Sragen: Sekolah Rakyat merupakan upaya pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu. Dengan biaya gratis, siswa Sekolah Rakyat tidak terbebani biaya dan bisa fokus belajar untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita.
Hal tersebut dirasakan Rafika Nur Khasanah (16 tahun). Setelah ayahnya meninggal dunia dan ibu merantau, Rafika tinggal dengan kakek dan nenek.
Baca Juga :
Dulu Terpaksa Kerja di Bengkel, Hendi Kini Dapat Sekolah Gratis dari PemerintahSelama merantau, Rafika tak pernah dikirimi uang. Kakek dan nenek yang menjaganya tak bisa optimal bekerja karena kondisi fisik yang lemah.
Rafika bercerita kakeknya sudah tidak bisa bekerja karena menderita penyakit gula. Untuk bisa berjalan pun sudah kesulitan. Sedangkan neneknya bekerja sebagai buruh tani sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Saya dikasih uang itu cuma Rp10 ribu karena tidak punya uang,” jelasnya. Sekolah Rakyat sampan yang menyelamatkan Nenek Rafika, Kartini (67 tahun), bersyukur cucunya bisa bersekolah di Sekolah Rakyat. Kartini sudah mengasuh Rafika sejak masih kelas 5 SD.
“Dia itu anak pintar. Rafika bahkan mengurusi kakeknya yang sakit,” kata Kartini haru ditemui di rumahnya di Dusun Gayam, Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen.
Nenek Rafika, Kartini. Foto istimewa
Sekolah Rakyat, bagi Rafika, seperti sampan yang menyelamatkan dia dari risiko tenggelam. Sampan ini pula yang membawa dia untuk bisa menuju cita-citanya.
Di Sekolah Rakyat, Rafika bisa fokus untuk belajar tanpa perlu memikirkan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di Sekolah Rakyat, dia sudah mendapatkan keperluan sekolah seperti alat tulis, seragam, sepatu, sampai kerudung.
Untuk kebutuhan makan pun, Sekolah Rakyat sudah menyediakan. Dia mendapatkan makan tiga kali sehari dan asupan makanan kecil dua kali sehari.
"Karena Sekolah Rakyat, saya bisa melanjutkan sekolah dan dapatkan cita-cita saya,” kata Rafika yang menyenangi pelajaran Seni dan bermimpi pergi ke Jepang suatu saat nanti.
Rafika, siswi kelas 10, ditemui di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen, Jawa Tengah.
Meski ibu telah meninggalkannya, Rafika tak membencinya. Ia justru merasa kangen. Dia ingin tahu kabar ibunya. Andai bisa bertemu lagi dengan ibunya, Rafika justru ingin mencurahkan hatinya.
“Aku ingin menyampaikan kalau aku sayang ibu. Aku cuma punya ibu. Ayah sudah gak ada. Jadi, ibu tolong ngertiin aku,” kata dia.




