Bhima Yudhistira Adhinegara Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) mengingatkan pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, di tengah lonjakan harga BBM nonsubsidi yang terjadi belakangan ini.
Menurut Bhima, kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi oleh tren harga pasar global serta meningkatnya Indonesian Crude Price (ICP).
“Cuma yang harus diperhatikan, misalnya, yang saya khawatir itu Pertamina Dex naiknya 60 persen, dan Pertamina Dex ini bukan cuma untuk kendaraan yang dibilang menengah ke atas, tapi juga mesin-mesin industri, alat-alat berat di sektor pertambangan, di sektor sawit itu juga banyak yang membeli Pertamina Dex,” katanya dilansir dari Antara pada Minggu (19/4/2026).
Dengan kenaikan harga Pertamina Dex dari Rp14.500 per liter ke Rp23.900 per liter, ia mengingatkan adanya potensi pergeseran konsumen untuk menggunakan solar subsidi yang tidak mengalami kenaikan harga. Hal ini dikhawatirkan akan berpengaruh pada pasokan solar subsidi.
“Jadi nanti akan berpengaruh pada pasokan solar juga. Ada kebocoran di situ, ya. Jadi pengawasan terhadap solar subsidi ini juga harus ketat, terutama di luar pulau Jawa, baik yang digunakan untuk logistik, maupun untuk alat-alat berat seperti tadi, ya, (contohnya) di (sektor industri) pertambangan, di perkebunan,” jelas Bhima.
“Nah ini harus ada pengetatan, jangan sampai terjadi kebocoran yang semakin masif karena pergeseran dan selisih harga yang terlalu jauh antara solar subsidi dan solar nonsubsidi,” ujarnya menambahkan.
Bhima menilai, hal ini juga bisa berpengaruh kepada konsumen Pertamax Turbo untuk beralih ke BBM jenis Pertamax yang juga tidak mengalami kenaikan harga.
Adapun harga Pertamax Turbo untuk wilayah DKI Jakarta per 18 April ini naik sebesar Rp19.400 per liter dari harga per 1 April 2026 sebesar Rp13.100 per liter.
“Kalau untuk Pertamax Turbo kenaikannya cukup tinggi, pasti akan berkurang konsumsinya. Tapi akan bergeser ke mana? Bergesernya ke Pertamax. Pertamax selisih harga keekonomiannya juga masih lebar,” ujar dia.
Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex oleh pemerintah bersifat temporer menyusul harga minyak yang cenderung turun karena menurunnya pula eskalasi perang Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Oleh karena itu, Bhima menyarankan selain ada pengawasan yang lebih ketat, diperlukan juga insentif bagi pelaku usaha yang membeli BBM nonsubsidi.
“Kemudian juga mungkin harus diberikan semacam insentif (bagi industri) sebagai meringankan biaya produksi karena beban biaya produksinya bisa semakin naik kalau tetap beli BBM yang nonsubsidi seperti Pertamina Dex tadi, sehingga kenaikan beban biaya produksi tidak membuat terjadinya efisiensi atau PHK,” tutupnya. (ant/ily/saf/iss)



