JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah deru alat berat dan masifnya pembangunan proyek-proyek megah di pesisir utara Jakarta, ada harapan sederhana dari nelayan Cilincing yang tak kunjung terwujud.
Harapan itu adalah hadirnya pelabuhan yang bisa menjadi tempat perahu tradisional berlabuh, menjual hasil tangkapan, sekaligus menjaga keberlanjutan mata pencaharian mereka.
Rencana pembangunan pelabuhan sebenarnya sudah lama terdengar oleh nelayan.
Proyek ini sempat digadang-gadang sebagai bentuk kompensasi atas pembangunan besar di perairan Cilincing.
Baca juga: Tol Laut NPEA Disebut Solusi Macet Horor Tanjung Priok, Ini Dampak dan Tantangannya
Namun, saat laut di Cilincing mulai “dikotak-kotakkan” menjadi ruang ekonomi baru, nasib nelayan justru semakin terhimpit dan kian sulit mendapatkan penghasilan.
Sementara pelabuhan yang mereka dambakan belum juga terealisasi.
Dua Proyek Megah
Dua proyek besar yang kini berdampingan di perairan Cilincing adalah tol laut New Priok Eastern Access (NPEA) yang digagas PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), serta proyek reklamasi dermaga oleh PT Karya Cipta Nusantara (KCN).
Kedua proyek ini berada dekat dengan alur laut, yang menjadi jalur keluar-masuk perahu nelayan tradisional.
Akibatnya, nelayan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan.
Selain itu, penyempitan jalur juga dinilai berpotensi membahayakan.
Baca juga: Pengelola NPEA Pastikan Akses Nelayan dan Keselamatan Pelayaran di Cilincing Jadi Prioritas
"Itu berdampak untuk nelayan keluar masuk alur karena pintu masuknya nelayan. Di situ harus luas, kalau enggak luas, perahu nanti terombang-ambing jika adanya ombak besar musim barat," ungkap nelayan bernama Edi (58) saat ditemui di kawasan Marunda, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Ia menegaskan, nelayan tidak menolak pembangunan, selama keberlangsungan hidup mereka tetap diperhatikan.
Janji Pembangunan Pelabuhan
Rencana pembangunan pelabuhan untuk nelayan disebut sudah disosialisasikan sejak 2018 dan ditargetkan terealisasi pada 2019.
Namun, rencana tersebut tertunda akibat pandemi Covid-19.