Pertumbuhan laba emiten serta potensi kejutan kinerja kuartal I-2026 dinilai akan menjadi katalis utama pembalikan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IDXChannel - Pertumbuhan laba emiten serta potensi kejutan kinerja kuartal I-2026 dinilai akan menjadi katalis utama pembalikan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu dekat.
Analis Indo Premier, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, dalam riset yang terbit pada 17 April 2026 menyebut, pergerakan indeks sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) ibarat ‘perfect storm’ atau kombinasi berbagai faktor negatif.
IHSG bersama indeks IDX80 dan LQ45 masing-masing terkoreksi sekitar 12 persen, 11 persen, dan 11 persen.
Tekanan tersebut dipicu dua faktor utama, yakni kekhawatiran penurunan status Indonesia ke frontier market oleh MSCI pada Februari, serta kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal yang berujung pada penurunan outlook oleh Fitch Ratings dan Moody's.
Sentimen negatif juga diperparah oleh potensi kenaikan beban subsidi energi di tengah tensi geopolitik Timur Tengah.
Akibatnya, kinerja pasar saham domestik tertinggal dibandingkan negara peers seperti China, India, dan ASEAN.
Namun, Indo Premier menilai sebagian besar kekhawatiran tersebut berpotensi mereda dalam waktu dekat.
Dari sisi status pasar, risiko penurunan ke frontier dinilai sangat kecil.
“Berdasarkan diskusi dengan investor asing, risiko penurunan status ke pasar frontier dinilai sangat kecil, terutama setelah peringatan dari MSCI yang mendorong IHSG untuk meningkatkan transparansi dan kualitas keterbukaan informasi,” tulis analis Indo Premier.
Hal ini menyusul langkah regulator dan pelaku pasar meningkatkan transparansi, termasuk penambahan kategori pemegang saham menjadi 39 dari sebelumnya 9 kategori, pengungkapan kepemilikan di atas 1 persen, serta pembentukan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), praktik yang serupa dengan pasar Hong Kong.
Sementara itu, pemerintah juga berkomitmen menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), bahkan dalam skenario harga minyak mencapai USD100 per barel.
Upaya ini akan ditempuh melalui optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), efisiensi anggaran kementerian, serta pengurangan restitusi pajak.
Indo Premier menegaskan, komitmen menjaga disiplin fiskal tersebut krusial untuk mempertahankan peringkat investment grade.
Pasalnya, pengalaman di negara lain menunjukkan penurunan peringkat kredit dapat memicu lonjakan imbal hasil obligasi secara signifikan.
Di pasar obligasi domestik, yield sempat naik ke 6,9 persen dari 6,1 persen pada akhir 2025 sebelum turun ke kisaran 6,6 persen.
Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah sekitar 3 persen sejak awal tahun, mencerminkan pasar mulai mengantisipasi risiko fiskal.
Di tengah tekanan tersebut, Indo Premier melihat prospek laba emiten justru belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham.
Mereka memperkirakan perusahaan dalam cakupan riset dan indeks LQ45 mampu mencatat pertumbuhan laba sekitar 10-16 persen pada 2026, berbalik dari kontraksi 2 persen pada 2025.
Pertumbuhan ini dinilai lebih tinggi dibandingkan proyeksi konsensus untuk China, India, Malaysia, dan Thailand yang berada di kisaran 7-9 persen.
Selain itu, kinerja kuartal I-2026 berpotensi melampaui ekspektasi pasar, terutama pada sektor perbankan, komoditas, termasuk logam dan batu bara, serta konsumer.
Lebih lanjut, saham unggulan yang direkomendasikan Indo Premier meliputi sektor perbankan seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Untuk sektor logam, Indo Premier menjagokan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), serta PT Timah (Persero) Tbk (TINS).
Di sektor batu bara, pilihan jatuh pada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), sementara sektor konsumer mencakup PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





