Jakarta, VIVA – Kekayaan pemilik LVMH, Bernard Arnault, dilaporkan menyusut tajam seiring penurunan penjualan barang mewah di pasar global saat ketegangan geopolitik belum kunjung berakhir. Kondisi ini memicu koreksi saham LVMH yang turut mengerus kekayaan Arnault.
Perusahaan mencatat pendapatan senilai 19,1 miliar euro atau sekitar US$22,5 miliar pada kuartal I-2026. Nilai ini mencerminkan penyusutan sebesar 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Pertumbuhan organik tetap solid dengan membukukan kenaikan tipis 1 persen. Sayangnya, keuntungan ini tergerus penguatan nilai tukar dolar AS sebesar 7 persen.
Divisi fesyen dan barang kulit sebagai tulang punggung bisnis perusahaan mengalami kontraksi sebesar 2 persen. LVMH menaungi beberapa merek-merek besar seperti Louis Vuitton, Christian Dior, Celine, Givenchy hingga Rimowa.
- plazasenayan.com
Seiring pelemahan kinerja perusahaan fesyen global, saham LVMH anjlok sekitar 26 persen sejak awal tahun 2026. Ini menjadi awal tahun terburuk dalam sejarah perusahaan bahkan lebih dalam dibandingkan krisis keuangan 2008 hingga pandemi COVID-19.
"Konflik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor utama yang menekan penjualan," tulis Manajemen LVMH dikutip dari Forbes pada Senin, 20 April 2026.
Anjloknya harga saham LVMH turut menggerus valuasi perusahaan yang tersisa senilai 238 miliar euro atau sekitar US$269 miliar. Jumlah ini menandai penurunan signifikan dari puncaknya yang sempat menembus valuasi sebesar US$500 miliar pada tahun 2023.
Penurunan harga saham otomatis berdampak langsung pada kekayaan Arnault. Harta bos barang mewah ini menyusut hampir US$50 miliar atau sekitar Rp856,9 triliun (estimasi kurs Rp 17.140 per dolar AS) sehingga Arnault turun dari posisi teratas daftar orang terkaya dunia menurut dara Real-Time Billionaires List Forbes.
Nilai tertinggi kekayaan Arnault sempat mencapai sekitar US$233 miliar sehingga ia beberapa kali menduduki posisi orang terkaya dunia versi Forbes dalam periode 2019 hingga 2024. Kini, pundi-pundi cuan miliknya lenyak sekitar US$151 miliar sehingga harus terdepak ke posisi sembilan jajaran miliarder dunia.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati kinerja emiten barang mewah lainnya. Langkah ini guna melihat arah industri di tengah tekanan geopolitik global yang masih berlanjut.





