JAKARTA – Seorang tentara Prancis tewas dan tiga lainnya terluka saat membersihkan jalan di Lebanon Selatan dalam serangan yang menurut pasukan penjaga perdamaian UNIFIL dan pejabat Prancis terjadi pada Sabtu (18/4/2026). Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok Hizbullah yang bertempur dengan Israel di Lebanon Selatan.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengutuk “serangan yang tidak dapat diterima” tersebut, kata kantor Macron dalam sebuah pernyataan yang dilansir Associated Press.
Tiga anggota lain dari misi perdamaian UNIFIL PBB terluka, dua di antaranya mengalami luka serius. UNIFIL mengatakan penilaian awal menunjukkan bahwa tembakan berasal dari aktor non-negara, diduga Hizbullah, dan bahwa penyelidikan telah diluncurkan atas apa yang disebutnya sebagai “serangan yang disengaja.”
Macron juga mengatakan bukti sejauh ini mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran dan mendesak otoritas Lebanon untuk bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut mengutuk serangan di Lebanon dan mendesak semua pihak untuk “menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata.”
Hizbullah membantah keterlibatannya dalam serangan itu, menyatakan “keterkejutannya atas posisi yang terburu-buru membuat tuduhan tanpa dasar” terhadap kelompok tersebut.




