Indonesia membidik peluang untuk mengisi pasar kerja internasional di beberapa negara yang terbuka luas. Kini pemerintah berorientasi memenuhi permintaan global untuk pekerja migran dengan keterampilan menengah dan tinggi dari lulusan pendidikan vokasi dan perguruan tinggi.
Nur Fadli (35) yang kini menjadi wirausahawan kafe Son of Dennis di Sydney, Australia, bersyukur dengan tempaan para guru di sekolahnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelautan dan Perikanan Puger di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ia sudah mendengar, alumni SMK Puger ini bisa disalurkan untuk bekerja di beberapa negara, salah satunya Jepang.
”Ketika lulus SMP (sekolah menengah pertama), saya memang ingin ke SMK Puger supaya bisa kerja ke luar negeri. Saya merasa berada di luar negeri bisa makin membuat saya berkembang. Saya bersyukur SMK Puger jadi jembatan bagi saya untuk mengenal dunia luar,” kata Fadli saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Pendidikan di SMK Kelautan dan Perikanan Puger dikenal memiliki jaringan kuat dengan berbagai perusahaan terkait maritim di luar negeri. Para siswa yang berminat bekerja di luar negeri mendapat pelatihan bahasa dan budaya Jepang, bahkan diajar langsung oleh guru yang berpengalaman langsung kerja di Jepang.
Bekerja selama tiga tahun di Jepang membuat Fadli bisa memiliki tanah dan rumah di Jember. Namun, ia menjualnya saat ingin kembali berkarier di luar negeri. Ketika itu, ia membidik Australia karena sekalian ingin kuliah bersama dengan istrinya.
”Saya bisa kuliah sambil bekerja di bidang keuangan dan hospitality di Australia sampai akhirnya saya jadi ingin memperkuat wirausaha. Saya tidak menyangka dari anak desa bisa membangun kehidupan layak di luar negeri,” kata Fadli yang mampu berbahasa Jepang dan Inggris.
Sementara Samsul Huda, yang pernah berkarier sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jatim, mendapat peluang jadi assistant professor di Okayama University, Jepang. Ia lulusan D-4 Teknik Telekomunikasi di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan melanjut ke S-2 terapan di PENS dan berkesempatan ikut pertukaran mahasiswa ke Jepang.
Jalan terbuka bagi Samsul yang mempunyai berbagai prestasi ilmiah untuk mendapat beasiswa S-3 ke Jepang. Ketika kembali tahun 2020 ke Indonesia, Samsul jadi dosen sembari tetap menjalin relasi dengan profesornya di Jepang. ”Setelah dua tahun di Indonesia, ada kesempatan bekerja di Jepang sebagai assistant professor hingga saat ini,” kata Samsul.
Samsul tentu tak menolak kesempatan baik bekerja di salah satu kampus di Jepang. Ada peluang pengembangan karier, fasilitas, dan dukungan riset. ”Juga menambah pengalaman, khususnya paparan internasional,” ujarnya.
Fadli dan Samsul merupakan sebagian kecil pekerja migran dari Indonesia yang merupakan lulusan perguruan tinggi. Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), pada tahun 2021-2025, hanya 3,1 persen pekerja migran Indonesia lulusan diploma, sarjana, maupun pascasarjana dari total lebih 1 juta orang yang dikirim.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Said Saleh Alwani mengatakan, sumber daya manusia dari lulusan pendidikan menengah dan tinggi di Indonesia punya peluang mengisi pasar kerja internasional.
Apalagi persiapan diintegrasikan sejak dalam pendidikan, seperti penguatan kemampuan bahasa dan budaya, serta memenuhi standar kompetensi internasional, Indonesia bisa jadi solusi bagi negara yang butuh pekerja migran berketerampilan tinggi.
Sayangnya sistem perekrutan pekerja migran dari Indonesia untuk nonlulusan perguruan tinggi jauh lebih siap sehingga lebih mudah memenuhi kebutuhan pasar kerja luar negeri. Pada tahun 2025, Indonesia mengirim hampir 300.000 pekerja migran ke beberapa negara, tetapi 67 persennya bukan lulusan pendidikan tinggi dengan keterampilan tinggi.
”Sebenarnya permintaan terhadap lulusan pendidikan tinggi cukup besar. Namun, ekosistem yang mendukung pengembangan talenta global dari perguruan tinggi di Indonesia belum terbentuk dengan baik sehingga peluang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Said menyatakan hal itu dalam Forum Diskusi dan Sosialisasi tentang Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia di Luar Negeri melalui Penguatan Career Development Center (CDC) di Perguruan Tinggi yang digelar Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, beberapa waktu lalu.
