ETIndonesia. Pemerintahan partai komunis Tiongkok selama ini membantah tuduhan adanya “kamp pendidikan ulang” di Xinjiang yang melanggar hak asasi manusia dan menahan warga Uighur. Namun baru-baru ini, seorang polisi dari Xinjiang bernama Zhang Yabo dilaporkan membelot saat melakukan perjalanan wisata ke Jerman pada Agustus tahun lalu, lalu menghubungi World Uyghur Congress.
Ia secara terbuka menuduh bahwa pihak berwenang menahan warga Uighur dan melakukan penyiksaan terhadap mereka.
Zhang Yabo juga menyerahkan kartu identitas kepolisiannya serta foto-foto yang diambil di luar fasilitas penahanan. Ia mengaku menyaksikan langsung penyiksaan terhadap warga Uighur, termasuk dugaan kekerasan seksual. Ia mengatakan bahwa di dalam tahanan hampir setiap minggu ada kematian, dan hampir tidak ada perawatan medis.
Berhasil Melarikan DiriMajalah Jerman, Der Spiegel melaporkan pada 16 April bahwa Zhang Yabo melarikan diri dengan membawa sebuah ransel abu-abu yang tidak mencolok. Di dalamnya terdapat sebuah laptop, dengan hard disk yang menyimpan dokumen-dokumen selama masa tugasnya—bukti penganiayaan terhadap etnis Uyghur oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Laporan tersebut menggambarkan secara rinci proses pelariannya. Ia berjalan di bagian paling belakang rombongan dan telah berulang kali membayangkan momen melarikan diri itu—di hotel, di bus, bahkan di toilet. Akhirnya, ketika tidak ada yang memperhatikannya, ia berbalik arah dan naik kereta menuju Munich.
Setelah itu, Zhang Yabo menemukan World Uyghur Congress yang berlokasi di distrik Schwabing, Munich.
Mengungkap Pelanggaran HAM di Xinjiang dari Pengalaman PribadiDalam beberapa tahun terakhir, PKT dituduh mendirikan kamp penahanan di Xinjiang yang melanggar hak asasi manusia, untuk menahan etnis minoritas Uyghur (disebut juga “kamp pendidikan ulang”). Pihak berwenang terus membantah hal ini.
Zhang Yabo bekerja selama 9 tahun sebagai penjaga penjara dan polisi di wilayah barat laut Xinjiang. Di sana terdapat sistem yang dibangun oleh pemerintah, terdiri dari kamp penahanan, pengawasan digital, dan indoktrinasi politik, yang terutama menargetkan etnis Uyghur.
Sejak 2017, banyak kamp terungkap di wilayah tersebut: dikelilingi kawat berduri, menara pengawas, dan barikade. Dilaporkan bahwa ratusan ribu hingga hampir satu juta orang pernah ditahan di sana.
Tugas Zhang termasuk memastikan tidak ada orang yang pergi ke masjid, memeriksa ponsel, membuat database, dan segera melaporkan setiap temuan.
Data di hard disk menunjukkan bahwa ia lahir pada 15 Oktober 1986 di Provinsi Henan, Tiongkok. Ia menjadi guru sekolah dasar di Xinjiang sejak 2009, kemudian menjadi penjaga penjara pada 2014, dan akhirnya bertugas sebagai polisi di sebuah desa.
Ia juga memberikan foto kartu identitas kepolisian serta foto dirinya mengenakan seragam hitam di depan penjara.
Ia mengonfirmasi bahwa di kamp tersebut, siapa pun yang tidak patuh akan disiksa dengan tuduhan sebagai “ekstremis”.
Kekerasan dan PenyiksaanTugas Zhang di penjara adalah membawa tahanan untuk diinterogasi, sebagian besar adalah orang Uyghur. Polisi memukuli tahanan dengan tongkat hingga kayunya patah. Zhang mengatakan ia hanya menyaksikan tanpa ikut memukul.
“Seorang penjaga berulang kali menendang testis seorang pria muda, dan pria itu kemudian meninggal,” katanya. “Jeritan itu masih terngiang di telinga saya sampai sekarang. Saya sering bermimpi buruk tentang mereka.”
