Menggapai Kampus Top RI dari Timur Indonesia

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Yusril Pelu, siswa SMA asal Ambon, sudah menargetkan masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak SMP. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai “Pejuang Gamada” alias Gajah Mada Muda, sebuah identitas yang ia pegang sejak lama sebagai simbol tekadnya menembus kampus impian.

Baginya, pilihan itu bukan keputusan mendadak. Ia sudah menyiapkan diri sejak kelas 11, mulai dari ikut les, riset jurusan, hingga berdiskusi dengan orang tua soal biaya hidup.

Bahkan ia aktif mengikuti kegiatan berbasis ekonomi untuk menunjang pengetahuannya bila lolos di prodi pilihannya, Manajemen di UGM. Pada tahun ini dirinya akan bertarung melalui jalur SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) yang akan berlangsung pada pada 21–30 April 2026.

"Untuk persiapan, biaya dipersiapkan dari kelas 11 SMA," cerita Yusril kepada kumparan, Kamis (16/4).

Siswa berusia 17 tahun ini memilih UGM karena dinilai Yogyakarta memiliki biaya hidup yang relatif lebih terjangkau, serta peluang kerja lulusan yang dinilai lebih baik.

"Karena saya pikir di sana biaya hidupnya murah. Karena di Yogyakarta juga dijuluki kota pelajar. Karena UGM sekarang mungkin bekerja sama dengan SMA Siwalima. Jadi menurut saya peluang untuk masuk UGM itu bisa [terwujud]," tambahnya.

Lain Yusril, lain lagi Jayra Latuputty. Pemuda berusia 20 tahun ini sempat mengincar kampus top di Pulau Jawa, tetapi akhirnya memilih tetap di Ambon, tepatnya kuliah Universitas Pattimura (Unpatti). Alasannya, kata dia, biaya hidup yang tinggi, jarak yang jauh dari keluarga, serta risiko homesick mengintai di Jawa.

"Sempat tertarik banget ke PTN di Pulau Jawa seperti Universitas Indonesia (UI) jurusan Ilmu Komunikasi, karena kampus itu salah satu top-tier dengan jaringan alumni luas dan fasilitas canggih," jelas Jayra kepada kumparan Jumat (17/4).

"Tapi akhirnya saya mundur karena biaya hidup mahal, jauh dari keluarga , dan risiko cuaca ekstrem plus biaya penerbangan pulang-pergi ke Ambon. Lebih realistis stay di Unpatti yang dekat dan tetap berkualitas," tambahnya.

Peminat Top Kampus RI dari Indonesia Timur

Dibandingkan siswa-siswi di Pulau Sumatera atau Pulau Kalimantan, minat siswa-siswi dari wilayah Kawasan Indonesia Timur (KIT) untuk mendaftar di SNBT dan memilih kampus-kampus top di Pulau Jawa masih terhitung kecil. Temuan tersebut kami peroleh melalui penarikan data dari situs SNPMB, dengan fokus pada sebaran peminat berdasarkan asal provinsi pendaftar.

Untuk mempersempit analisis, kami memilih lima kampus dengan peringkat tertinggi versi QS World University Rankings 2025. Kelima universitas tersebut adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor.

Mengacu pada definisi wilayah oleh Kementerian PPN/BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), KIT mencakup empat gugus pulau utama, yaitu Sulawesi, Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Adapun empat pulau tersebut terdiri dari 13 provinsi.

Dalam lima tahun terakhir, sebenarnya ada sinyal positif. Jumlah peminat di top 5 kampus di Indonesia dari kawasan ini meningkat, bahkan melebihi 100 persen. Namun, pertumbuhan tersebut belum merata. Di wilayah Maluku dan Papua, kenaikan jumlah peminat hanya berada di angka 79,32 persen, lebih rendah dibandingkan dengan kawasan timur lainnya.

