Kisah Heroik Bernardo Tavares di PSM Kini Jadi Cerita Memilukan di Persebaya Surabaya: Susah Menang Kebobolan 20 Gol

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Tekanan terhadap Bernardo Tavares di Persebaya Surabaya kini mencapai titik kritis. Pelatih asal Portugal yang sebelumnya dielu-elukan berkat kesuksesannya bersama PSM Makassar itu justru menghadapi situasi kontras bersama Green Force. Alih-alih membawa kejayaan serupa, ia kini berada di bawah bayang-bayang pemecatan setelah rentetan hasil yang tidak konsisten.

Kekalahan 1-2 dari Madura United di kandang sendiri menjadi titik terbaru yang memperbesar sorotan terhadap kinerjanya. Laga tersebut sejatinya memperlihatkan paradoks yang terus berulang dalam permainan Persebaya musim ini: dominasi tanpa hasil. Dengan penguasaan bola mencapai 72 persen, Persebaya terlihat mengendalikan jalannya pertandingan. Namun, sekali lagi, kontrol permainan tidak berbanding lurus dengan efektivitas.

Masalah utama yang mencuat adalah ketidakmampuan mengonversi peluang menjadi gol, serta rapuhnya lini pertahanan dalam mengantisipasi serangan balik. Dua aspek ini menjadi kombinasi yang mematikan bagi ambisi tim untuk bersaing di papan atas.

Secara statistik, kondisi Persebaya cukup mengkhawatirkan. Dari 12 pertandingan terakhir, mereka mencatat lima kemenangan, dua hasil imbang, dan lima kekalahan. Raihan 17 poin dengan rata-rata 1,42 poin per laga mencerminkan inkonsistensi yang sulit diabaikan. Bagi tim dengan ekspektasi tinggi seperti Persebaya, angka tersebut jelas jauh dari ideal.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah performa lini belakang. Kebobolan 20 gol dalam 12 pertandingan menjadi alarm serius. Angka ini menunjukkan lemahnya organisasi pertahanan, baik dalam situasi terbuka maupun saat menghadapi tekanan lawan. Koordinasi antarpemain belakang sering kali terlihat kurang solid, terutama dalam momen transisi dari menyerang ke bertahan.

Situasi ini semakin memperumit posisi Bernardo Tavares. Ia tidak hanya dituntut memperbaiki efektivitas serangan, tetapi juga harus segera menemukan solusi untuk memperkuat lini pertahanan. Dalam sepak bola modern, keseimbangan antara menyerang dan bertahan adalah kunci utama. Tanpa fondasi defensif yang kuat, dominasi permainan akan selalu rentan berujung pada hasil negatif.

Kondisi skuad yang tidak ideal turut memperparah keadaan. Beberapa pemain mengalami cedera, membuat opsi rotasi menjadi terbatas. Hal ini diakui langsung oleh Tavares yang berharap tim medis dapat segera memulihkan pemain agar ia memiliki lebih banyak pilihan dalam menyusun strategi.

Keterbatasan ini berdampak langsung pada fleksibilitas taktik. Tanpa kedalaman skuad yang memadai, variasi permainan menjadi mudah terbaca lawan. Beberapa pengamat bahkan menilai pendekatan taktik Persebaya saat ini cenderung monoton, terutama dalam fase transisi bertahan yang sering kali menjadi titik lemah.

Di sisi lain, lini serang sebenarnya tidak sepenuhnya bermasalah. Dengan torehan 17 gol, produktivitas tim masih tergolong cukup. Namun, jumlah tersebut tidak mampu menutupi kelemahan di lini belakang. Ketimpangan ini membuat Persebaya kesulitan menjaga konsistensi hasil.

Kekalahan dari Madura United juga memberikan dampak psikologis yang tidak kecil. Bermain di hadapan pendukung sendiri, hasil negatif tersebut menjadi pukulan telak yang semakin mengikis kepercayaan diri tim. Dalam situasi seperti ini, peran pelatih menjadi sangat krusial untuk menjaga mental pemain tetap stabil.

Kini, tantangan besar sudah menanti di depan mata. Persebaya akan menjalani dua laga tandang beruntun yang berpotensi menjadi penentu masa depan Bernardo Tavares. Pertandingan melawan Malut United di Stadion Kie Raha, Ternate pada 23 April 2026, disusul laga panas menghadapi Arema FC di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026, akan menjadi ujian sesungguhnya.

Dua laga tersebut bukan sekadar soal tambahan poin, tetapi juga menyangkut kepercayaan manajemen terhadap sang pelatih. Jika Persebaya mampu meraih hasil positif, peluang untuk bangkit masih terbuka. Namun jika kembali gagal, tekanan yang ada bisa dengan cepat berubah menjadi keputusan drastis.

Dalam dunia sepak bola profesional, waktu sering kali menjadi kemewahan yang tidak dimiliki pelatih. Ekspektasi tinggi dari suporter dan manajemen menuntut hasil instan, terutama bagi klub besar seperti Persebaya. Dukungan dari Bonek memang masih terasa, tetapi kesabaran mereka bukan tanpa batas.

Bernardo Tavares kini berada di persimpangan jalan. Ia harus segera menemukan formula yang tepat untuk mengembalikan keseimbangan tim, memaksimalkan potensi pemain yang ada, serta memperbaiki kelemahan mendasar di lini pertahanan.

Dua pertandingan ke depan akan menjadi panggung pembuktian. Di sanalah nasibnya akan benar-benar ditentukan—apakah ia mampu membalikkan keadaan dan menjaga asa Persebaya, atau justru harus menerima kenyataan pahit bahwa perjalanan bersama Green Force berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aksi Penjambretan Terekam CCTV, Korban Terjatuh dan Dilarikan ke Rumah Sakit
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
JK Tegaskan Ceramahnya di UGM Tak Bicarakan Dogma Agama
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Hakim MK Soroti Gugatan Kuota Internet Hangus, Pertanyakan Aspek Keadilan
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Timnas U-17 siap hadapi partai hidup mati lawan Vietnam
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Terpopuler: Pajak Mobil Listrik Tak Lagi Gratis, Nasib Pemilik Lama, Ujian SIM Makin Sulit
• 12 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.