Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Pengabdian menjadi pilihan hidup almarhum Abdul Rohid. Di saat banyak mahasiswa mengejar kelulusan, ia justru menunda wisuda demi terjun langsung membangun kawasan transmigrasi hingga akhir hayatnya.
Nama Abdul Rohid dikenang dalam prosesi wisuda di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Bukan sekadar wisudawan, Rohid menjadi simbol pengabdian generasi muda yang memilih hadir langsung di tengah masyarakat.
Alih-alih menyelesaikan prosesi kelulusannya pada 2025, Rohid mengambil keputusan berbeda. Ia bergabung dalam program Transmigrasi Patriot dan ditugaskan di kawasan Tomini Raya, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Di kawasan tersebut, Rohid terlibat dalam aktivitas pembangunan berbasis masyarakat. Kawasan Bahari Tomini Raya kini berkembang sebagai salah satu sentra produksi durian nasional yang bahkan telah menembus pasar ekspor.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menyebut pilihan Rohid sebagai keputusan hidup yang mencerminkan dedikasi tinggi.
"Beliau memilih turun ke lapangan dan mengabdi. Itu bukan keputusan biasa, melainkan keputusan hidup," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 20 April 2026.
Kontribusi Rohid menjadi bagian dari kerja kolektif yang mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Program transmigrasi sendiri disebut telah menyumbang sekitar 80 persen produksi durian di wilayah Parigi Moutong, dengan nilai ekonomi mencapai ratusan miliar hingga mendekati satu triliun rupiah per tahun.
Di balik kiprahnya, Rohid menjalani kehidupan sederhana dengan mimpi besar. Ia ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, memberangkatkan orang tuanya umroh, serta memastikan adiknya, Aprilia Nur Intan Saputri, dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Cita-cita itu baru sepenuhnya diketahui keluarga setelah ia wafat. Sebagai bentuk penghargaan, Kementerian Transmigrasi memberikan beasiswa bagi sang adik hingga lulus SMA. ITS juga turut menjembatani agar pendidikan tersebut dapat berlanjut ke perguruan tinggi.
Tak hanya pengabdian di lapangan, Rohid juga meninggalkan karya inovasi berupa alat penyaring udara (air purifier) yang kini diserahkan kepada ITS untuk dikembangkan lebih lanjut.
Kisah Abdul Rohid menjadi potret nyata bahwa pembangunan kawasan tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kehadiran sumber daya manusia yang mau turun langsung dan mengabdi.
"Almarhum tidak hanya menyelesaikan studinya, tetapi juga menyelesaikan tugas hidupnya sebagai manusia yang berguna dan patriot bagi bangsa," ucapnya.
Pengabdian Rohid pun menjadi jejak yang terus hidup, sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk berani memilih jalan yang memberi makna lebih besar bagi masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews





