Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan nilai ekspor unggas Indonesia mencapai Rp18,2 miliar hingga Maret 2026, menandakan surplus produksi nasional dan daya saing di pasar global.
Pada periode tersebut, Indonesia mengekspor sebanyak 545 ton produk unggas ke sejumlah negara tujuan seperti Singapura, Jepang, dan Timor Leste.
Komoditas ekspor didominasi telur konsumsi sebanyak 517 ton atau sekitar 8,13 juta butir, sementara sisanya berupa daging ayam dan produk olahan bernilai tambah.
Kementerian Pertanian mencatat tren ekspor unggas meningkat konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024, ekspor tercatat sekitar 300 ton dengan nilai Rp11 miliar, kemudian meningkat pada 2025 menjadi sekitar 400 ton dengan nilai Rp13 hingga Rp15 miliar.
Hingga Maret 2026, ekspor telah mencapai 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar.
Amran mengatakan, "Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan seterusnya. Nah ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain."
Produksi nasional daging ayam ras mencapai 4,29 juta ton per tahun dengan konsumsi sekitar 4,12 juta ton.
Sementara produksi telur ayam ras mencapai 6,54 juta ton per tahun dengan konsumsi sekitar 6,47 juta ton.
Ia menegaskan, "Dengan kondisi surplus memungkinkan ekspansi pasar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri."
Pemerintah mendorong pergeseran struktur ekspor ke produk olahan seperti nugget dan karaage untuk meningkatkan nilai tambah.
Upaya ini juga didukung penguatan sistem kesehatan hewan, biosekuriti, serta sertifikasi veteriner agar memenuhi standar internasional.
Diplomasi perdagangan dan pembukaan akses pasar baru terus dilakukan guna memperluas jangkauan ekspor.
Amran menyatakan, "Dengan tren pertumbuhan yang konsisten, Indonesia kini tidak hanya swasembada, tetapi mulai menegaskan diri sebagai eksportir unggas yang diperhitungkan di pasar dunia."
Langkah ini diharapkan meningkatkan volume dan nilai ekspor sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.