Permintaan terhadap lulusan pendidikan tinggi cukup besar. Namun, ekosistem yang mendukung pengembangan talenta global dari perguruan tinggi di Indonesia belum terbentuk dengan baik sehingga peluang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, negara-negara Timur Tengah, dan Singapura saat ini kekurangan tenaga kerja pada berbagai sektor seperti perawat (caregiver), manufaktur, konstruksi, perhotelan, migas, maritim, kesehatan, serta bidang teknologi digital.
Pada saat yang sama, negara-negara Eropa dan Laut Baltik tengah menghadapi aging population atau populasi menua, di mana proporsi penduduk lanjut usia atau lansia lebih banyak dibandingkan usia produktif sehingga membutuhkan lebih banyak lagi tenaga caregiver.
Tingginya angka kebutuhan tenaga terampil (skilled workers) di berbagai belahan negara jadi peluang menjanjikan bagi Indonesia untuk memperluas kontribusi tenaga kerja profesional di pasar kerja global. Selain itu, Indonesia tengah menikmati bonus demografi yang menghasilkan banyak usia produktif.
”Ada sangat banyak peluang yang bisa kita manfaatkan dengan baik. Selama ini talenta global tenaga terampil didominasi dari India. Ini saatnya kita ambil porsi lebih besar dengan menyiapkan formula efektif untuk memasifkan kerja ke luar negeri, khususnya lulusan perguruan tinggi,” kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan.
Menurut Fauzan, tenaga terampil yang menjadi talenta global pada gilirannya akan menghasilnya brain circulation yang berkontribusi menyiapkan landasan pacu bagi Indonesia Emas 2045. Secara ekonomi pun berkontribusi signifikan bagi pendapatan negara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan KP2MI, jumlah pekerja migran Indonesia yang ditempatkan ke luar negeri mencapai sekitar 296.000 orang, dengan total remitansi yang dihasilkan mencapai sekitar Rp 280 triliun. Angka ini menunjukkan kontribusi signifikan pekerja migran terhadap perekonomian nasional.
Diperkirakan ada peluang kerja internasional mencapai 1,5 juta pekerja. Pada tahun 2026, Indonesia menargetkan mengirim 500.000 pekerja migran ke beberapa negara.
Kerja sama Kemendiktisaintek dan KP2MI untuk menyiapkan permintaan pekerja migran berkemampuan tinggi dari lulusan perguruan tinggi digagas melalui penguatan CDC di perguruan tinggi dengan migrant center yang dikembangkan KP2MI. Sinergi ini ditargetkan memberi hasil maksimal bagi penyiapan tenaga terampil siap bekerja di luar negeri.
Keberadaan Pusat Pengembangan Karier atau CDC berjumlah 170 di perguruan tinggi selama ini berperan strategis sebagai penghubung antara dunia pendidikan dan dunia kerja. CDC tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan karier bagi mahasiswa dan alumni.
Adanya CDC juga berperan mempersiapkan lulusan agar memiliki kesiapan kerja global melalui penguatan kompetensi, fasilitasi sertifikasi, pelatihan bahasa, pengembangan soft skills atau keterampilan nonteknis, serta penyediaan informasi peluang kerja internasional.
Anggun Puspitarini Siswanto, Tim Task Force Kebekerjaan Lulusan yang juga Kepala Kantor Hilirisasi dan Inkubasi Bisnis Universitas Diponegoro, mengutarakan, CDC di perguruan tinggi perlu bertransformasi untuk menjawab tantangan dalam menyiapkan talenta global sejak di kampus.
Menurut Anggun, model CDC-Migrant Center bisa dikembangkan untuk memperkuat kompetensi global para lulusan perguruan tinggi. Pusat Kebekerjaan Luar Negeri bisa menjadi bagian layanan CDC khusus berfokus pada penyiapan, pendampingan, dan fasilitasi mahasiswa serta alumni yang berminat bekerja di luar negeri.
Pusat ini dapat berfungsi sebagai pusat informasi peluang kerja internasional, penguatan kompetensi global, serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, asosiasi profesi, serta dunia industri dalam persiapan hingga penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
”Integrasi layanan CDC dan Pusat Kebekerjaan Luar Negeri di perguruan tinggi diharapkan dapat membangun ekosistem penyiapan tenaga kerja global lebih sistematis, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Dengan demikian, mobilitas tenaga kerja Indonesia dapat berlangsung secara profesional, aman, dan bermartabat,” kata Anggun.
Apalagi, setiap kampus memiliki karakteristik berbeda-beda. Peran CDC berkolaborasi secara internal untuk membangun kapasitas mahasiswa hingga siap menjadi pekerja migran sesuai keunggulan kampus yang dibutuhkan di luar negeri.





