Pantau - Center of Economic and Law Studies mengingatkan pentingnya pengawasan BBM subsidi di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berpotensi memicu pergeseran konsumsi masyarakat dan industri.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adhinegara menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan hal yang wajar karena mengikuti harga pasar dan Indonesian Crude Price.
Ia menyoroti lonjakan harga Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter yang dinilai cukup signifikan.
"Cuma yang harus diperhatikan, misalnya, yang saya khawatir itu Pertamina Dex naiknya 60 persen, dan Pertamina Dex ini bukan cuma untuk kendaraan yang dibilang menengah ke atas, tapi juga mesin-mesin industri, alat-alat berat di sektor pertambangan, di sektor sawit itu juga banyak yang membeli Pertamina Dex," ujarnya.
Menurutnya, kenaikan tersebut berpotensi mendorong peralihan konsumsi ke solar subsidi.
"Jadi nanti akan berpengaruh pada pasokan solar juga. Ada kebocoran di situ, ya. Jadi pengawasan terhadap solar subsidi ini juga harus ketat, terutama di luar pulau Jawa, baik yang digunakan untuk logistik, maupun untuk alat-alat berat seperti tadi, ya, (contohnya) di (sektor industri) pertambangan, di perkebunan," kata Bhima.
Bhima menekankan perlunya pengetatan pengawasan agar tidak terjadi kebocoran yang semakin besar akibat selisih harga yang lebar antara BBM subsidi dan nonsubsidi.
"Nah ini harus ada pengetatan, jangan sampai terjadi kebocoran yang semakin masif karena pergeseran dan selisih harga yang terlalu jauh antara solar subsidi dan solar nonsubsidi," ujarnya.
Kenaikan harga juga dinilai berpotensi menggeser konsumen Pertamax Turbo ke Pertamax.
Harga Pertamax Turbo di DKI Jakarta tercatat naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter.
"Kalau untuk Pertamax Turbo kenaikannya cukup tinggi, pasti akan berkurang konsumsinya. Tapi akan bergeser ke mana? Bergesernya ke Pertamax. Pertamax selisih harga keekonomiannya juga masih lebar," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi bersifat sementara mengikuti tren harga minyak global, termasuk dipengaruhi oleh penurunan eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Celios menyarankan pemerintah memberikan insentif kepada pelaku industri pengguna BBM nonsubsidi guna meringankan biaya produksi dan mencegah efisiensi berlebihan hingga pemutusan hubungan kerja.




