Kudeta di Afrika Barat: Tanda Gagalnya Demokrasi atau Penolakan terhadap Barat?

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Gelombang kudeta di Afrika Barat dalam beberapa tahun terakhir bukan sekadar tanda kemunduran demokrasi. Lebih dari itu, fenomena ini justru menunjukkan kegagalan model demokrasi yang selama ini dipaksakan tanpa benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat lokal.

Mali, Burkina Faso, hingga Niger menjadi bukti bahwa sistem politik formal seperti pemilu dan pemerintahan sipil tidak otomatis menghasilkan legitimasi. Demokrasi memang berjalan secara prosedural, tetapi gagal secara substansi. Ketika korupsi merajalela, ketimpangan ekonomi melebar, dan keamanan memburuk, demokrasi kehilangan maknanya di mata rakyat.

Dalam situasi seperti ini, kemunculan militer sebagai “penyelamat negara” bukanlah solusi, melainkan gejala dari krisis yang lebih dalam. Fakta bahwa sebagian masyarakat justru menyambut kudeta menunjukkan betapa rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah sipil. Ini adalah alarm keras bahwa demokrasi yang ada tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Namun, menyederhanakan masalah ini sebagai “kegagalan internal Afrika” adalah kesalahan besar. Peran aktor eksternal, terutama negara-negara Barat seperti France, tidak bisa diabaikan. Warisan kolonial dan intervensi politik-ekonomi yang masih berlanjut membuat banyak negara Afrika sulit berdiri secara mandiri.

Bagi banyak warga Afrika, demokrasi sering kali dipersepsikan bukan sebagai sistem yang membebaskan, tetapi sebagai alat yang mempertahankan ketergantungan terhadap Barat. Ketika pemerintah sipil dianggap terlalu dekat dengan kepentingan asing, legitimasi mereka otomatis melemah.

Kondisi ini kemudian membuka ruang bagi aktor global lain untuk masuk. Russia mulai menawarkan kerja sama keamanan, sementara China memperluas investasi tanpa banyak syarat politik. Kehadiran mereka bukan sekadar alternatif, tetapi juga mencerminkan pergeseran kepercayaan negara-negara Afrika terhadap mitra globalnya.

Meski demikian, penting untuk ditegaskan bahwa kudeta bukanlah jalan keluar. Pemerintahan militer tidak secara otomatis lebih baik, dan sejarah menunjukkan bahwa mereka sering kali mengulangi pola yang sama, otoritarianisme, kurangnya transparansi, dan stagnasi ekonomi. Namun, menyalahkan kudeta semata tanpa melihat akar masalahnya justru menutup peluang untuk memahami krisis yang sebenarnya.

Gelombang kudeta ini harus dibaca sebagai bentuk penolakan terhadap sistem yang gagal, bukan sekadar pelanggaran terhadap demokrasi. Ini adalah sinyal bahwa masyarakat Afrika menuntut perubahan yang lebih mendasar, bukan hanya pergantian pemimpin, tetapi perubahan cara negara dijalankan.

Jika komunitas internasional terus mempertahankan pendekatan lama yang hanya menekankan stabilitas tanpa keadilan sosial dan kemandirian ekonomi, maka gelombang kudeta ini tidak akan berhenti. Sebaliknya, ia berpotensi menjadi pola baru dalam politik Afrika.

Afrika hari ini tidak lagi sekadar objek dalam politik global. Ia sedang mendefinisikan ulang posisinya, dan dunia perlu mulai mendengarkan, bukan sekadar mengarahkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hadiri Halal Bihalal, Mbak Wali Soroti Peran Strategis Alumni untuk Daerah
• 12 jam lalurealita.co
thumb
Menteri Bahlil: Harga LPG Non-Subsidi Ikuti Pasar, LPG 3 Kg Tak Pernah Naik Sejak 2007
• 46 menit lalukompas.tv
thumb
Tiada Kawan dan Lawan Abadi dalam Politik, PDIP Berpeluang Koalisi dengan PSI
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Enam Desa Terendam, Puluhan Warga Cigudeg Bogor Dievakuasi
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tok! Kontrak Manajemen Konstruksi Stadion Untia Diteken
• 2 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.