Macron Kutuk Serangan ke Pasukan UNIFIL di Lebanon yang Tewaskan Tentaranya

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Seorang tentara Prancis tewas dan 3 lainnya terluka dalam misi penjaga perdamaian UNIFIL PBB saat 'membersihkan jalan' di Lebanon selatan. Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengutuk serangan tersebut.

"Mengutuk serangan yang tidak dapat diterima," kata kantor Macron dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, Minggu (19/4/2026).

Hal itu disampaikan Macron saat melakukan pembicaraan di telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam.

Selain 1 orang tewas, tiga anggota UNIFIL lainnya terluka. Dua di antaranya mengalami luka serius.

Baca juga: 1 Pasukan UNIFIL dari Prancis Tewas di Lebanon

UNIFIL mengatakan berdasarkan pengkajian awal, menunjukkan tembakan berasal dari aktor non-negara, diduga dari kelompok Hizbullah. Hasil penyelidikan itu menyebut bahwa serangan itu "serangan yang disengaja."

Macron juga mengatakan sejauh ini bukti mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran. Ia mendesak otoritas Lebanon untuk bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab.

Baca juga: Panglima Ungkap Seluruh Prajurit TNI di Lebanon Kembali ke RI Mei

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga mengutuk serangan di Lebanon. Ia mendesak semua pihak untuk "menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata."

Namun, Hizbullah membantah keterlibatannya dalam serangan itu. Hizbullah menyatakan "keterkejutannya atas posisi yang terburu-buru membuat tuduhan tanpa dasar" terhadap kelompok tersebut.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan patroli tersebut diserang saat dalam misi untuk membuka jalan menuju pos UNIFIL yang telah terisolasi oleh pertempuran di daerah tersebut.

Baca juga: RI dan 73 Negara Desak DK PBB Perkuat Perlindungan Pasukan Perdamaian

Tentara tersebut tewas akibat tembakan senjata ringan langsung. UNIFIL mengatakan serangan itu terjadi di desa Ghandouriyeh di Lebanon selatan.

Sementara itu, tentara Lebanon mengutuk penembakan tersebut dan mengatakan telah membuka penyelidikan. Presiden Aoun menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan penyelidikan segera, sementara Perdana Menteri Salam juga mengutuk serangan tersebut.

UNIFIL pertama kali dikerahkan pada tahun 1978 dan tetap ada melalui konflik-konflik berturut-turut, termasuk perang tahun 2024 di mana posisinya berulang kali menjadi sasaran tembakan.




(yld/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Tips Punya Rumah Idaman Sesuai Budget, Anti Boncos!
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Madonna Kembali ke Coachella Setelah 20 Tahun, Duet Spektakuler dengan Sabrina Carpenter Gegerkan Panggung
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Jusuf Kalla Jelaskan Pilih Pakai Istilah ‘Syahid’ Saat Ceramah di UGM
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Gen Z dan Politik: Antara Jarak, Bahasa, dan Kepercayaan
• 22 menit lalukumparan.com
thumb
Timnas Indonesia di Mata Eks AC Milan, Akui Skuad Garuda Telah Jauh Berkembang dan Yakin Bisa Lolos Piala Dunia
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.