Jakarta, VIVA – Michael Saylor panen cuan karena harga Bitcoin naik 4,7 persen dalam 24 jam terakhir hingga melampaui level US$78.000. Lonjakan harga aset kripto paling berharga di dunia turut membawa berkah bagi perusahaan Saylor, Strategy.
Melansir AOL, saham perusahaan berkoder MSTR yang tercatat di bursa Nasdaq ini melambung hingga 13,83 persen ke posisi US$169,54 pada perdagangan Jumat, 17 April 2026 waktu setempat. Kenaikan ini terjadi seiring reli harga Bitcoin yang diperdagangkan di kisaran US$78.209 atau sekitar Rp 1,34 miliar (estimasi kurs Rp 17.170 per dolar AS) per koin atau menguat 4,7 persen dalam 24 jam terakhir.
Lonjakan Bitcoin tak lepas dari membaiknya sentimen pasar global. Investor mulai mengesampingkan kekhawatiran konflik Timur Tengah setelah muncul sinyal positif dari perkembangan geopolitik.
- U-Report
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan, negosiasi damai dengan Iran menunjukkan kemajuan dan berpotensi menghasilkan kesepakatan damai permanen. Trump juga memastikan Selat Hormuz kembali terbuka dan beroperasi normal, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Pengumuman Trump disampaikan beberapa jam setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada 16 April 2026. Setelah itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkonfirmasi pengiriman minyak komersial melalui Hormuz akan dilanjutkan.
Gencatan senjata di Lebanon merupakan prasyarat utama Iran dalam negosiasi yang lebih luas. Kondisi ini menjadi dasar optimisme pasar bahwa pembicaraan antara AS dan Iran akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang.
Bagi Strategy, lonjakan Bitcoin menjadi katalis utama atas pergerakan saham di papan bursa. Sejak mengubah strategi bisnis menjadi perusahaan dengan fokus penyimpanan aset Bitcoin, kinerja keuangan perusahaan sangat bergantung pada pergerakan harga kripto tersebut.
Hingga tanggal 17 April 2026, Strategy tercatat memiliki sekitar 780.897 BTC dengan nilai mencapai US$60,8 miliar pada harga saat ini. Kepemilikan ini menjadikan perusahan Saylor sebagai korporasi dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia.
Perusahaan sempat mencatat kerugian kertas sekitar US$14,5 miliar pada kuartal I-2026 akibat selisih harga beli dan pasar Bitcoin. Reli terbaru ini memberi angin segar bagi neraca perusahaan.





