Kondisi Terbaru Selat Hormuz, Suasana Makin Keruh karena AS Rebut Kapal Induk Iran

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa negaranya telah merebut sebuah kapal berbendera Iran di sekitar Teluk Oman. Aksi yang menurut Trump upaya penerobosan blokade laut AS di dekat Selat Hormuz itu disebut sebagai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata. 

Trump menulis di media sosial Truth Social miliknya bahwa Angkatan Laut AS merebut sebuah kapal yang bernama Touska setelah gagal merespons peringatan untuk berhenti. 

“Hari ini, sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA, yang panjangnya hampir 900 kaki [sekitar 274 meter] dan beratnya hampir setara dengan sebuah kapal induk, mencoba melewati Blokade Laut kita, dan hal itu tidak berakhir baik bagi mereka,” tulis Trump pada Senin pagi waktu Indonesia (20/4/2026).

Dia mengeklaim bahwa AS, melalui kapal Kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance milik mereka, telah memberikan peringatan yang wajar agar kapal Touska berhenti. Akan tetapi, katanya, para awak kapal Iran menolak sehingga Angkatan Laut AS melepaskan ledakan yang menimbulkan sebuah lubang di ruang mesin Touska.

Alhasil, saat ini AS telah “memiliki penguasaan atas kapal tersebut.” AS pun menyatakan sedang melakukan pemeriksaan terhadap isi kapal itu.

Dalam unggahan yang sama, Trump menyebut bahwa Departemen Keuangan AS sebelumnya telah memberi sanksi kepada kapal Touska, dengan alasan adanya “riwayat aktivitas ilegal mereka sebelumnya.”

Baca Juga

  • Dag-dig-dug Dunia Usaha Imbas Dinamika Selat Hormuz
  • Nasib Dua Kapal Pertamina Usai Selat Hormuz Ditutup Lagi

Dalam kesempatan yang berbeda, Komando Pusat AS merilis rekaman yang mereka sebut menunjukkan sebuah kapal angkatan laut sedang mencegat kapal kargo, seperti dikutip dari BBC News, Senin (20/4/2026). Dalam rekaman tersebut, kapal AS terlihat melepaskan tembakan ke arah kapal kargo itu, setelah AS memperingatkan awak Touska untuk mengosongkan ruang mesin mereka.

Selain menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar gencatan senjata antara kedua pihak, Iran juga menyebut bahwa mereka akan segera membalas tindakan yang disebut sebagai “pembajakan bersenjata” tersebut.

“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons dan membalas tindakan pembajakan bersenjata ini serta militer AS,” ujar seorang juru bicara dari markas besar militer tertinggi Iran, Khatam al-Anbiya, seperti dilansir agensi berita ISNA dan The Guardian.

Juru bicara itu menyatakan bahwa pasukan marinir AS telah menembaki sebuah kapal komersial Iran di perairan Laut Oman, melumpuhkan sistem navigasinya, dan menaiki kapal tersebut. Menurut situs pelacakan kapal MarineTraffic, kapal kargo tersebut dihentikan di dekat perbatasan Iran dengan Pakistan.

Keadaan Terbaru di Selat Hormuz

Selat Hormuz masih ditutup pada Minggu (19/4/2026).

Sehari sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri pembukaan kembali selat itu secara sementara akibat adanya blokade laut AS. Salah satu bagian dari angkatan bersenjata Iran itu mengatakan bahwa blokade laut AS melanggar syarat-syarat perjanjian gencatan senjata. Pemerintah Iran pun menegaskan selat tersebut akan tetap ditutup hingga AS mengakhiri blokade lautnya.

Sementara itu, Trump pada Jumat (17/4/2026) mengatakan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan terus berlanjut hingga kesepakatan disetujui oleh kedua negara. Sebelumnya, Selat Hormuz memang telah secara efektif tertutup setelah Iran melakukan pembalasan terhadap serangan AS dan Israel di negaranya, yang dimulai sejak akhir Februari 2026, dengan menyerang salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia tersebut.

