Dunia yang semakin diadang banyak ketidakpastian, tidak membuat China gamang dalam mempertahankan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang ambisius, setelah meningkatkannya berkali-kali lipat hanya dalam dua dekade ke belakang.
Vice President of China Foreign Affairs University (CFAU), Sun Jisheng, mengatakan dinamika global bergerak sangat cepat menuju multipolaritas, karena semakin banyak perekonomian negara berkembang yang meningkat pesat, termasuk China.
"Dunia internasional mengalami perubahan menonjol dan kompleks, karena banyak ekonomi negara berkembang termasuk China meningkat secara kolektif. Banyak negara yang berkembang sangat cepat seperti China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan lain-lain," katanya saat pelatihan media bertema APEC di Beijing, China, Minggu (19/4).
Hal ini kemudian, menurutnya, membuat jarak antara negara maju dan berkembang semakin sempit. Dia mencontohkan, negara yang termasuk dalam anggota BRICS kini bisa menyaingi ekonomi negara anggota G7, yang pada masa pasca Perang Dunia II, menyumbang total 70 persen PDB global.
"Tapi sekarang Anda bisa melihat trennya ini adalah sebaliknya. BRICS telah meningkat dan G7 telah menurun. Pusat ekonomi terus berubah ke selatan (global south). Jadi, negara ekonomi berkembang telah memainkan peran yang sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi total dan itu menyebabkan perubahan distribusi kekuatan," jelas Jisheng.
Jisheng mengatakan China menjadi salah satu negara berkembang dengan peningkatan PDB paling cepat. Pada tahun 1971, total PDB China hanya sekitar USD 99,8 miliar, atau sekitar 3,04 persen dari total PDB global, sementara kontribusi Amerika Serikat (AS) pada saat yang sama mencapai 35,5 persen.
Sementara pada tahun 2018, lanjut dia, porsi PDB China terhadap perekonomian global meningkat menjadi 16 persen, dan AS menurun menjadi 24 persen, sehingga dia menilai bahwa China kini menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi global yang sangat penting.
Terlebih, kata Jisheng, China berhasil mengentaskan 800 juta masyarakat dari kemiskinan dan menghasilkan lebih dari 400 juta penduduk berpendapatan menengah. Hal ini, lanjut dia, salah satunya berkat kebijakan reformasi ekonomi dan keterbukaan yang diprakarsai Deng Xiaoping, pemimpin Partai Komunis China selama periode 1978 hingga awal 1990-an.
"Itulah sebabnya kita bilang sejak perubahan dan pembukaan, yaitu di tahun 1978, China telah menciptakan dua keajaiban. Salah satu adalah stabilitas sosial yang bertahan dan yang lain adalah perkembangan ekonomi cepat," tegas Jisheng.
Rencana Ekonomi Jangka Panjang ChinaSementara itu, Dean of School of International Studies CFAU, Qu Bo, mengatakan China mulai membuka diri dan melakukan reformasi pada tahun 1978, dari sebelumnya merupakan salah satu negara termiskin di dunia.
Pada saat itu, PDB per kapita China kurang dari USD 300 dan perekonomiannya berbasis agraria dengan lebih dari 80 persen penduduk bekerja sebagai petani. Banyak masyarakat China, kata dia, mengalami kemiskinan ekstrem dan kelaparan. Oleh karena itu, langkah pertama yang dilakukan pemerintah China saat itu adalah mengatasi kelaparan.
Alhasil, Qu Bo menyebutkan pertumbuhan ekonomi China berlipat ganda dalam periode 1980-1990, rata-rata mencapai 10-13 persen setiap tahunnya. Sementara hingga tahun 2000, PDB per kapita China meroket hingga lebih dari USD 1.000, dan pada tahun 2020 telah menembus di atas USD 10.000.
"Deng Xiaoping mengajukan strategi pembangunan tiga langkah ini pada 1980-an. Dia benar-benar memikirkan visi jangka panjang untuk China, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seumur hidup," kata Qu Bo.
Qu Bo menilai, perkembangan ekonomi China paling melesat terjadi dalam 20 tahun atau dua dekade terakhir. Hal ini, menurut dia, utamanya disebabkan keputusan China bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001 silam.
"Jika kita melihat perkembangan ekonomi China, sebagian besar akumulasi kekayaan China sebenarnya terjadi dalam 20 tahun terakhir, terutama sejak tahun 2001, ketika China bergabung dengan WTO," ungkapnya.
Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa pemerintah China mengandalkan rencana jangka menengah dan panjang untuk pertumbuhan ekonominya, yakni rencana lima tahun (five-year plans). Program ini berperan sebagai alokasi sumber daya dan koordinasi pembangunan, serta pondasi bagi industrialisasi dan modernisasi.
Setelah menginjak usia ke-100 alias satu abad pada tahun 2020, Partai Komunis China yang kini dipimpin oleh Xi Jinping menetapkan target yang semakin ambisius, yakni PDB per kapita USD 20.000 pada tahun 2035 atau dalam kurun waktu 15 tahun, melalui program rencana lima tahun ke-14, 15, dan 16.
Berdasarkan data terakhir, PDB per kapita China mencapai USD 13.314 pada tahun 2024. Sementara itu, pada kuartal I 2026, Biro Statistik Nasional mengumumkan PDB China mencapai CNY 33,4193 triliun, naik 5,0 persen (yoy). Menurut Qu Bo, tiga program rencana lima tahun berturut-turut ke depannya akan sangat krusial bagi China.
"PDB per kapita China akan melebihi USD 20.000 untuk mencapai minimum sebagai ekonomi industri. Dan saya percaya, antara tahun 2030 dan 2035, ukuran ekonomi China secara keseluruhan akan melampaui AS, menjadi ekonomi terbesar di dunia," tegas Qu Bo.
Di sisi lain, Qu Bo mengatakan untuk membuat PDB per kapita di atas USD 20.000 pada tahun 2035, China juga harus mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen selama satu dekade ke depan.
Adapun dalam rencana lima tahun ke-15 atau periode 2026-2030, China menentukan beberapa indikator besar, meliputi pembangunan ekonomi, pembangunan yang didorong inovasi, mata pencaharian dan kesejahteraan rakyat, pembangunan ekonomi hijau, serta keamanan dan pertahanan.
Dampak Negatif dari Pesatnya PertumbuhanKendati demikian, Qu Bo mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat harus dibayar dengan sederet dampak negatif. Pertama yakni mahalnya harga properti sehingga generasi muda kesulitan untuk mendapatkan hunian. Saat ini, harga sebuah apartemen meningkat hingga 15 kali lipat dari awal tahun 2000.
"Jelas bagi generasi muda China biasa, mereka tidak mampu membeli apartemen sendiri. Kita memiliki apa yang disebut teori enam kantong, ketika pasangan muda menikah, orang tua dan mertua mereka akan mendukung mereka secara finansial, untuk membayar uang muka untuk membeli apartemen," tutur Qu Bo.
Selain itu, dampak negatif lainnya adalah besarnya kasus depresi, terutama pada generasi muda. Hal ini memungkinkan salah satunya karena ketatnya persaingan untuk masuk perguruan tinggi, berbeda dari masa sebelum era reformasi dan keterbukaan.
"Sekitar 6 atau 7 persen penduduk China menderita depresi, itu hampir 100 juta penduduk, di antara 100 juta penduduk itu, sekitar 30 persen adalah remaja. Generasi ini lahir dan dibesarkan dalam konteks yang sangat berbeda," ungkap Qu Bo.
Terlepas dari itu, Qu Bo menegaskan pemerintah China memiliki dua pendekatan utama dalam kebijakan ekonominya, yang diharapkan dapat menjadi solusi industrialisasi yang semakin masif. Pertama, kemandirian teknologi, terutama disebabkan istilah small yard, high fence, alias kecenderungan AS mencegah China mengakses teknologi canggihnya.
Kemudian, pendekatan kedua adalah pasar nasional yang terpadu, di mana pemerintah China harus membangun kekuatan pasar domestik sendiri, terlebih besarnya jumlah populasi yang mencapai 1,4 miliar jiwa, dengan total 400 juta penduduk berpenghasilan menengah.
"Rencana lima tahun merupakan alat kebijakan penting bagi Partai Komunis China untuk mengelola perekonomian. Ini adalah alat kebijakan, kombinasi dari berbagai kebijakan yang ditentukan oleh agenda kebijakan politik dan ekonomi domestik kita sendiri, serta juga bergantung pada perubahan lingkungan internasional," tutur Qu Bo.





