JAKARTA, KOMPAS.com - Permintaan skor tinggi dalam tes Test of English as a Foreign Language atau TOEFL kerap dianggap sebagai tujuan utama peserta.
Namun di balik praktik perjokian TOEFL prediction, logika itu justru terbalik.
Para klien tidak mengejar nilai setinggi mungkin. Mereka memilih skor aman, realistis, dan tidak mencolok.
“Lucunya mereka enggak mau nilai tinggi. Mereka takut kalau dapat 600 malah dicurigai. Jadi rata-rata minta yang wajar saja,” kata Kevin (26), joki TOEFL prediction, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/4/2026).
Baca juga: Saya Harus Ulang Semester, Rugi Banget Cerita di Balik Mahasiswa Pakai Joki TOEFL
Kevin (bukan nama sebenarnya), lulusan Sastra Inggris dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, mengaku telah menjadi joki sejak 2020.
Ia mengerjakan tes prediction, terutama bagian listening dan structure, baik secara daring maupun luring.
Dari pengalamannya, mayoritas klien justru menghindari skor tinggi.
“Kalau minta 450 atau 475 itu biasanya. Jarang yang berani minta 550 ke atas. Apalagi 600, itu sudah terlalu mencolok untuk ukuran prediction,” ujar dia.
Menurut Kevin, klien umumnya mahasiswa semester akhir yang terdesak syarat administratif kampus.
Mereka telah menyelesaikan skripsi, tetapi tertahan karena belum memenuhi skor minimal TOEFL prediction untuk mendaftar sidang atau wisuda.
Tarif jasa joki bervariasi. Paket dasar untuk skor minimal dipatok sekitar Rp 350.000–Rp 400.000.
Baca juga: Dibanderol Rp 350.000-Rp 700.000, Begini Skema Bisnis Joki TOEFL Prediction
Jika klien meminta skor lebih tinggi atau sertifikat keluar cepat, tarif bisa bertambah.
Namun, Kevin menegaskan ada aturan tak tertulis di antara joki, skor tidak boleh terlalu tinggi agar tidak memancing kecurigaan.
“Kalau tiba-tiba nilainya melonjak drastis dari sebelumnya, itu malah bahaya buat klien,” ucap dia.
Mahasiswa: Sengaja Minta Nilai Lebih Rendah
Pengakuan serupa datang dari mahasiswa yang pernah menggunakan jasa tersebut.
Rafi (22), mahasiswa di Depok, mengatakan ia justru meminta skor yang tidak terlalu tinggi agar terlihat wajar.
“Iya, saya sengaja minta lebih rendah dulu. Takut kalau skornya tinggi banget malah aneh,” kata Rafi saat dihubungi.
Rafi mengaku menggunakan jasa joki karena terancam tidak bisa ikut wisuda.