rakyat bersama,” pungkas Mentrans.
Editor: Redaksi TVRINews





