Dulu Idola Akuarium, Kini Sapu-sapu Diburu dan Dimusnahkan

kompas.id
17 jam lalu
Cover Berita

Keberadaan sapu-sapu meresahkan warga Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia. Dulu jadi idola pembersih akuarium sekarang dianggap berbahaya karena merusak tanggul sungai hingga masa depan ekosistem sungai.

Dalam beberapa hari terakhir, penangkapan sapu-sapu dilakukan secara massal di Jakarta. Dianggap berbahaya karena mengandung logam berat dan bakteri akibat sungai tercemar, ratusan kilogram sapu-sapu itu dimusnahkan dengan cara dikubur.

Kini dibenci, sapu-sapu ini sempat popular di kalangan pecinta ikan hias. Satwa asal Amazon, Amerika Selatan ini, menjadi solusi murah pembersih akuarium alami. Satu ekor ukuran 10-12 sentimeter pernah dijual Rp 6.000 per ekor.

Namun, tidak hanya Jakarta, penyebarannya di alam kini merambah ke berbagai daerah di Indonesia. Jumlahnya kian banyak dan meresahkan.

Baca JugaSungai di Jakarta Diserbu Sapu-sapu, Operasi Tangkap Dilakukan

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) meneliti populasi sapu-sapu di Kali Surabaya, Kota Surabaya, tahun 2011. Hasilnya, sapu-sapu lebih banyak ketimbang bader atau tawes (Barbonymus gonionotus), jendil (Clupisoma sinense), rengkik (Hemibagrus nemurus), hingga keting (Mystus gulio), pada periode Juli-Agustus 2011.

M Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye Ecoton, Minggu (19/4/2026) sore, mengatakan, tingginya populasi sapu-sapu menunjukkan jika tingkat pencemaran di Kali Surabaya cukup tinggi.

Kondisi saat ini diyakininya tidak jauh berbeda. Saat sensus ikan dalam 10 tahun terakhir, masih banyak sapu-sapu yang terjaring. Dulu jumlah sapu-sapu yang didapat dihitung. Namun sekarang yang didata hanya penemuan ikan lokal. Ironisnya, sapu-sapu masih mendominasi.

Baca JugaMelawan Sapu-sapu di Ciliwung, Perang yang Dimulai Terlambat

Sapu-sapu tidak sendirian menginvasi perairan Jatim. Ecoton pernah menemukan Arapaima gigas hidup di Sungai Brantas di Sidoarjo. Pada 2018, belasan ekor arapaima dibuang oleh pemiliknya ke Brantas.

Fenomena serupa juga terjadi di daerah lain. Di Kediri, lima kuintal bangkai sapu-sapu pernah diangkat dari Sungai Kresek di 2018. Hingga kini belum diketahui penyebabnya.

Sapu-sapu bahkan menebar masalah hingga Danau Limboto, Gorontalo. Pada 2017, nelayan bersama-sama membuang ikan-ikan itu keluar danau.

Baca JugaBukan Sapu-sapu melainkan Aligator, Ikan Invasif yang Bikin Masalah di Perairan Sumsel

Alaika mengatakan, bersama pencemaran limbah domestik dan industri, keberadaan populasi ikan invasif memicu semakin sulitnya menemukan ikan lokal.

Ia mencontohkan seluang kuning (Rasbora lateristriata), papar atau belida (Notopterus notopterus), lele batu (Akysis variegatus), hingga patin jambal (Pangasius djambal). Selain itu, Arang-arang (Labeo chrysophekadion), sidat (Anguilla spp), kepek (Barbonymus collingwoodii), dan sengkaring atau ikan dewa (Tor sp) juga kian langka.

Baca JugaAligator Gar, Monster bagi Ekosistem Lokal

Teranyar, Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Jambi memusnahkan sejumlah ikan invasif, berupa aligator gar (Atractosteus spp) dan sapu-sapu pada Maret 2026.

Kepala Balai Karantina Jambi Sudiwan Situmorang menegaskan keduanya tidak boleh dianggap sepele. Ikan invasif memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Berkembang biak dengan cepat, serta dapat mendominasi habitat.

“Jika dilepas ke perairan di wilayah Indonesia dapat mengancam keberadaan ikan lokal dan merusak keseimbangan ekosistem,” katanya.

Baca JugaIkan-ikan Predator dan Invasif, Bergengsi tetapi Terlarang

Menanggapi hal ini, Guru Besar Bidang Ilmu Eksplorasi Sumber Daya Ikan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang Dewa Gede Raka Wiadnya, memaparkan, sejak 2014, ikan sapu-sapu sudah tidak lagi diperbolehkan masuk ke Indonesia.

Larangan itu dituangkan dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Larangan Memasukkan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke dalam Wilayah Negara RI. Sapu-sapu termasuk 152 organisme semiaquatik yang dilarang dimasukkan ke Tanah Air.

Ada dua jenis yang mendominasi di Indonesia yaitu, Pterygoplichthys disjunctivus dan Pterygoplichthys pardalis. Ikan ini memakan semua, mulai dari lumut dan gulma hingga detritus.

Sedangkan tiga jenis lainnya, yakni Prerygoplichthys anisitsi, Prerygoplichthys multiradiatus, dan Prerygoplichthys spp, menurut Gede, kemungkinan tidak atau belum terkonfirmasi di Indonesia.

Sementara itu, ikan lain yang dilarang masuk adalah termasuk Arapaima gigas dan aligator gar. Selain itu, ada beberapa jenis piranha, yaitu Serrasalmus gibbus, Serrasalmus rhombeus, hingga Pygocentrus nattereri.

Selain itu juga ada Permen Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran Jenis Ikan yang Membahayakan atau Merugikan ke dalam dan dari wilayah Indonesia. Aturan ini juga menyebut sapu sapu sebagai salah satu ikan di dalamnya.

”Ikan-ikan ini sudah masuk ke Indonesia sebelum permen dikeluarkan,” ujar Gede.

Untuk mengendalikan populasinya, menurut Gede, tidak cukup penangkapan besar-besaran di perairan tercemar. Perairan yang masih asri juga butuh pemantauan. Jika lalai, spesies invasif ini bakal semakin merusak ekosistem sungai hingga membuat hidup ikan lokal kian terdesak.

Baca JugaIroni Ikan Pendatang yang Menghidupi Marind Anim


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov DKI Izinkan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Pemilik Lama
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Bagaimana Cara AS Blokade Selat Hormuz dan Memutus Keuntungan Iran?
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Banyak Takut Melapor, Kasus Kekerasan Seksual di Kampus Jadi Sorotan Komisi X DPR RI
• 11 jam laludisway.id
thumb
Presiden Masoud Pezeshkian Serukan Diplomasi untuk Redakan Ketegangan, Iran Tegaskan Sikap Tegas Soal Negosiasi AS
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Eks Admin Fuji Sudah Ngaku Lakukan Penggelapan Dana, Status Tersangka Segera Ditetapkan
• 16 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.