Kabut turun setelah hujan deras di Bukit Turgo, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (8/4/2026). Musimin (65) pun keluar dari rumahnya dan berjalan menuju rumah tanam untuk menyambangi bunga-bunga anggrek kesayangannya.
Siang itu, Musimin kembali menjalani rutinitas yang telah ia jalani selama sekitar tiga dekade, yakni merawat sekaligus melestarikan tanaman anggrek yang ia temui di sekitar tempat tinggalnya di kawasan lereng Gunung Merapi. ”Sekarang ini sedang banyak siput yang mengganggu tanaman anggrek,” kata Musimin.
Rumahnya yang berada pada ketinggian 930 meter di atas permukaan laut dan berhawa sejuk menjadi tempat ideal untuk merawat tumbuhan berbunga yang berada dalam keluarga Orchidaceae itu. Perjumpaan Musimin sejak berumur balita dengan anggrek di hutan sekitar tempat tinggalnya membuat rasa cintanya pada flora itu kian menebal.
Perjuangan Musimin dalam melestarikan anggrek dimulai pada tahun 1996 setelah peristiwa erupsi Merapi dua tahun sebelumnya. ”Waktu itu spesies anggrek yang ditemukan hanya tujuh spesies karena banyak yang terkena dampak erupsi,” kenang Musimin.
Sebagai warga yang tanah tumpah darahnya berada di kawasan itu, Musimin pun tergerak untuk berusaha mengembalikan kelestarian anggrek itu. Ia bekerja sama dengan sejumlah instansi untuk memulihkan keberadaan anggrek dengan menanam berbagai jenis anggrek, di antaranya jenis Vanda tricolor.
Upayanya berangsur membuahkan hasil. ”Sekarang di lingkup Merapi ada 124 spesies anggrek,” kata Musimin.
Ia meyakini bahwa kelestarian anggrek membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar. Menurut dia, anggrek merupakan pahlawan tanpa tanda jasa karena jika dilestarikan dengan baik, maka ekosistem di kawasan hulu dan hilir pasti akan baik pula.
Menurut penggemar anggrek jenis Calanthe triplicata atau yang dikenal dengan nama anggrek sleeping baby ini, anggrek merupakan identitas kebanggaan Indonesia yang masih dipandang sebelah mata. Dari sekitar 30.000 spesies yang ada di seluruh dunia, kata Musimin, 20 persennya ada di Tanah Air.
Kini, pria tersebut memperluas upaya pelestarian terhadap anggrek dengan kerap mengajak kaum muda melakukan perjalanan ke hutan di sekitar puncak Merapi agar mereka dapat mengenal secara langsung kekayaan anggrek yang dimiliki Indonesia. Ia pun berharap kawasan di sekitarnya menjadi museum hidup bagi anggrek dan berbagai flora serta fauna lain agar manfaatnya masih bisa dirasakan hingga puluhan generasi mendatang.





