Nilai tukar mata uang ringgit Malaysia berpeluang menguji kembali level tertingginya sepanjang tahun ini terhadap dolar AS usai ditopang fundamental ekonomi yang kuat, menurut para analis strategi.
Mengutip Bloomberg, ringgit sempat menguat setelah sebelumnya melemah 4 persen pada Maret 2026 akibat perang Iran yang menekan sentimen risiko global.
Kini, ringgit kembali berada di jalur untuk menguji level resistensi di 3,88 per dolar AS level yang dicapai tepat sebelum pecahnya konflik. Saat ini posisi ringgit berada di sekitar 3,95 per dolar AS.
Sejumlah institusi seperti Loomis Sayles & Co. dan Deutsche Bank AG juga melihat potensi penguatan lanjutan.
Ringgit berpeluang mencetak level tertinggi baru pada 2026, menurut Hassan Malik, Ahli Strategi Makro Global di Loomis Sayles, afiliasi Natixis Investment Managers.
“Malaysia menawarkan kombinasi yang relatif langka berupa pertumbuhan yang tangguh, pengelolaan makroekonomi yang kredibel, jarak dari titik panas geopolitik utama, serta ekonomi yang terdiversifikasi dari sektor minyak hingga pusat data,” kata Malik, Senin (20/4).
Penguatan ini didukung oleh ekspor yang kuat dan lonjakan investasi terkait industri pusat data yang berkembang pesat di Malaysia. Negara tersebut kini muncul sebagai pusat utama data center di Asia Tenggara, menarik perusahaan seperti Oracle Corp., Amazon.com Inc., Alibaba Group Holding Ltd., hingga ByteDance Ltd.
Ekonomi Malaysia tumbuh lebih cepat dari perkiraan sebesar 5,5 persen pada kuartal pertama, setelah mencatat pertumbuhan 5,2 persen tahun lalu, laju tercepat sejak 2022 dengan ekspor sebagai pendorong utama.
Investor akan mencermati data perdagangan yang dirilis pada Senin untuk melihat apakah konflik AS-Iran mulai membebani salah satu penopang utama ringgit.
Fundamental siklikal Malaysia yang kuat menjelang konflik, statusnya sebagai eksportir energi bersih, serta keterkaitannya dengan siklus belanja modal teknologi global memberi keunggulan relatif bagi ringgit di kawasan, menurut Sameer Goel, Kepala Riset Pasar Negara Berkembang dan APAC di Deutsche Bank.





