Dubes Silih Berganti Temui Megawati Setelah Pecah Perang AS-Iran, Apa yang Dibahas?

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri intens menerima kunjungan duta besar dari negara-negara sahabat. Dalam pertemuan itu, pesan-pesan perdamaian disampaikan di tengah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu ketidakpastian global.

Sejak eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran pada 28 Februari 2026, kediaman Megawati di Menteng, Jakarta Pusat, terasa lebih ramai. Sejumlah duta besar (dubes) menemui Ketua Umum PDI-P itu, mengapresiasi perhatiannya terhadap dinamika geopolitik, sekaligus mengingatkan kembali relevansi pemikiran ayahnya, Presiden pertama Soekarno, dalam situasi global saat ini.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menjadi yang pertama menemui Megawati setelah eskalasi meningkat pada pertengahan Maret 2026. Dalam pertemuan itu, Megawati menyampaikan ucapan selamat atas penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan mendiang Ali Khamenei yang wafat dalam serangan AS–Israel.

Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu berlangsung hangat. Megawati menegaskan pentingnya dunia dibangun di atas prinsip hidup berdampingan secara damai, kesetaraan, keadilan, serta kemanusiaan tanpa sekat. Ia juga menyerahkan foto kunjungannya ke Teheran pada 2004 saat bertemu Ali Khamenei, sebagai penanda hubungan personal yang telah terjalin lama.

Baca JugaSurat Dukacita Megawati untuk Ayatollah Ali Khamenei

Setelah itu, kunjungan para dubes datang silih berganti. Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah Al Amoudi menemuinya pada 9 April 2026, disusul Dubes Qatar Sultan bin Mubarak Al-Dosari pada 13 April 2026, dan Dubes Jerman Ralf Beste pada 17 April 2026.

Ketua DPP PDI-P Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah menuturkan, kunjungan para tamu kenegaraan ke Megawati sebenarnya bukan hal baru. Sebagai tokoh nasional sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati kerap menerima permohonan kunjungan kehormatan (courtesy call) dari para dubes yang bertugas di Jakarta.

“Jadi bukan peristiwa baru Ibu Mega dikunjungi sebagai bagian dari courtesy call para dubes,” ujar Basarah saat dihubungi Kompas, Minggu (19/4/2026).

Namun, ia mengakui, eskalasi konflik di Timur Tengah membuat intensitas kunjungan meningkat. Tak sebatas Dubes Iran, Arab Saudi, Qatar, dan Jerman, dalam waktu dekat, Dubes Irak juga dijadwalkan menemui Megawati.

Menurut Basarah, ada sejumlah faktor yang mendorong para dubes menemui Megawati. Mereka melihat Megawati bukan semata posisinya sebagai ketua umum partai politik besar. Lebih dari itu, faktor kepemimpinan Megawati sebagai Presiden ke-5 RI dan posisinya sebagai putri Bung Karno menjadi magnet tersendiri.

“Jadi legacy Bung Karno kepada dunia itu yang kemudian pemikiran-pemikiran dan sikap politinya diikuti Ibu Mega itulah yang membuat para dubes tertarik untuk melihat lebih dalam, mengenal Ibu Mega lebih dekat tentang pemikiran-pemikiran beliau dan sikap politik Ibu Mega terhadap masalah kenegaraan, nasional maupun masalah internasional,” tegasnya.

Baca JugaMegawati, Khamenei, dan Ingatan tentang Sukarno

Ia mencontohkan, Dubes Iran menyampaikan bagaimana pemikiran Soekarno memberi pengaruh besar, termasuk dalam konteks Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, yang diikuti Iran sebagai salah satu dari 29 negara peserta.

“Dia mengatakan bahwa Presiden Soekarno itu adalah bukan sekadar pemimpin bangsa Indonesia tetapi pemimpin dunia. Jadi, itu pemikiran Bung Karno yang dilanjutkan legacy-nya oleh Ibu Mega dalam sikap politiknya,” ucapnya.