Ia mengatakan hampir setiap minggu ada tahanan yang meninggal, dan hampir tidak ada perawatan medis.
Dalam satu kasus, seorang tahanan diborgol selama berjam-jam hingga buang air kecil di celana—hukuman seperti ini sering terjadi.
Pengawasan Ketat di DesaPada 2016, Zhang dipindahkan ke sebuah desa berpenduduk sekitar 1.700 orang. Ia membuat profil tersangka, mencatat nama, kontak, aktivitas keagamaan, bahkan hasil tes darah.
Ia juga memantau percakapan di grup chat komite desa—siapa yang sakit, siapa yang tidak mengikuti kelas bahasa Mandarin wajib—dan melaporkannya setiap minggu ke otoritas keamanan.
Menurutnya, siapa pun bisa ditangkap kapan saja. Bahkan orang yang berolahraga pun bisa dicurigai. Ada target pelaporan: siapa yang melaporkan cukup banyak tersangka bisa mendapat cuti, jika tidak harus lembur.
Salah satu dokumen yang ia berikan adalah instruksi Agustus 2022 tentang penanganan “pasien gangguan mental”, yang meminta dilakukan “skrining dan penilaian risiko”. Ia mengatakan bahwa yang dianggap “gangguan mental” termasuk orang yang belum menikah atau tunawisma yang minum alkohol dan tidak patuh.
Terkait pernikahan paksa, ia menyebut bahwa pasangan Uyghur-Han mendapat uang insentif, hingga 5.000–10.000 yuan.
Keluarga di Tiongkok Mengalami TekananZhang menjadi semakin tidak disiplin dalam pekerjaannya, termasuk menghindari rapat harian yang menentukan daftar penangkapan. Ia dipotong gaji, dicabut cutinya, dan diancam dipecat.
Pada September 2023, ia mengundurkan diri dengan alasan “keluarga dan kesehatan”. Ia kemudian pergi ke Guangzhou, belajar bahasa Inggris dan tata rambut, serta dibaptis menjadi Kristen.
Ia mengikuti tur ke Eropa dengan biaya 35.600 yuan (~4.500 euro). Sebelum berangkat, ia berpisah dari istrinya, menjual perabotan, dan menyuap pejabat untuk mendapatkan izin keluar negeri.
Sebuah tangkapan layar menunjukkan rekening banknya di Tiongkok telah dibekukan karena “alasan hukum”.
Ia mengatakan keluarganya kini tidak bisa meninggalkan Tiongkok. Ayahnya pernah ditahan semalam, dan seorang temannya diinterogasi.
Ibunya juga dipaksa meneleponnya dan memohon agar ia pulang. Otoritas mengancam ibunya dengan penjara.
“Saya Mengungkapkan Kebenaran”Saat keluar dari pekerjaannya, Zhang menandatangani perjanjian kerahasiaan terkait “rahasia negara”. Namun kini ia memilih berbicara dan mengungkap kebenaran. Ia telah mengajukan suaka di Jerman.
Ia mengatakan alasannya melarikan diri dan bersuara adalah karena keyakinannya sebagai seorang Kristen. Ia menunjukkan sertifikat baptisnya dan berkata, “Saya seorang Kristen. Setelah mati, saya harus mempertanggungjawabkan diri kepada Yesus.”
Ia juga berkata, “Jika suatu hari saya ditanya apa yang saya lakukan terhadap ketidakadilan di sana, saya setidaknya ingin bisa mengatakan: saya telah mengungkapkan kebenaran.”
Organisasi Victims of Communism Memorial Foundation menyatakan bahwa kesaksian mantan polisi etnis Han ini merupakan salah satu kesaksian paling rinci dari dalam sistem keamanan Xinjiang.
Peneliti senior VOC, Adrian Zenz, mengatakan kesaksian ini menunjukkan bahwa setelah perubahan kepemimpinan pada 2021, penahanan massal yang mencolok beralih menjadi lebih tersembunyi dan tersebar, sehingga lebih sulit dideteksi.
Ia juga menyebut bahwa kerja paksa kini dilakukan secara lebih terselubung dan terintegrasi dalam sistem administrasi negara.