Bahkan di 2025, terlihat jelas bahwa posisi terbawah diisi oleh provinsi dari Pulau Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sulawesi Barat menjadi provinsi dengan jumlah pendaftar paling rendah, yakni hanya sebesar 259 peminat. Angka ini berbanding sangat jauh jika dibandingkan dengan Sumatera Utara yang memimpin di posisi puncak dengan 14.042 peminat.

Tren rendahnya minat ini juga terlihat di provinsi-provinsi timur lainnya. Papua Barat menyusul di posisi kedua terendah dengan 356 peminat, diikuti oleh Gorontalo (413 peminat), Maluku Utara (548 peminat), dan Maluku (694 peminat).

UGM Sebagai Kampus Favorit

Peningkatan minat mahasiswa asal Indonesia Timur juga terlihat jelas di UGM. Dari data yang dihimpun, kampus ini konsisten menjadi “magnet” utama bagi calon mahasiswa dari kawasan tersebut.

Dalam lima tahun terakhir, UGM selalu mencatat jumlah peminat tertinggi dari Pulau Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, mengungguli empat kampus top lainnya.

Dari total 15.056 putra-putri terbaik Indonesia Timur yang bertarung untuk masuk di lima kampus top tersebut, hampir 30,64% di antaranya menjatuhkan pilihan pada UGM.

Gandes Retno, Direktur Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada, mengakui bahwa Yogyakarta menjadi faktor penting daya pikat peminat asal Pulau Luar Jawa.

"Lokasinya di Yogyakarta juga menjadi faktor penting—kota yang dikenal ramah, biaya hidupnya relatif rendah, dan memiliki atmosfer akademik yang kuat. Dengan demikian, mahasiswa luar Jawa tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga lingkungan hidup yang mendukung," jelas Gandes Retno, saat diwawancarai kumparan Senin (13/4).

Selain lokasi, UGM juga aktif menyediakan fasilitas hingga bantuan biaya untuk mahasiswa luar Pulau Jawa.

"Terdapat berbagai skema beasiswa seperti KIP Kuliah, afirmasi daerah 3T, serta beasiswa dari mitra swasta dan BUMN," tambah Gandes.

Penyebab Rendahnya Peminat dari KIT

Satriwan Salim Koordinasi Nasional P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) menjelaskan bahwa kisah menuju PTN top tidak merata di daerah timur. Menyebabkan minimnya imajinasi siswa SMA.

"Sehingga imajinasi mereka untuk berkuliah di Pulau Jawa itu rasanya akan terlalu tinggi, terlalu sulit untuk dicapai," ungkap Satriawan dalam wawancara bersama kumparan, Kamis (16/4).

"Persoalan imajinasi anak-anak dari daerah yang mereka tidak berani punya imajinasi yang tinggi untuk berkuliah di UI misalnya, di ITB misalnya, di UGM misalnya gitu," tambahnya.

Namun, Satriawan menegaskan bahwa ada hal dasar yang harus lebih diperhatikan. Yaitu rendahnya partisipasi pendidikan tinggi.

“Persoalan dasar kita adalah rendahnya angka partisipasi kasar pendidikan tinggi. Ini jangankan berkuliah di Jawa, di daerahnya sendiri mereka tidak bisa kuliah,” jelas Satriawan.

Ia menekankan bahwa persoalan utama bukan hanya soal akses ke kampus top, tetapi akses ke pendidikan tinggi itu sendiri. Karena itu, diperlukan intervensi kebijakan yang lebih kuat di tingkat daerah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tol Laut NPEA Disebut Solusi Macet Horor Tanjung Priok, Ini Dampak dan Tantangannya
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Emiten Kesehatan Dibayangi Pelemahan Rupiah, OMED dan PRDA Pasang Kuda-Kuda
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
BNI Pastikan Pengembalian Dana Paroki Aek Nabara Senilai Rp28 Miliar Selesai Pekan Ini
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Iran Kembali Perketat Kendali Selat Hormuz, Trump: Amerika Tak Bisa Diperas
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Feri Amsari Dilaporkan Karena Kritik Swasembada Pangan, YLBHI & Menteri HAM Buka Suara
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.