Hubungan Megawati dan Prabowo

Dalam sejumlah pertemuan itu, para duta besar juga menaruh perhatian pada hubungan Megawati dengan Presiden Prabowo Subianto. Sebagai partai pemenang pemilu dengan kursi terbesar di parlemen, para dubes umumnya menanyakan posisi dan hubungan Megawati dengan pemerintah.

Menurut Basarah, Megawati menegaskan hubungan personal yang baik dengan Prabowo. “Ibu Mega menyatakan bahwa secara personal saya memiliki hubungan sangat baik dengan Mas Bowo. Beliau bahkan menyebut Mas Bowo lho, dan menyampaikan hubungannya sangat akrab. Sehingga tidak ada persoalan pribadi apa pun,” kata Basarah mengutip pernyataan Megawati.

Kemudian, Megawati juga menjelaskan posisi politik PDI-P. Megawati menegaskan bahwa dirinya dan Presiden Prabowo telah bersepakat PDI-P tetap mendukung pemerintahan, meski berada di luar struktur kekuasaan. Kebijakan Presiden yang dinilai baik akan didukung, sedangkan kebijakan para menteri yang menyimpang dari cita-cita proklamasi dan tujuan bernegara akan diingatkan sebagai bahan evaluasi.

“Ini sebuah hubungan politik dan kemanusiaan yang sangat baik. Dalam posisi politik yang saling mengontrol, karena DPR juga memiliki fungsi kontrol sebagaimana diatur dalam UUD. Namun, hubungan personal tetap baik. Karena itu, Ibu Mega sampai mengatakan, ’setiap Mas Bowo ingin bertemu, saya bersedia. Demikian pula jika saya ingin bertemu, Mas Bowo juga bersedia’,” kata Basarah.

Menurut Megawati, kultur politik di Indonesia semestinya berjalan demikian. Pemerintah yang menjalankan mandat sesuai konstitusi dan janji negara akan didukung, sementara kekeliruan akan dikritisi secara konstruktif agar tidak keluar dari jalur.

Baca JugaPesan Tersirat di Balik Pertemuan Prabowo–Megawati

Di luar itu, Megawati juga menyampaikan berbagai hal positif tentang Indonesia, termasuk Pancasila yang menjadi perekat di tengah keberagaman.

Selain itu, berbagai isu domestik disampaikan dalam nada positif. Megawati, kata Basarah, tidak pernah menyampaikan hal-hal negatif tentang Indonesia, termasuk pemerintah, kecuali hal-hal yang memang dinilai publik perlu dikritisi sebagai bagian dari praktik demokrasi yang sehat.

Para dubes, lanjut Basarah, berkepentingan memahami hubungan Megawati dan Prabowo karena posisi politik PDI-P dinilai berpengaruh terhadap stabilitas nasional.

“Karena itu, mereka mencoba membaca posisi politik PDI-P seperti apa. Ibu selalu menyampaikan bahwa tidak perlu khawatir, Indonesia akan baik-baik saja dan stabilitas politik terjaga. Kami tidak mengenal oposisi yang menyerang pemerintah yang sah, tetapi tetap menjalankan fungsi kontrol sosial dan politik sebagaimana diatur dalam konstitusi,” ujarnya.

Di setiap pertemuan, Megawati juga menitipkan pesan-pesan persatuan, perdamaian, kesetaraan gender, ketaatan pada hukum, dan konstitusionalisme. Pada akhir pertemuan, para dubes umumnya menyampaikan harapan agar Megawati dapat berkunjung ke negara mereka.

Dari anggrek putih hingga lukisan

Setiap pertemuan itu sarat makna yang tercermin dari gestur kedekatan antara Megawati dan para dubes.

