Amerika Mulai Terpecah, Perintah Trump Tidak Didengarkan

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden AS Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 6 April 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara tegas melarang penggunaan tool kecerdasan buatan (AI) milik Anthropic. Hal ini bermula dari sikap tegas Anthropic yang tak mau tool AI-nya digunakan untuk mengembangkan senjata otomatis atau memata-matai warga AS.

Anthropic yang tadinya merupakan pemasok tool AI pemerintah AS dengan kontrak jumbo dari Departemen Pertahanan/Perang (Pentagon), akhirnya langsung berbalik menjadi 'musuh'. Trump secara lantang menyebut Anthropic merupakan perusahaan sayap kiri 'woke' yang membahayakan nyawa warga AS.


Bahkan, Pentagon menghantam Anthropic dengan memasukkannya ke 'daftar risiko rantai pasok'. Anthropic yang tak terima dengan status tersebut akhirnya meminta keadilan lewat jalur hukum.

Terlepas dari huru-hara tersebut, Trump hingga kini belum secara formal mencabut larangannya ke Anthropic. Lembaga-lembaga pemerintah AS diminta untuk sama sekali tidak menggunakan tool AI tersebut.

Pilihan Redaksi
  • Kabar Buruk AS untuk Eropa, Kawasan Bisa Kena Masalah Besar
  • Ternyata Trump Tidak Bisa Apa-apa Tanpa Elon Musk, Ini Buktinya
  • Rusia Amati Kelakuan AS-Israel, Warning Serangan Darat ke Iran

Namun, sepertinya terjadi perpecahan di dalam pemerintahan Trump. Lembaga Keamanan Nasional AS (NSA) dilaporkan menggunakan tool AI terbaru Anthropic 'Mythos'. Hal ini mengindikasikan bahwa lembaga tersebut tidak mengindahkan larangan Trump.

Menurut laporan dari Axios, Mythos digunakan secara meluas di dalam operasional NSA, berdasarkan keterangan beberapa sumber. Reuters belum bisa mengonfirmasi laporan tersebut.

Anthropic, NSA, dan Pentagon tidak segera merespons permintaan komentar dari Reuters.

Perlu dicatat, pada pekan lalu, pemerintahan Trump dan CEO Anthropic dikatakan berdiskusi terkait kemitraan keduanya untuk pertama kalinya, setelah ketegangan beberapa saat lalu.

Perbincangan itu dilakukan seiring dengan kekhawatiran yang berkembang terkait model Mythos yang digadang-gadang bisa memicu serangan siber lebih masif.

Mythos adalah "model paling mumpuni yang pernah dibuat perusahaan untuk tugas pengkodean dan agensi," seperti yang pernah dikatakan Anthropic sebelumnya, merujuk pada kemampuan model tersebut untuk bertindak secara otonom.

Kemampuannya untuk melakukan pengkodean pada tingkat tinggi telah memberinya kemampuan yang berpotensi belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengidentifikasi kerentanan keamanan siber dan merancang cara untuk mengeksploitasinya, kata para ahli.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video:Kembangkan AI, Microsoft Akan Investasi Rp 177 Triliun di Jepang

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi Dibuat Kagum Ibu Asal Sukabumi, Tetap Kuat Rawat Anak Kanker Meski Hidup Serba Terbatas
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
103 Unit Hunian Tetap Dibangun di Tapanuli Utara Pascabencana, Warga Direlokasi Mei 2026
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Pesan Wamendagri Akhmad Wiyagus: Tidak Boleh Ada Penyandang Disabilitas Tak Terdata dan Tak Dapat Haknya
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Harga Pangan Mulai Turun Usai Lebaran, Tapi MinyaKita-Cabai Rawit Masih Tinggi
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
4 Pemain Kunci Persib Bandung saat Bertandang ke Markas Dewa United: Hadirkan Mimpi Buruk bagi Tuan Rumah
• 18 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.