jpnn.com, JAKARTA - Kasus dugaan pelecehan seksual belakangan ini tengah menjadi sorotan publik.
Salah satu yang ramai diperbincangkan publik adalah dugaan pelecehan seksual yang terjadi di perguruan tinggi.
BACA JUGA: Giwo Rubianto Kecam Dugaan Pelecehan Seksual di FH UI, Kampus Wajib Jadi Ruang Aman Digital
Lalu apa dampak pelecehan seksual terhadap korban?
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Sani Budiantini Hermawan menjelaskan, ada banyak dampak yang biasanya dirasakan oleh korban.
BACA JUGA: Sambut Era CoreTax, Akuntara Hadir untuk Berdayakan Lulusan SMK
Dua dampak yang biasanya yang langsung dirasakan oleh korban adalah munculnya rasa cemas dan ketakutan.
Kemudian, akibat pelecehan seksual yang dialaminya, korban juga akan merasa kesulitan untuk mempercayai orang lain.
BACA JUGA: Fenomena Kasus Pelecehan Seksual di FHUI hingga ITB, Abdul Fickar Mengingatkan Hal Ini
"Yang terutama sekali muncul biasanya rasa kecemasan yang tinggi, ketakutan, insecure, kadang-kadang menyalahkan diri sendiri, walaupun bukan kesalahannya. Kemudian juga ada bentuk rasa tidak percaya kepada orang," ujar Sani kepada JPNN.com, Sabtu (18/4).
Tak hanya itu, acapkali korban mengalami mimpi buruk, gangguan mood, penurunan napsu makan, hingga menarik diri dari lingkungan sekitarnya.
Sani menuturkan, kadang kala korban pelecehan seksual juga mengalami trauma atau luka batin, dan PTSD (Post-traumatic Stress Disorder).
"Sebagian orang akhirnya muncul lah PTSD, post-traumatic stress disorder, di mana korban pelecehan seksual itu akan, setelah 6 bulan bisa mengalami gangguan kecemasan atau stres atau depresi berkepanjangan," tuturnya.
Oleh karena itu, dia mengingatkan untuk merangkul orang-orang yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual.
Sani mengungkapkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan apabila orang terdekat kita menjadi korban pelecehan seksual.
Mulai dari menemani, mendengarkan ceritanya, hingga memberikan rasa aman.
"Kalau ada teman yang menjadi korban pelecehan seksual, bagusnya kita temani dan berikan dia rasa aman. Dengarkan dia curhat. Jangan sama sekali disalahkan, jangan dikomentari secara negatif, dan jangan dilabeli," ucap Sani.
"Tetap dengarkan saja, berikan validasi atas emosinya, serta berikan rasa aman dan nyaman," sambungnya.
Namun jika kondisi korban tampak perlu bantuan dari tenaga profesional, maka jangan ragu untuk mengajaknya konseling ke psikolog.
"Kalau perlu, bimbing dan ajak dia ke psikolog. Atau kalau memang perlu menyelesaikan masalah ini secara legal, kita bisa mendampinginya melapor ke polisi atau ke bagian hukum terkait," kata Sani.
"Kita juga bisa bahu-membahu dengan teman-teman yang lain untuk membentuk support system yang kuat, supaya korban tidak merasa sendiri dan tidak merasa ditinggalkan," tambahnya. (mcr7/jpnn)
Redaktur : Yessy Artada
Reporter : Firda Junita




