Medan, VIVA – Penanganan penyakit saraf seperti stroke dan tumor otak kini memasuki babak baru. Di tengah kebutuhan akan tindakan medis yang cepat dan akurat, teknologi bedah berbasis navigasi mulai memainkan peran penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan pasien.
Perkembangan ini terlihat dalam gelaran Siloam Fair 2026 yang berlangsung di Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan. Selain menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat, acara ini juga menjadi ajang pengenalan teknologi medis yang semakin canggih untuk menangani kasus-kasus kompleks. Scroll untuk informasi selengkapnya!
Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah Medtronic Neuronavigasi S8. Sistem ini memungkinkan dokter melakukan operasi dengan panduan citra real-time, sehingga area tindakan bisa dipetakan dengan sangat detail—bahkan hingga tingkat sub-milimeter.
Teknologi seperti ini dinilai krusial dalam penanganan penyakit seperti stroke, tumor otak, hingga gangguan saraf lainnya yang membutuhkan tingkat presisi tinggi. Kesalahan kecil dalam prosedur dapat berdampak besar, sehingga akurasi menjadi faktor utama.
Head of Neuroscience Team Siloam Hospitals, Michael Lumintang Loe, menjelaskan bagaimana teknologi navigasi mengubah pendekatan dalam operasi bedah saraf.
“Dalam tindakan bedah saraf seperti operasi penyakit tumor otak, saraf kejepit, dan stroke, teknologi navigasi memungkinkan kami beroperasi dengan tingkat presisi yang lebih tinggi hingga mencapai skala sub-milimeter secara real-time, yang memberikan outcome menjadi lebih baik. Dengan dukungan fitur seperti image fusion dan tractography, kami dapat mengidentifikasi sekaligus memitigasi risiko kerusakan pada struktur saraf yang kritikal. Hal ini memastikan seluruh tahapan, mulai dari perencanaan hingga eksekusi operasi, berjalan jauh lebih optimal,” jelas Michael dalam keterangannya, dikutip Sabtu 18 April 2026.
Tak hanya soal akurasi, kemudahan penggunaan juga menjadi nilai tambah dalam praktik klinis sehari-hari.
“Sistem ini memiliki kemampuan integrasi yang sangat baik dengan perangkat medis yang sudah kami miliki, seperti 3D C-Arm. Selain itu, desainnya yang ergonomis dan user-friendly sangat membantu tim bedah dalam menjalankan prosedur yang kompleks secara lebih nyaman, fokus, dan efisien,” tambahnya.
Dukungan terhadap penggunaan teknologi ini juga datang dari sektor industri alat kesehatan, salah satunya PT Itama Ranoraya Tbk. Direktur Utamanya, Heru Firdausi Syarif, menilai kolaborasi menjadi kunci dalam memperluas akses inovasi medis.





