Pantau - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penggunaan jalur diplomatik untuk meredakan ketegangan internasional di tengah dinamika hubungan global yang memanas.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam sebuah forum di Istanbul pada Senin, 20 April 2026.
Ia menegaskan bahwa perang tidak membawa manfaat bagi pihak mana pun dalam situasi saat ini.
Ia mengatakan "Sambil melawan ancaman, setiap jalur rasional dan diplomatik harus digunakan untuk mengurangi ketegangan", ungkapnya.
Pezeshkian juga menyoroti pentingnya sikap hati-hati dalam menjalin hubungan internasional.
Ia menyatakan "Pada saat yang sama, ketidakpercayaan terhadap musuh dan kewaspadaan dalam berinteraksi adalah kebutuhan yang tak terbantahkan", ujarnya.
Perbedaan Sikap Soal NegosiasiSecara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyampaikan sikap berbeda terkait kemungkinan negosiasi baru.
Ia menegaskan bahwa Iran belum memiliki rencana untuk mengadakan perundingan lanjutan dengan Amerika Serikat.
Ia menyatakan "Republik Islam Iran tidak menerima batas waktu atau ultimatum apa pun dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya", tegasnya.
Baqaei juga menekankan komitmen pemerintah dalam menjaga kepentingan nasional di tengah tekanan internasional.
Ia mengatakan "Perlindungan terhadap kepentingan nasional akan terus dilakukan selama diperlukan, dan jika terjadi petualangan baru dari Amerika Serikat atau rezim Israel, angkatan bersenjata akan merespons dengan kekuatan penuh dan tegas", ujarnya.
Latar Belakang Ketegangan dan NegosiasiPernyataan kedua pejabat tersebut muncul di tengah laporan adanya kemungkinan perundingan lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat.
Dua sumber dari Pakistan menyebutkan delegasi Iran direncanakan akan hadir dalam putaran kedua negosiasi dengan Amerika Serikat.
Putaran pertama negosiasi sebelumnya telah berlangsung di Islamabad dan berakhir tanpa kesepakatan pada 12 April 2026.
Sebelumnya, pada 8 April 2026, Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan sebagai jeda konflik.
Kesepakatan tersebut tercapai setelah serangan militer gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.




