Bisnis.com, JAKARTA — Emiten kelapa sawit (crude palm oil/CPO) optimistis tahun ini masih menguntungkan bagi bisnis perkebunan ditopang oleh permintaan yang solid. Akan tetapi, sejumlah tantangan, utamanya dari pergerakan harga minyak mentah, turut membayangi.
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) Djap Tet Fa menjelaskan industri CPO tahun ini menghadapi berbagai tantangan struktural dan dinamis, di antaranya pergerakan harga minyak, fluktuasi mata uang asing, hingga geopolitik.
“Faktor penawaran dan permintaan global menjadi katalis utama mendorong harga CPO di tengah stagnansi produksi minyak kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir,” kata Tet Fa dalam konferensi pers AALI, Rabu (15/4/2026).
Tet Fa juga menunjukkan industri kelapa sawit Indonesia memiliki tantangan produktivitas yang salah satunya disebabkan oleh usia rata-rata tanaman yang tua, serta cuaca ekstrem. Di sisi lain, harga CPO juga naik seiring kuatnya permintaan global, termasuk dorongan kebijakan mandatori biodiesel Indonesia yang terus menopang harga.
Adapun, AALI tahun ini menganggarkan belanja modal yang cukup besar, yaitu Rp1,4 triliun yang sebagian akan digunakan untuk melakukan replanting atau peremajaan tanaman sawit. Capex perseroan tahun ini meningkat 79% dibandingkan 2025 lalu yang sebesar Rp782 miliar.
AALI berencana melakukan penanaman kembali atau replanting hingga 8.000 hektar lahan sawit tahun 2026. Area yang akan replanting tahun ini lebih luas daripada sepanjang 2025 yang sudah di-replanting seluas 5.080 hektar.
Tet Fa menuturkan replanting memang menjadi fokus strategi utama perseroan pada 2026. Porsi capex akan digunakan untuk mendukung replanting sebesar 63,8%, untuk mill and port sebesar 19,8%, dan non-plantation sebesar 16,4%.
Sementara itu, Corporate Secretary PT Eagle High Plantations. Tbk (BWPT) Rizka Dewi menjelaskan pihaknya melihat peluang pertumbuhan kinerja yang positif, didukung oleh tren penguatan harga CPO.
“Perseroan tetap mengedepankan kehati-hatian dengan fokus pada efisiensi dan peningkatan margin,” ujar Rizka, Kamis (15/4/2026).
Adapun menurutnya, strategi BWPT saat ini berfokus pada optimalisasi aset yang ada melalui program replanting, peningkatan produktivitas, serta efisiensi operasional pabrik, dengan peluang ekspansi yang tetap terbuka secara selektif dan terukur.
Sama seperti AALI, BWPT juga melihat fundamental pasar CPO tetap didukung oleh permintaan global yang solid, khususnya dari sektor pangan dan energi, meskipun tetap dipengaruhi dinamika supply–demand, kebijakan, dan faktor eksternal.
“Kami melihat tren harga CPO ke depan cenderung positif, didukung oleh permintaan global yang solid serta dinamika pasar yang kondusif. Hal ini menjadi peluang positif bagi kinerja perseroan, dengan tetap memperhatikan potensi volatilitas jangka pendek,” kata Rizka.
Lebih lanjut, menurutnya BWPT terus mengantisipasi tantangan seperti volatilitas harga, fluktuasi nilai tukar, dan kenaikan biaya produksi.
“Namun, melalui penguatan efisiensi, tata kelola, dan implementasi keberlanjutan, kami optimistis dapat menjaga kinerja yang resilien dan berkelanjutan,” tuturnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