Bersama Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah Al Amoudi, misalnya, Megawati sempat menyinggung anggrek putih pemberian sang dubes yang ditempatkan di ruangan. “Anggrek berwarna putih yang asli, yang lain rekayasa genetika,” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam pertemuan itu, Megawati juga diminta berkontribusi aktif untuk mewujudkan stabilitas di Timur Tengah. Bagi pihak Arab Saudi, Megawati dipandang sebagai sosok penting, baik dalam politik nasional maupun global, yang memiliki perhatian pada isu geopolitik. Karena itu, pandangan Megawati dinilai memiliki pengaruh bagi dunia Islam dan komunitas global dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Sementara itu, dalam pertemuan dengan Dubes Qatar untuk Indonesia Sultan bin Mubarak Al-Dosari, sempat disampaikan bahwa Presiden Soekarno, dikenal luas di Timur Tengah.

Ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap pidato Megawati saat menerima gelar doktor kehormatan dari Princess Nourah bint Abdulrahman University di Riyadh, yang merupakan universitas perempuan terbesar di dunia. Menurutnya, pemerintah Qatar sejalan dengan pandangan Megawati mengenai kesetaraan perempuan, termasuk dalam mendorong peran perempuan di pemerintahan.

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu berjalan hangat dan diakhiri dengan pertukaran cinderamata. Megawati menyerahkan miniatur Candi Borobudur dan perahu pinisi, kapal layar kayu tradisional khas Indonesia dari suku Bugis, Makassar.

Sebaliknya, Dubes Qatar memberikan rangkaian bunga serta buku berjudul Qatar, Between Land and Sea, Through Arts and Heritage, yang mendokumentasikan kekayaan budaya, sejarah, dan seni Qatar, serta relasi masyarakatnya dengan gurun dan laut.

“Saya senang bertemu secara langsung dan berdialog dengan Ibu Megawati. Saya kagum dengan koleksi lukisan di sini,” ujar Sultan bin Mubarak Al-Dosari.

Adapun bersama Dubes Jerman untuk Indonesia Ralf Beste, Megawati membahas dinamika geopolitik, termasuk situasi Timur Tengah dan relevansi KAA 1955 di Bandung. Ia mengapresiasi peran Soekarno dalam mendorong kebangkitan negara-negara Asia dan Afrika.

Megawati kemudian menyerahkan sejumlah buku pidato Bung Karno, antara lain teks pidato pada Konferensi Asia Afrika, pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa berjudul To Build the World A New, serta Lahirnya Pancasila.

Baca JugaPDI-P Peringati 71 Tahun KAA, Megawati: Indonesia Lahir dengan Spirit Dunia Baru
Menjadi sumber primer

Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menilai, rangkaian pertemuan tersebut menunjukkan posisi Megawati sebagai sumber primer terkait sejarah Indonesia, khususnya pemikiran dan perjuangan Soekarno. Para dubes, kata dia, juga ingin mendalami kepemimpinan Megawati sebagai Presiden ke-5 RI.

Pertemuan itu juga memperlihatkan sikap Megawati dalam merespons ketidakadilan. Ia, misalnya, mengirimkan surat duka atas wafatnya Ali Khamenei, serta menyampaikan ucapan selamat atas terbentuknya kembali kepemimpinan tertinggi di Iran.

Hasto menambahkan, sejumlah duta besar lain dijadwalkan akan bertemu Megawati, di antaranya dari Inggris, Australia, dan Vietnam.

“Semua menjadi sahabat untuk bersama-sama membahas persoalan geopolitik dan relevansinya dengan tantangan saat ini, terutama dalam membangun hubungan bilateral dengan negara-negara sahabat,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Langkah Pakai Foundation yang Halus dan Natural
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Babinsa Sleman Kawal Pembangunan Koperasi Merah Putih
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
KEK Palu terima investasi Rp342 miliar dari PT LNG
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Kasus BNI Ungkap Persoalan Lemahnya Pengawasan Internal Bank
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Cara Baru Menikmati Festival Tanpa Takut Kehabisan Momen Semesta Berpesta 2026: Musik, Kuliner, Fashion, dan Komunitas
• 22 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.