Efek Bahan Baku Plastik, Yamaha Indonesia Sesuaikan Harga

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Manager Public Relations, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Rifki Maulana tak menampik situasi bahan baku plastik yang sedang melanda industri nasional turut berdampak pada harga produk mereka yang dijual di Tanah Air.

"Per April itu sudah naik," buka Rifki singkat saat ditemui di Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (18/4/2026).

Menilik laman resmi pabrikan, hampir semua banderol lini garpu tala tersebut meningkat dibanding bulan Maret. Contohnya semua varian model Lexi 155 yang selisih lebih tinggi sekira Rp 300 ribuan dan membuatnya dijual mulai Rp 27,3 juta hingga Rp 32 jutaan.

Ada lagi dari keluarga NMax untuk varian Neo dan S yang sekarang dipasarkan Rp 34 juta dan Rp 35 juta alias selisih sekitar Rp 300 jutaan. Pun dengan Aerox varian Alpha Standar naik Rp 300 ribu menjadi Rp 30,2 juta.

Kemudian yang versi CyberCity peningkatannya menyentuh Rp 500 ribuan menjadi Rp 29,08 juta dan varian Standar sekarang ditawarkan dengan harga Rp 28,8 juta alias naik Rp 300 ribuan. Paling signifikan adalah XMAX yang naiknya bisa capai Rp 1 jutaan.

Contoh model XMAX 250 Connected dan Tech Max masing-masing naik Rp 1 juta menjadi Rp 69,2 juta dan Rp 76,6 juta. Rifki menambahkan, pihaknya memang sudah mengantisipasi kendala pasokan global tersebut.

"Kita namanya produksi kan secara global sudah tahu dari sourcing-nya kita," jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita terus memantau perkembangan dinamika geopolitik global, termasuk situasi di kawasan Selat Hormuz, yang berpotensi memengaruhi rantai pasok bahan baku petrokimia dan subsektor industri plastik nasional.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini,” kata Agus dalam keterangannya, Kamis (16/4).

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kemenperin telah mempertemukan pelaku industri hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, hingga industri daur ulang plastik guna membahas kondisi terkini serta langkah mitigasi bersama.

Kemenperin juga memahami bahwa gejolak geopolitik di Selat Hormuz telah menyebabkan distorsi pada struktur harga produk plastik di dalam negeri. Penyesuaian harga dimungkinkan terjadi akibat kenaikan biaya logistik dan freight pelabuhan, pengenaan surcharge premium serta terganggunya waktu pengiriman bahan baku dari luar negeri.

“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi," papar Agus.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dari Pinggiran ke Digital
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Ikan Sapu-Sapu Dominasi Sungai Jakarta, Kenneth DPRD DKI Dorong Penanganan Terintegrasi
• 23 jam laludetik.com
thumb
Mencari Pekerjaan tapi Belum Tentu Sukses
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Indef Usul Pajak Windfall Sektor SDA, Tangkap Potensi Penerimaan Negara
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Seorang Pria Tembak Delapan Bocah Hingga Tewas, Tujuh Diantaranya Anak Kandung Sendiri
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.