FAJAR, MAKASSAR — Situasi yang dihadapi PSM Makassar menjelang penghujung musim BRI Super League 2025/2026 semakin mengarah pada titik paling genting. Tim yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola Indonesia itu kini tidak lagi berbicara tentang persaingan di papan atas, melainkan sedang berjuang keras untuk mempertahankan eksistensinya di kasta tertinggi. Perubahan orientasi ini terjadi begitu cepat, mencerminkan betapa keras dan tidak terduganya dinamika kompetisi musim ini.
Kekalahan dari Borneo FC Samarinda menjadi pukulan telak yang memperparah keadaan. Hasil tersebut membuat PSM tertahan di posisi ke-13 dengan koleksi 28 poin—sebuah posisi yang sangat rawan untuk tim dengan sejarah dan ekspektasi besar. Ancaman tidak hanya datang dari tim papan atas yang semakin menjauh, tetapi justru dari klub-klub di bawah yang terus menekan dan berpotensi menyalip kapan saja.
Madura United yang berada tepat di bawah kini hanya terpaut dua poin. Sementara Persijap Jepara bahkan lebih mengkhawatirkan karena hanya berjarak tiga poin dengan satu pertandingan yang belum dimainkan. Dalam skenario tertentu, posisi PSM bisa tergeser dalam waktu singkat. Situasi ini membuat tekanan yang dihadapi tim menjadi berlapis: mereka tidak hanya harus memperbaiki performa sendiri, tetapi juga bergantung pada hasil pertandingan tim lain. Kondisi seperti ini jelas bukan sesuatu yang diinginkan oleh tim mana pun.
Di tengah tekanan tersebut, kekecewaan dari suporter mulai terdengar semakin nyata. Dukungan yang selama ini menjadi kekuatan tambahan kini mulai tergerus oleh hasil yang tidak memuaskan. Salah satu suara datang dari Ulil Amri, yang menggambarkan bahwa mendukung tim di stadion bukan sekadar soal loyalitas, tetapi juga pengorbanan.
”Pasti laga kandang nanti suporter akan loyo juga mendukung ke stadion. Kita kan ke sana bukan cuma modal tiket, ada ongkos, butuh makan, minum, pulang tengah malam, tapi kalah. Ya bagaimana juga kalau begini,” keluhnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan realitas emosional yang dirasakan banyak pendukung. Dalam sepak bola, hubungan antara tim dan suporter sangat erat dengan performa di lapangan. Ketika hasil tidak sesuai harapan, rasa kecewa menjadi hal yang sulit dihindari.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya hilang. Hanya saja, bentuknya kini jauh lebih sederhana. Jika sebelumnya suporter bermimpi tentang gelar juara, kini harapan itu menyempit menjadi sekadar bertahan di liga.
”Ya tidak tahu bagaimana lagi, saya cuma berharap PSM bisa bertahan di Super League musim depan. Karena sekarang PSM tidak berjuang untuk berebut juara, tapi berusaha menghindari degradasi,” lanjutnya.
Nada pesimistis ini menunjukkan perubahan ekspektasi yang drastis. PSM kini berada dalam fase bertahan, bukan menyerang. Mereka tidak lagi mengejar prestasi tertinggi, tetapi berusaha menghindari kemungkinan terburuk.
Dari sisi pemain, kesadaran akan situasi ini juga terlihat jelas. Gelandang PSM, Akbar Tanjung, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada suporter atas hasil buruk yang didapatkan, terutama setelah sebelumnya mereka mengajak pendukung untuk hadir langsung ke stadion.
”Saya minta maaf juga kepada suporter yang sudah hadir untuk mendukung kita, dan juga suporter yang belum sempat hadir yang menonton di rumah. Kami minta maaf atas hasil ini,” ujarnya.