Melalui Selat Hormuz, sekitar 20% minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia biasanya diangkut. Jumlah kapal yang melakukan pelayaran melalui selat itu telah menurun drastis selama perang di Asia Barat alias Timur Tengah ini, yang memicu lonjakan harga energi global.

Blokade laut AS dilakukan setelah putaran pertama negosiasi pada awal April 2026, yang dimediasi oleh Pakistan, berakhir tanpa adanya kesepakatan. Dalam perundingan itu, isu-isu utama yang diperdebatkan, termasuk program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz, belum ditemukan penyelesaiannya.

Seperti Iran, Trump pada Sabtu (18/4/2026) tersebut juga menuduh negara tersebut melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti dengan menyerang sebuah kapal Prancis dan kapal barang dari Britania Raya.

Perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM mengonfirmasi bahwa salah satu kapalnya ditembaki oleh tembakan peringatan, sementara belum ada mengenai konfirmasi tembakan mengenai kapal Britania Raya dari pemerintahnya. Pihak Britania Raya memang menyatakan bahwa terdapat 2 kapal yang ditembaki pada hari itu, tetapi mereka tidak mengklarifikasi dari mana kapal itu berasal.

Sementara itu, India mengatakan bahwa dua kapal berbendera India terlibat dalam sebuah insiden penembakan di wilayah Selat Hormuz pada akhir pekan yang sama. 

Kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan IRGC, mengatakan bahwa juga terdapat dua tanker dengan bendera Botswana dan Angola yang ingin melintasi Hormuz. Namun, kedua kapal tersebut diklaim terpaksa mengubah arah dan mundur setelah adanya tindakan dari angkatan bersenjata Iran.

Secara umum, menurut data dari MarineTraffic, lalu lintas di Selat Hormuz masih terpantau lumpuh pada Minggu (19/4/2026) waktu setempat.

Negosiasi damai lanjutan Iran dan AS

Pernyataan Iran mengenai perebutan kapalnya oleh AS tersebut dikeluarkan setelah AS mengumumkan bahwa Wakil Presiden JD Vance akan kembali memimpin delegasi AS lain dalam pembicaraan putaran kedua untuk mengakhiri perang AS dengan Iran. Seperti pembicaraan sebelumnya, pertemuan ini akan dilakukan di Pakistan.

Iran sendiri, menurut laporan BBC News, belum mengonfirmasi kehadirannya. Media yang dimiliki Pemerintah Iran juga melaporkan bahwa para pejabat Iran tidak akan berpartisipasi dalam perundingan selama AS masih memblokade Selat Hormuz. Negara tersebut juga mengecam retorika AS yang mengancam, posisi AS yang berubah-ubah, dan permintaan mereka yang dinilai berlebihan.

Dengan demikian, kemungkinan adanya upaya perpanjangan gencatan senjata di antara kedua negara tersebut, yang awalnya direncanakan berlangsung selama 2 pekan dan berakhir pada Rabu esok (23/4/2026), pun menjadi makin kecil.

Pada Minggu (19/4/2026), Trump mengatakan bahwa perwakilan AS akan tiba di Pakistan pada Senin. Meski begitu, kantor berita IRNA milik Pemerintah Iran menyatakan bahwa kabar mengenai adanya putaran kedua negosiasi tidaklah benar.

Di lain pihak, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu malam. Dalam pernyataannya, Sharif sama sekali tidak menyinggung mengenai pembicaraan lebih lanjut antara Iran dan AS.

Jika kesepakatan damai tidak disetujui, Trump mengancam akan menghancurkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran. (Laurensius Katon Kandela)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPOM: Penyalahgunaan Ketamin Meningkat Sejak 2022-2024
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
3 Penyebab Umum Mesin Yamaha Nmax Jadi Berisik
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Mengapa Harga Pertamax Tetap? Ini Analisis Pengamat Ekonomi Energi UGM
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BPOM Ungkap Lonjakan Penyalahgunaan Ketamin di Tahun 2022-2024
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Hashim Ungkap Asal-usul MBG: Digagas Prabowo sejak 2006
• 23 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.