Nasib Kru Film Indonesia di Balik Layar dan Ilusi Green Production

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini, industri film Indonesia sedang berkembang pesat. Hampir setiap bulan ada saja judul film yang sukses menarik jutaan penonton. Kualitas visualnya semakin baik, akting para pemerannya meyakinkan, dan variasi ceritanya kian beragam. Sebagai penonton, kita tentu bangga melihat industri kreatif di Tanah Air terus bergerak maju.

Namun, pernahkah kita memikirkan apa yang terjadi setelah sutradara menyelesaikan jadwal syuting pada jam empat pagi setelah kalimat "it's wrap!" selesai?

Di balik kualitas film yang kita tonton di bioskop, ada kenyataan tentang jam kerja kru film yang tidak masuk akal. Bekerja 18 sampai 20 jam sehari masih sering dianggap sebagai hal yang wajar. Mereka pulang subuh, tidur dua hingga tiga jam, lalu harus bersiap lagi di lokasi syuting sebelum matahari terbit. Kalau ada kru yang mengeluh karena kelelahan, alasan yang sering muncul adalah tuntutan agar bekerja dengan dasar passion.

Kenyataan ini mengingatkan saya pada sebuah lokakarya bertajuk "Seriale Indonesia" yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut tahun lalu. Salah satu topik bahasan di sana adalah tentang Green Production atau produksi film yang berkelanjutan. Sebagai informasi, Goethe-Institut secara global memang memiliki komitmen kuat pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kebijakan ini mencakup proses yang ramah lingkungan serta pengadaan yang tidak hanya hemat secara ekonomi, tetapi juga memenuhi asas tanggung jawab sosial bagi para pekerjanya.

Konsep Green Production ini merupakan standar baru di industri global yang sangat ideal. Namun, menerapkannya di industri film Indonesia saat ini rasanya masih sangat sulit dicapai. Bagaimana kita bisa mulai membahas upaya mengurangi emisi karbon atau mendaur ulang limbah syuting, jika aspek paling dasar dalam sebuah produksi, yaitu keselamatan dan kesejahteraan manusianya masih diabaikan? Keberlanjutan tidak hanya tentang lingkungan fisik, tetapi juga mencakup perlakuan sosial yang adil.

Istilah passion pada pekerjaan sangat sering digunakan sebagai alasan pembenaran atas jam kerja berlebih. Seolah-olah saat seseorang sangat menyukai dunia film, orang tersebut tidak lagi butuh waktu istirahat yang cukup.

Padahal, kru film adalah pekerja yang memiliki batas fisik. Ketika seseorang bekerja terus-menerus di bawah tekanan tinggi tanpa istirahat memadai, hal itu langsung mengancam keselamatannya. Banyak laporan dan kejadian nyata tentang kru yang mengalami kecelakaan akibat mengantuk saat mengemudi pulang dari lokasi syuting, atau jatuh sakit karena kelelahan kronis. Masalah ini bertambah rumit karena banyak pekerja yang takut untuk bersuara. Mereka khawatir dinilai tidak loyal atau sulit diajak bekerja sama. Akibatnya, pola kerja buruk ini terus berulang dari satu produksi ke produksi lainnya.

Kita harus mulai mengubah cara pandang terhadap industri ini. Industri film adalah sebuah lapangan kerja yang menuntut pemenuhan hak dan kewajiban yang jelas, bukan sekadar tempat memproduksi karya seni. Menghasilkan film yang diminati banyak orang memang penting, namun kesehatan dan keselamatan para pembuatnya jauh lebih penting.

Industri yang sehat diukur dari bagaimana orang-orang di dalamnya diperlakukan, bukan sekadar dari jumlah penonton atau piala yang diraih. Menerapkan standar jam kerja yang manusiawi, kontrak yang transparan, dan jaminan upah lembur adalah keharusan mendasar. Tanpa pemenuhan hak-hak dasar ini, membahas Green Production atau standar produksi kelas dunia menjadi tidak relevan.

Penonton film Indonesia saat ini sudah lebih kritis. Kita menghargai sebuah karya dan juga peduli pada proses di baliknya. Tidak ada kebanggaan yang tersisa saat mengetahui bahwa adegan yang bagus di layar ternyata dihasilkan oleh kru yang menahan kantuk atau menahan sakit akibat jadwal kerja yang tidak manusiawi.

Sudah saatnya industri film berbenah secara nyata. Memberikan jam istirahat yang layak bagi kru tidak akan menurunkan kualitas karya. Justru dengan fisik yang bugar dan waktu istirahat yang cukup, tingkat konsentrasi dan kreativitas saat bekerja bisa dicapai dengan lebih maksimal.

Jangan sampai perkembangan pesat sinema Indonesia saat ini harus dibayar dengan kesehatan atau keselamatan para pekerja di balik layar. Film yang berkualitas lahir dari tim yang sehat, terpenuhi haknya, dan dihargai, bukan dari mereka yang dipaksa bekerja melebihi batas waktu wajar.

Pada akhirnya, tidak ada satu pun karya seni yang lebih berharga dari nyawa manusia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
YLKI dorong sistem penyelesaian sengketa digital terintegrasi via ODR
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Harga 3 Jenis BBM Nonsubsidi Naik, Warga Kaget Tak Ada Sosialisasi | JMP
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Brimob Polda Metro Jaya Bantu Padamkan Kebakaran di Jaksel
• 1 jam laludetik.com
thumb
BBM Nonsubsidi Naik, Legislator Komisi VI Ungkit Dampak ke Kelas Menengah
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Presiden AS Trump Klaim Negosiasi dengan Iran Berjalan Baik | KOMPAS PETANG
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.