Permintaan maaf tersebut menunjukkan adanya tanggung jawab moral dari para pemain. Namun di sisi lain, hal ini juga menandakan bahwa tekanan psikologis yang mereka hadapi semakin besar. Dalam kondisi seperti ini, setiap pertandingan bukan hanya soal taktik, tetapi juga mental dan keberanian.
Situasi semakin sulit karena jadwal pertandingan yang tersisa tidak berpihak pada PSM. Mereka masih harus menghadapi tim-tim kuat seperti Persib Bandung, Bali United, dan Bhayangkara FC. Ketiga tim ini memiliki kualitas tinggi serta kepentingan besar dalam klasemen, sehingga tidak akan mudah bagi PSM untuk mencuri poin.
Lebih mengkhawatirkan lagi, pada putaran pertama musim ini, PSM gagal mengalahkan ketiga tim tersebut. Catatan ini menjadi indikator bahwa tantangan yang akan dihadapi bukanlah hal yang ringan. Setiap laga kini bisa dianggap sebagai “final”, di mana satu poin saja bisa sangat menentukan nasib mereka di akhir musim.
Namun sebelum menghadapi laga-laga berat tersebut, PSM terlebih dahulu harus menjalani pertandingan krusial melawan Persik Kediri. Laga ini menjadi sangat penting karena bisa menjadi penentu momentum. Kemenangan bukan lagi sekadar target, melainkan keharusan mutlak.
Sayangnya, menjelang pertandingan tersebut, PSM justru dihadapkan pada masalah baru: krisis di lini belakang. Dua bek asing, Aloisio Neto Soares dan Dusan Lagator, diragukan tampil akibat cedera. Sementara Syahrul Lasinari dipastikan absen karena akumulasi kartu.
Padahal, selama ini Aloisio dan Lagator merupakan tandem utama Yuran Fernandes di jantung pertahanan. Kehilangan mereka berarti PSM harus merombak lini belakang secara signifikan. Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi tim pelatih.
Dusan Lagator sendiri mengalami cedera saat melawan Borneo FC dan harus ditarik keluar pada menit 31 babak pertama. Sementara Aloisio masih menjalani latihan terpisah setelah cedera sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, pilihan pemain belakang menjadi sangat terbatas.
Asisten pelatih Ahmad Amiruddin mengakui bahwa timnya harus menunggu laporan medis sebelum menentukan langkah selanjutnya. Ia juga tidak menutup kemungkinan untuk mencari solusi alternatif jika stok pemain benar-benar menipis.
“Kalau medis mengatakan lini belakang kehabisan stok, mau tak mau kita harus cari cara lain atasi hal tersebut. Saya pikir pasti ada solusi,” katanya.
Salah satu opsi yang muncul adalah mengubah skema permainan. Pengamat sepak bola Imran Amirullah menyarankan agar PSM mempertimbangkan perubahan formasi jika tidak memiliki cukup pemain belakang dengan karakter yang sesuai.
“Kalau pakai empat bek, baru tiga tak bisa main dan tak menemukan karakter tepat untuk mengisi, akan susah. Jadi pekerjaan berat,” ujarnya. “Bisa juga ganti skema, tapi harus sesuai juga dengan tipikal pemain di posisi tersebut.”
Nama Akbar Tanjung menjadi salah satu solusi alternatif. Meski berposisi asli sebagai gelandang bertahan, ia cukup berpengalaman bermain sebagai bek. Namun, peran ini tetap membutuhkan adaptasi.
“Tuntutannya Akbar Tanjung cepat menyesuaikan dengan karakter pemain belakang,” jelas Imran.
Dengan segala keterbatasan yang ada, PSM kini berada di persimpangan jalan. Laga melawan Persik Kediri menjadi krusial—bukan hanya untuk meraih tiga poin, tetapi juga untuk menjaga harapan tetap hidup sebelum menghadapi ujian yang lebih berat di laga-laga berikutnya. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan hanya strategi, tetapi juga keberanian untuk melawan tekanan dan membalikkan keadaan.




