IMF Minta Pemerintah Jangan Belanja Jor-joran, Resesi di Depan Mata

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pierre-Olivier Gourinchas Kepala Ekonom & Direktur, Departemen Riset saat berbicara dalam Pembaruan Outlook Ekonomi Dunia di Singapura. (Tangkapan Layar Youtube IMF)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mewanti-wanti agar pemerintah tidak belanja berlebihan di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah ini.

Peringatan ini muncul sejalan dengan adanya risiko resesi jika perang terus berkecamuk di Iran dan menekan harga bahan bakar minyak. IMF pun melihat tidak adanya solusi yang jelas untuk mengatasi permasalahan ini.


"Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas energi penting di Timur Tengah meningkatkan prospek krisis energi besar, jika solusi jangka panjang tidak segera ditemukan," kata Chief Economist IMF Pierre-Olivier Gourinchas dalam konferensi pers IMF-World Bank Springs Meeting, dikutip Senin (20/4/2026).

Baca: Krisis Makin Ngeri, Ramai-Ramai Negara Minta Utang ke IMF

Harga minyak dan gas telah meningkat tajam, begitu pula harga solar dan bahan bakar jet, pupuk, aluminium, dan helium. Menurutnya, dampak keseluruhannya akan bergantung pada tiga saluran.

Pertama, harga komoditas yang lebih tinggi merupakan guncangan pasokan negatif yang lazim: menaikkan harga dan biaya, mengganggu rantai pasokan, dan mengikis daya beli. Kedua, efek ini dapat diperkuat karena perusahaan dan pekerja mencoba untuk memulihkan kerugian, sehingga berisiko terjadinya spiral upah-harga, terutama di mana ekspektasi inflasi tidak terkendali dengan baik.

"Ketiga, kondisi keuangan dapat mengencang, dengan valuasi aset yang lebih rendah, premi risiko yang lebih tinggi, pelarian modal, apresiasi dolar, yang meredam permintaan," paparnya.

Perkiraan referensi IMF mengasumsikan konflik yang berumur pendek dan kenaikan harga energi moderat sebesar 19% pada tahun 2026. Namun, dia menilai beberapa kerusakan tetap tidak dapat dihindari.

Pertumbuhan global turun menjadi 3,1% tahun ini, penurunan dari perkiraan Januari, dan inflasi utama naik menjadi 4,4%.

Baca: IMF Sebut RI Jadi Titik Terang Ekonomi Dunia, Ini Data & Faktanya

"Skenario buruk kami mengasumsikan gangguan lebih lanjut, yang menyebabkan harga energi dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi serta kondisi keuangan yang lebih ketat sepanjang tahun. Pertumbuhan turun menjadi 2,5% tahun ini dan inflasi naik menjadi 5,4%.

Kemudian, skenario parah IMF mengasumsikan bahwa gangguan pasokan energi berlanjut hingga tahun depan, dengan ketidakstabilan makro yang lebih besar. Pertumbuhan global turun menjadi 2% tahun ini dan tahun depan, sementara inflasi melebihi 6%. Pierre-Olivier menilai risiko penurunan pertumbuhan global jelas sangat tinggi dalam skenario ini.

Persentase pertumbuhan di bawah 2% jika perang berlanjut dan harga minyak meningkat akan menjadi resesi besar yang melanda dunia. Sebagai catatan, dunia hanya mengalami 4 kali resesi sejauh ini, sejak 1980-an.

Lantas, apa yang harus dilakukan pemerintah?

Baca: Purbaya Sebut Bank Dunia & S&P Puas Kini Tahu Cara Kerja Pemerintah RI

Pierre-Olivier mengingatkan dengan meningkatnya lintasan utang publik, ruang fiskal jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Batasan harga, subsidi, dan intervensi menjadi kebijakan populer, tetapi hal itu mendistorsi harga dan kerap dirancang dengan buruk karena menyebabkan ketergantungan serta 'berbiaya mahal'.

"Sebagian besar negara tidak lagi memiliki kemewahan itu. Di mana dukungan untuk yang paling rentan dibutuhkan, langkah-langkah yang ditargetkan dan sementara harus diterapkan, konsisten dengan rencana jangka menengah untuk membangun kembali penyangga fiskal dan menghindari stimulasi permintaan di mana inflasi meningkat," ujarnya.

Dalam skenario terburuk, kebijakan moneter dan fiskal harus siap untuk beralih mendukung perekonomian dan melindungi sistem keuangan, bersamaan dengan kebijakan keuangan dan likuiditas yang tepat.

Namun, dia mengakui bank sentral tidak akan bisa berbuat banyak dalam hal memengaruhi harga energi yang akan mendorong inflasi naik. Pasar pun akan memperhitungkan kenaikan suku bunga.

Dalam situasi ini, IMF juga meminta bank sentral tidak buru-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi tetap terkendali.

"Namun, selama ekspektasi inflasi tetap terkendali dengan baik, bank sentral dapat menunggu dan mengamati untuk saat ini. Tetapi mereka harus memperhatikan risiko dan mengkomunikasikan dengan jelas kesiapan mereka untuk bertindak tegas guna menjaga stabilitas harga," ujar Pierre-Olivier.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: IMF: Perang Timur Tengah Picu Inflasi & Perlambatan Ekonomi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua DPD Maluku Tenggara Tewas Ditikam, Golkar: Kader Jangan Terpancing
• 21 jam lalukompas.com
thumb
ETLE Drone Patrol Presisi Korlantas Polri Dukung Kesuksesan Kemala Run 2026
• 21 jam laludetik.com
thumb
Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus di Lebanon, Warga Kristen Amerika Marah
• 56 menit lalurepublika.co.id
thumb
Mensos: Kepala Daerah dan Pendamping PKH Bukan Penentu Penerima Bansos
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Harga LPG Non Subsidi Naik, Ini Rinciannya
• 20 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.